Aletta Si Cantik Milik Bad Boy Billioner

Aletta Si Cantik Milik Bad Boy Billioner
Bab 40


__ADS_3

"Aletta."


Dioneel terbangun, dan langsung menarik kembali tangan gadis yang sempat memegangi wajahnya itu dengan tangannya yang kini sudah diobati.


Sementara Aletta, ia terkesiap. Dirinya pikir Dioneel sudah tertidur dengan pulas, akan tetapi nyatanya lelaki tersebut saat ini terbangun dari tidurnya dan mencegah kepergiannya.


Sepertinya tadi, Aletta salah. Seharusnya ia tak begitu banyak berbicara, dan berinteraksi dengan Dioneel. Agar lelaki itu tetap tertidur, dan tidak menyadari keberadaannya di tempat ini.


"Maaf, Dion. Kedatanganku ke sini hanya untuk membersihkan lukamu dan mengobatinya saja, aku hanya disuruh oleh Bu Lily," ucap Aletta dengan sedikit napas yang tercekat, dan berupaya untuk segera pergi dari tempat kamar di mana Dioneel tidur malam ini.


"Tidak, Aletta. Tidak usah berbohong aku dengar segala ucapan yang telah kamu sebutkan tadi," sahut Dioneel yang seketika saja ampuh menahan kepergian Aletta dari tempat tersebut.


Untuk sesaat, Aletta dan Dioneel sempat sama-sama terdiam dengan kedua manik mata yang saling memandang. Pandangan mereka berdua terlihat sama-sama sendu, hingga akhirnya Aletta menarik napasnya terlebih dahulu sebelum kembali berjalan ke arah Dioneel yang masih berada di atas ranjangnya.


"Lebih baik sekarang kau tidur, Dion. Seluruh badanmu pasti sakit-sakit akibat keributan tadi," ucap Aletta dengan memperbaiki selimut lelaki itu, dan menutupi sebagian tubuhnya dengan selimut tipis tersebut.


"Tunggu, Aletta! Aku tidak bisa tertidur, sebelum berbicara denganmu. Aku tidak bisa melihatmu mendiamkan aku seperti ini terus. Kita harus berbicara, Aletta. Aku mohon," ungkap Dioneel yang masih ingin menahan perempuan itu di sisinya itu, dengan tatapan mata yang sangat berharap.


Sementara Aletta, perempuan itu pun langsung dengan cepat mengalihkan pandangannya. Satu jari telunjuknya juga bergerak cepat menyeka sudut matanya yang sudah mulai berair, hingga akhirnya kembali menatap ke arah Dioneel yang sampai saat ini masih memandang ke arahnya.

__ADS_1


"Aku rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi, Dioneel. Bukankah tadi kau bilang sudah mendengar segala ucapanku?" tutur Aletta yang merasa kesal dengan kecerobohannya sendiri.


Saat ini, Aletta jadi kesulitan untuk pergi. Dioneel masih terus memegangi salah satu pergelangan tangannya. Hingga membuat dirinya mau tak mau jadi duduk di tepi ranjang yang tengah ditempati oleh lelaki tersebut.


"Tapi aku janji akan melewati segala cobaan itu, Aletta! Aku tak peduli dengan sebesar apa pun rintangannya, karena aku yakin kita pasti bisa melewatinya jika terus bersama-sama!" kata Dioneel sambil menggenggam erat kedua tangan wanita cantik yang telah sepenuhnya mencuri hatinya tersebut.


Melihat kesungguhan itu, kedua netra Aletta pun mulai berkaca-kaca. Wanita tersebut tak mampu berkata-kata lagi, karena saking terlalu banyaknya pikiran yang ada di dalam benaknya. Hingga akhirnya, tangis yang tadi sudah berupaya untuk ditahannya pun seketika tumpah di saat dirinya merasakan suatu pelukan hangat yang memeluknya dengan sangat erat.


"Aku mencintaimu, Aletta! Aku rasa perasaanmu terhadapku, juga sama seperti yang telah aku rasakan! Kita mempunyai perasaan yang sama, Aletta! Dan dengan modal itu, aku yakin kita akan bisa melewati semua masalah ini bersama-sama!" ucap Dioneel dengan penuh keyakinan, dengan semakin mendekap erat tubuh Aletta yang sedang bergetar karena isak tangisnya.


