
BAB 28
“Hey,tunggu dulu!” teriak Dioneel sambil bergegas mengejar Aletta yang sudah berada ditepi jalan.
Aletta tak menggubrisnya. Dia merasakan kekesalan yang memuncak dalam dirinya ketika ia melihat sikap Dioneel dan Kenzi yang berebutan untuk mengantarkannya.
Sebagai seorang wanita mandiri yang tidak suka bergantung pada orang lain, ia merasa bahwa perlakuan mereka hanya mengurangi rasa percaya dirinya. Oleh karena itu, Aletta dengan tegas memutuskan untuk menyelesaikan masalah ini dengan caranya sendiri.
Tanpa ragu, Aletta menyetop taksi yang melintas di depannya. Dia masuk dan memberitahu sopir taksi tentang tujuannya yang ingin menuju ke tempat kerjanya. Aletta merasa lega ketika taksi itu melaju pergi tanpa ada pertikaian lebih lanjut antara Dioneel dan Kenzi.
Sementara itu, Dioneel dan Kenzi terpaku dan terdiam saat melihat Aletta berangkat begitu saja. Mereka saling menatap dengan tatapan melongo, tidak dapat memahami mengapa Aletta begitu marah dan memilih untuk pergi tanpa mereka. Mereka merasa kesal satu sama lain, mencari-cari siapa yang lebih bertanggung jawab atas kejadian ini.
“Ini gara-gara kamu! Aletta jadi marah kan!” Dioneel merasa bahwa dia telah berusaha keras untuk mengatur waktu sehingga bisa mengantarkan Aletta dengan tepat waktu dan gegara Kenzi smeuanya berantakan.
“Kok nyalahin aku?” jawab Kenzi sambil melangkah masuk ke dalam mobilnya. Di sisi lain hatinya, Kenzi merasa marah pada Dioneel karena ia merasa bahwa sahabatnya itu terlalu protektif dan memperlakukan Aletta seolah-olah dia tidak mampu melakukan apapun sendiri. Kenzi berpikir bahwa dia juga bisa menjadi pendamping yang baik bagi Aletta dan merasa bahwa Dioneel tidak boleh menjadi satu-satunya pilihan.
Kenzipun beralu pergi, sementara Dioneel masih terpaku di sebelah mobilnya. Dengan pikiran yang lebih jernih, dan dia kemudian melangkah masuk kembali hendak menemui Arsen.
“Kalian kenapa?” tanya Arsen membuyarkan lamunan Dioneel.
“Siapa? Aku? I am fine Bro,” jawab Dioneel.
Arsen tersenyum, baginya melihat pemandangan tadi cukup membuatnya terhibur. Arsen pun sangat senang karena kini Aletta- adik kesayangannya itu sudah besar untuk bisa memutuskan apapun yang baikuntuknya.
Sementara Arsen dan Dioneel kini sibuk berbincang mengenai motor, Aletta telah sampai di halaman tempat kerjanya. Sebagai seorang sales executive di showroom tersebut, Aletta bertanggung jawab untuk memastikan bahwa mobil-mobil terbaru dan paling menarik selalu hadir di galeri display utama showroom.
Saat ia tiba di lokasi, suasana di showroom tampak sibuk dan bersemangat. Aletta dengan cepat menyadari bahwa ada sebuah kontainer yang sedang menurunkan muatan mobil-mobil seri terbaru yang baru saja tiba. Ia merasa gembira karena tahu bahwa mobil-mobil ini akan menjadi daya tarik utama dalam menarik perhatian calon pembeli.
__ADS_1
“Ini akan menambah koleksi terbaru kita bulan ini,” gumam Aletta sambil mengambil beberapa foto dari mobil-mobil yang masih berada di dalam truk container itu lalumengunggahnya ke laman media sosial promosinya.
Namun, di tengah kehebohan itu, manajer baru yang agak cerewet, bernama Rudi, memperhatikan kehadiran Aletta dan segera menghampirinya. Dengan senyuman sinisnya, Rudi berkata, "Hai Aletta, aku yakin kamu pasti sudah tidak sabar untuk melihat mobil-mobil yang baru tiba. Apakah kamu yakin bisa menjualnya? Karena menurutku, kamu belum pernah berhasil menjual mobil merek itu sebelumnya."
“Pak, Anda bisa melihatnya nanti ya,” jawab Aletta yang merasa agak tersinggung dengan komentar Rudi, namun ia tidak membiarkan hal itu mengganggu semangatnya. Ia tahu bahwa pekerjaan sebagai sales executive tidaklah mudah, terutama ketika harus berurusan dengan merek mobil mewah yang cukup mahal harganya.
“Tenang saja, bukankah kekasihmu pasti akan mau membeli satu atau beberapa untuk memuluskan targetmu?” ucap Sintia terdengar sangat sinis.
