Aletta Si Cantik Milik Bad Boy Billioner

Aletta Si Cantik Milik Bad Boy Billioner
Bab 39


__ADS_3

"Bagaimana keadaan Arsen, Aletta? Dia tidak apa-apa 'kan?" tanya Dioneel yang memang sedari tadi terlihat sangat mengkhawatirkan keadaan sahabatnya tersebut.


Sementara Aletta, perempuan itu tak langsung menjawabnya. Dengan langkah gontai ia berjalan lurus begitu saja, menjauhi kamar sang kakak agar ucapan Dioneel tadi tak membuat Arsen terbangun dan membuat kakaknya itu kembali mengamuk.


Sebenarnya salah satu pergelangan kaki Aletta saat ini masih terasa sangat sakit, akan tetapi sayangnya berbagai hal yang telah terjadi malam ini jauh lebih sakit dari yang kakinya rasakan.


Kacau!


Semuanya benar-benar kacau, terlebih tadi Arsen sempat mengamuk ketakutan. Situasinya tadi sempat sangat kalut, hingga akhirnya Axel pergi melarikan diri setelah Bu Lily berpura-pura berbicara seolah ada polisi yang ingin datang.


Sehingga setelah itu, Arsen langsung Bu Lily dan Aletta tenangkan. Butuh waktu yang sangat lama untuk melakukan, hingga akhirnya berhasil membuat pria itu memakan obat penenangnya dan tertidur.


"Aletta, maafkan aku. Aku tahu ini semua karena diriku juga, akan tetapi tolong jangan terus diamkan aku seperti ini. Aku tidak bisa, Aletta," ucap Dioneel memohon, sambil meraih salah satu pergelangan tangan perempuan yang dicintainya itu dengan tangannya tak tak terluka.


Melihat sikap Dioneel yang seperti ini, akhirnya Aletta pun hanya bisa menghela napasnya pelan. Ia melirik sekilas ke arah luar, di mana tempat semua kekacauan yang tadi sempat terjadi kini sudah kembali terlihat rapi setelah berhasil dirapikan oleh Dioneel sendiri.


Ya, pria itu pasti membereskannya tadi di saat Aletta dan Bu Lily sedang sibuk mengurus Arsen di dalam. Sehingga sekarang, semua letak barang-barang sudah kembali ke tempatnya yang semula. Walaupun nyatanya, ada beberapa barang seperti kursi yang berlekuk, dan juga gelas atau piring yang pecah.


"Aletta, aku—"


"Lebih baik sekarang kamu masuk ke kamar, Dion. Pasti seluruh tubuhmu sudah sangat letih karena keributan tadi," potong Aletta dengan pelan, seraya langsung pergi ke arah dapur.

__ADS_1


Dioneel yang melihat sikap Aletta yang seperti ini pun seketika langsung mengusap gusar wajahnya. Ia sangat kesal dengan dirinya sendiri, karena dengan keributannya tadi bersama Axel malah membuat Aletta menjadi marah dan menjauhi dirinya.


"Astaga, kalau seperti ini bagaimana caraku untuk membujuk Aletta? Dia pasti sedang marah sekali dan kecewa padaku, karena aku sudah membuat keributan di tempat restoran barunya dan juga membuat beberapa kerusakan di tempat ini. Ck! Ini semua karena Axel! Kalau makhluk itu tidak ada, pasti semua ini tidak akan terjadi!" batin Dioneel kesal, seraya membalikkan langkahnya ke arah sebuah kamar yang sudah disiapkan khusus oleh Aletta untuknya.


"Maafkan aku Dioneel, aku hanya ... Aku hanya tidak tahu harus berbuat apa saat ini," batin Aletta yang ternyata masih terus memperhatikan Dioneel dari kejauhan.


Melihat kakaknya yang mengamuk seperti tadi, justru semakin membuat Aletta berpikir dua kali untuk dekat kembali dengan Dioneel. Ia jadi semakin takut kalau ada hal yang semakin membahayakan nanti, apa lagi tadi Axel sudah mengetahui keberadaan sang kakak yang selama ini sudah benar-benar disembunyikannya.


"Aletta?" tegur Bu Lily yang tiba-tiba saja sudah berdiri di belakang anak muda tersebut.


Aletta terkejut hingga langsung refleks menyuruh Bu Lily untuk mengecilkan suaranya, dan untung saja saat ini Dioneel tak mendengar ucapan perempuan itu karena sudah masuk ke dalam kamarnya lebih dahulu.