Untuk saat ini, Aletta memang masih belum bisa menegaskan rasa cintanya pada Dioneel dalam bentuk ucapan secara langsung. Aletta masih butuh waktu untuk menimbang segala konsekuensi yang akan terjadi, jika ia tetap memilih untuk bertahan berada di sisi Dioneel.


Aletta masih mempunyai seorang kakak yang sangat disayanginya. Ia jelas memikirkan hal tersebut, terlebih Arsen mempunyai kenangan yang sangat buruk dengan dunia tempat Dioneel berada.


Walau semuanya terdengar sangat mudah, akan tetapi biar bagaimanapun Aletta paham bahwa itu semua tidaklah akan mudah. Semua rencana Dioneel itu, pasti mempunyai halangan tersendiri yang mungkin saja bisa terjadi di tengah-tengah jalan nanti. Sehingga kini, rasa khawatir akan keselamatan lelaki itu pun kini mulai hadir di hati dan pikiran Aletta.


"Apa kamu benar-benar ingin meninggalkan kehidupanmu dan Death Squad, Dion? Apakah semua itu tidak terlalu bahaya untukmu?"


"Aku yakin dengan keputusanku kali ini, Aletta. Dengan adanya kehadiranmu dan juga kejadian Arsen waktu itu, perlahan-lahan cukup membuatku tersadar. Aku sadar, bahwa selama ini yang aku lakukan hanya dapat membuat orang lain celaka saja," jawab Dioneel dengan sungguh-sungguh, sambil memegangi wajah cantik Aletta dengan kedua tangan kekarnya.

__ADS_1


Mendengar hal tersebut, Aletta pun semakin menangis kencang. Ia tahu ini semua pasti sangatlah berat untuk Dioneel, karena dirinya tahu seberapa cintanya Dioneel dengan kehidupan jalanan dan juga geng yang telah ia bentuk sendiri yaitu Death Squad. Pasti sangat sulit untuk meninggalkan semuanya, terlebih mungkin saja lelaki itu bisa kehilangan semua teman-teman yang sempat sangat mendukungnya.


Jadi, siapa satu-satu penguat bagi Dioneel?


Rasanya saat ini tidak ada orang lain, selain dari diri Aletta sendiri.


Jujur, perempuan itu jadi merasa semakin bersalah karena sempat-sempatnya berpikiran untuk pergi meninggalkan Dioneel sendirian di keadaan yang seperti ini.


"Maaf! Maafkan aku, Dioneel! Maaf, karena aku sempat ingin menyerah denganmu," ucap Aletta yang akhirnya semakin tersedu-sedu, dengan semakin memeluk erat tubuh Dioneel dan menumpahkan tangisannya di depan dada bidang lelaki itu.


Ada rasa sesak, sekaligus bahagia ketika mendengarkannya. Dioneel cukup terharu dengan pengakuan Aletta, sehingga kini untuk sesaat dirinya pun tak bisa berkata-kata lebih banyak selain dari membalas pelukan perempuan itu dan berusaha menenangkannya.


"Dion, maafkan aku karena tadi aku sempat mendiam—"


"Ssttt! Sudah tidak apa-apa, Aletta. Dengan adanya kamu di kamarku ini saja dan mengobati semua luka-lukaku ini aku sudah sangat senang! Aku tahu kalau tadi kamu tidak benar-benar ingin mendiamkanku," potong Dioneel yang langsung mengecup lama dahi perempuan yang sudah sangat disayanginya itu.


Untuk sesaat, Aletta hanya bisa terdiam dan merasakan semua perlakuan bentuk kasih sayang dari Dioneel. Jujur, sebenarnya Aletta memang sudah sangat merindukan hal ini dari lelaki itu. Dioneel memang selalu bisa membuat dirinya nyaman, dan merasa bahagia di dalam satu waktu.


"Aletta, bagaimana kalau malam ini kamu tidur di sini saja? Rasanya semua luka yang ada di tubuhku ini langsung menghilang, jika kamu ada terus disisiku seperti ini," pinta Dioneel sambil mengusap lembut pucuk kepala Aletta dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


"T–tapi, Dion. Bagaimana kalau nanti—"


"Aku tidak akan macam-macam, Aletta. Aku hanya ingin tidur bersamamu, dengan memelukmu seperti ini saja disepanjang malam," potong Dioneel yang seketika saja langsung menarik tubuh Aletta, dan langsung memeluknya selayaknya sedang memeluk bantal guling.


__ADS_2