Dengan tenang, Aletta menjawab, "Maafkan aku jikamengecewakanmu Sintia, tapi… aku bahkan tidak pernah menawarkan produk di sini kepadanya. Dia sudah memiliki banyak mobil, aku bahkan akan melarangnya jika dia akan membuang-buang uang seperti itu,”sahut Aletta sambil tetap tenang merapihkan brosur terbaru yang diberikan kepadanya dari salah satu staf delivery.
“Aku tidak minta banyak, Boss besar mengatakan jika komisi sales kita kali ini adalah 10% dari harga unitnya. Bukankah itu seharusnya membuat kalian bersemangat?” ucap Rudi lagi.
Aletta mengangguk, sementara Sintia terlihat bingung.
“Setiap merek mobil memiliki keunikan dan target pasar yang berbeda. Dan koleksi ini adalah type terbaru, semoga saja memang bisa menjadi daya tarik yang bagus,” ucap Aletta.
Di tempat yang terpisah, asisten kepercayaan Dioneel tengah menyiapkan sejumlah laporan bisnis untuk pria itu.
“Apakah putraku belum juga kembali?” tanya Davin kepada asistennya Dioneel tersebut.
“Tuan Davin, maaf … tapi Tuan Muda Dioneel memang hanya akan datang pada jam makan siang saja.” ucap sang asisten.
Davin merengut kesal.
“Apakah semua bisnisnya lancar?” tanya Davin kemudian.
“Lancar dan bisa saya sampaikan jika sangat lancar,” papar sang asisten Dioneel tersebut kepada Davin.
__ADS_1
“Baguslah, aku harap dia akan segera dewasa, dan mulai menyadari jika dia sangat dibutuhkan di perusahaan,” ucap Davin penuh harap.
“Saya mengerti Tuan, belakangan ini perubahan terjadi pada Tuan Muda Dioneel. Beliau sudah mulai melakukan meeting dengan beberapa anak perusahaan yang bermasalah,” ucap asisten bernama Daffa tersebut kepada Davin.
Davin duduk di ruang kerja putranya yang berantakan. Dia merapikan beberapa barang yang tergeletak di atas meja sambil mengamati ruangan dengan perasaan waspada. Saat tiba-tiba, pandangannya terpaku pada sesuatu yang terlihat mencurigakan di bawah sofa. Dia membungkuk untuk melihat lebih dekat dan menemukan selembar foto yang tercecer.
Dengan hati yang berdebar, Davin mengambil foto tersebut dan melihat gambar seorang wanita yang tidak dikenalnya. Wanita itu memiliki rambut panjang berombak, mata yang cerah, dan senyum yang ramah. Dia terlihat sangat cantik. Davin merasa kebingungan dan penasaran siapa wanita tersebut dan bagaimana fotonya bisa berakhir di ruangan putranya.
Davin merasa perlu mencari tahu tentang identitas wanita di foto tersebut. Dia memutuskan untuk meminta bantuan dari seseorang yang dapat membantunya dalam penyelidikan ini. Dia memilih untuk menghubungi seorang detektif swasta yang dikenalnya, bernama Ethan.
Dengan penuh kecemasan, Davin mengambil ponselnya dan menekan nomor Ethan. Setelah beberapa kali berdering, akhirnya Ethan menjawab panggilan itu.
"Halo, ini Ethan. Ada yang bisa saya bantu?"
"Ethan. Ini aku. Aku memilikipekerjaan untukmu. Cari tahu seorang wanita yang ada di foto. Aku tidak tahu siapa dia dan bagaimana fotonya bisa berakhir di sana. Bisakah kamu mencaritahu identitasnya?"
"Tentu saja, Boss. Aku akan menyelidikinya untukmu. Kirimkan foto tersebut padaku dan ceritakan segala detail yang kamu tahu tentang keberadaan fotonya."
Davin segera mengirimkan foto wanita tersebut kepada Ethan melalui pesan. Dia juga menceritakan tentang kondisi ruangan putranya dan bagaimana dia menemukan fotonya yang tercecer di bawah sofa.
"Aku akan segera memulai penyelidikan. Aku akan mencari tahu siapa wanita ini dan bagaimana hubungannya dengan putramu. Apakah ada hal lain yang ingin tahu lagi?"
"Tidak ada yang lain yang aku tahu. Tapi, tolong segera beri tahu aku begitu kamu menemukan informasi apa pun. Ah ya, alamatnya jangan lupakau cari tahu juga."
"Tentu saja, Boss. Aku akan bekerja secepat mungkin untuk mencari tahu lebih lanjut. Aku akan menghubungimu segera setelah aku mendapatkan informasi yang relevan."
Setelah berbicara dengan Ethan, Davin merasa sedikit lega. Dia tahu bahwa dia telah mengambil langkah yang tepat untuk mengatasi masalah ini. Namun, dia masih merasa gelisah dan tidak sabar untuk mengetahui siapa wanita misterius itu dan apa hubungannya dengan putranya.
__ADS_1