Mendengar penjelasan itu, Bu Lily pun tersenyum. Perempuan yang sudah menganggap Aletta sebagai anak perempuannya itu menggerakkan tangannya menyentuh bahu Aletta, hingga akhirnya mengusap sesaat untuk memberikan sedikit kekuatan di sana.


"Dia tidak salah apa-apa, Aletta," tutur Bu Lily singkat dengan senyumnya, hingga perlahan-lahan membuat Aletta mendongakkan kepalanya.


Kedua netra yang nampak sendu itu terlihat mengerjap beberapa saat, dengan otak yang berusaha mencerna perkataan singkat Bu Lily tersebut. Hingga akhirnya, Bu Lily menyerahkan satu kotak pengobatan pada kedua tangan Aletta.


"Untuk apa ini, Bu?" tanya Aletta yang memang tak tahu apa-apa.


"Tadi sebelum membantumu menenangkan Arsen di kamar, Dioneel sempat datang kepadaku. Dia meminta obat merah dan juga kapas untuk membersihkan lukanya, akan tetapi sayangnya tadi aku belum sempat mencarikannya dan memberikan kepadanya secara langsung," jawab Bu Lily dengan mengusap salah satu pipi Aletta sesaat, sebelum akhirnya perempuan itu melangkah pergi masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


Aletta yang melihat kepergian Bu Lily pun, seketika merasa hatinya sesak. Ia sampai lupa kalau pria yang belakangan ini selalu menghantui pikirannya tersebut sempat berkelahi hebat dengan Axel, hingga belum sempat menanyakan bagaimana kondisinya saat ini.


Walau Dioneel adalah ketua geng motor yang amat ditakuti oleh orang-orang, akan tetapi biar bagaimanapun pria itu tetaplah manusia biasa. Pasti ada sebuah luka atau goresan yang dialami oleh Dioneel, meski pria itu tak langsung menyampaikan ke orang lain secara terang-terangan tentang luka yang dialaminya.


Klekkk!


Sebuah suara derit pintu terdengar pelan, hingga membuat pintu yang tadinya sudah tertutup rapat kini menjadi sedikit terbuka. Untung saja saat ini Dioneel tak mengunci kamarnya, sehingga Aletta bisa mengintip terlebih dahulu ke arah kamar tersebut sebelum akhirnya memutuskan untuk benar-benar masuk ke dalamnya.


"Hufftt! Syukurlah, kalau sekarang dia sudah tertidur pulas. Dioneel pasti sangat letih sekali, karena segala hal tadi," gumam Aletta dengan menyorot penuh iba, pada seorang pria yang sudah tertidur dengan tubuh yang ditutupi oleh sebuah selimut tipis.


Tanpa menunggu waktu yang lama lagi, akhirnya Aletta pun memutuskan untuk mendekatkan. Perempuan itu menyempatkan diri untuk menutup pintu yang telah dibukanya tersebut terlebih dahulu, sampai akhirnya sesaat kemudian ia berhasil duduk di tepi ranjang Dioneel dan memperhatikan saksama setiap bagian tubuh pria itu.


"Di wajahnya, ada sedikit luka lebam. Kasihan, Dioneel," gumam Aletta pelan, seraya mengusap lembut wajah tampan seorang Dioneel tersebut.


Untuk saat ini, Aletta memang benar-benar memasang kedua matanya. Ia memperhatikan betul-betul di setiap kali ada luka kecil, atau pun goresan pendek yang ada di tubuh Dioneel. Hingga akhirnya setelah lama mencari, dirinya berhasil menemukan sebuah luka yang cukup lebar di salah satu pergelangan tangannya.


"Astaga, kenapa luka sebesar ini bisa dia biarkan begitu saja? Pasti tadi Dioneel sangat kesakitan sekali, apa lagi tadi dia sempat membereskan semua kekacauan terlebih dahulu," batin Aletta dengan hari yang kian merasa perih.


Dengan penuh hati-hati, akhirnya Aletta pun mulai membersihkan luka besar yang ada di sekitar pergelangan tangan Dioneel itu. Aletta benar-benar sangat telaten membersihkannya, hingga tak membuat tidur Dioneel terganggu. Sampai akhirnya setelah semuanya selesai, ia pun mulai meneteskan obat merah ke arah luka itu dengan penuh hati-hati.


"Kenapa ada banyak sekali cobaan yang menerpa kita berdua, Dion? Apa ini tandanya cinta kita tidak akan pernah direstui oleh keadaan?" gumam Aletta pelan, seraya mengecup singkat pipi kanan pria yang sempat sangat dibencinya tersebut.

__ADS_1


__ADS_2