
Bab 6
"Kau benar-benar sangat lucu Aletta!" ucap Dioneel seraya mencubit gemas hidung mancung gadis berparas cantik itu.
Andai saja tadi Aletta tak ketakutan, sudah pasti Dioneel akan mencuri sebuah kecupan dari bibir manis yang mempunyai warna merah alami itu.
"A–aku ...."
Entah apa yang ingin Aletta katakan saat ini. Dirinya benar-benar tak bisa berpikir dengan jernih, karena sekarang wajah tampan Dioneel benar-benar memenuhi pandangannya.
"Sudah tidak usah takut, Aletta! Lagi pula, tidak ada larangan untuk suka kepadaku. Aku tidak akan meminta bayaran, jika kau benar-benar menyukaiku!" ucap Dioneel dengan kembali mengacak gemas pucuk rambut gadis yang sempat menabrak mobil beberapa waktu yang lalu itu.
Kalau Aletta benar-benar suka dengannya, bukankah itu sebuah keuntungan untuk Dioneel?
Ya, tentu Dioneel sangat mengharapkan agar hal tersebut bisa segera menjadi kenyataan!
Hingga setelahnya, Dioneel pun mulai beranjak menjauh. Ia tak lagi berada tepat di hadapan Aletta, karena tengah berusaha memakai kembali jaket yang sempat dilepaskannya beberapa saat yang lalu.
"K–kau, mau kembali ke sana?" tanya Aletta dengan masih terbata-bata.
"Iya! Aku sudah terlanjur janji, dan pantang bagiku untuk mengingkarinya!" jawabnya dengan sangat sungguh-sungguh.
Sesaat Aletta terdiam, sambil berupaya menelan ludahnya bulat-bulat. Masih ada rasa takut yang menggelayut di dalam hati dan pikirannya, karena tak mudah baginya untuk menghilangkan kenangan buruk itu.
"Kalau kau ingin di sini, di sini saja. Jangan keluar, sebelum aku kembali!" seru Dioneel yang sudah siap.
"Ta–tapi ... Aku juga takut sendirian di sini. Bagaimana jika ada yang menggangguku?" Kedua netra Aletta membulat lucu, layaknya anak kucing.
Lagi-lagi, Dioneel merasa gemas hanya dengan menatapnya!
"Bagaimana kalau kau menonton dari sini saja?" tanya Aletta yang terus berusaha membuat Dioneel tak menjauh dari jangkauannya.
"Ck! Kalau seperti itu, bagaimana caranya melihat temanku balapan? Sudah jangan semakin mengada-ngada, Aletta! Aku mengajakmu ke sini untuk menemaniku, bukan untuk menemani dirimu!"
__ADS_1
Walau sempat gemas, akhirnya Dioneel merasa kesal juga. Biar bagaimanapun, kesabarannya belum setebal buku kamus atau pun buku sejarah. Ia masih mau mendukung temannya yang sebentar lagi akan balapan, tanpa mau repot-repot menghadapi ketakutan Aletta yang semakin berlebihan.
"Ya sudah, aku mau ikut!" putus Aletta akhirnya, setelah sempat dilanda oleh kegusaran yang cukup berat.
"Nah gitu dong berani, bukan penakut! Itu baru cewek gue!"
Belum apa-apa, Dioneel kembali bertingkah menyebalkan. Aletta sebenarnya bukan penakut, akan tetapi hanya tidak mau terus terbayang-bayang dengan masa lalu saja.
Hingga setelahnya, Dioneel pun langsung melepas jaket yang sempat dikenakannya. Ia membiarkan miliknya itu digunakan oleh Aletta, karena tidak ingin membuat perempuan tersebut kedinginan terkena angin malam.
"Thanks, Dion!" ucap Aletta yang berusaha untuk menahan senyumannya.
Tidak, Aletta tidak boleh terbawa perasaan! Aletta tidak mau bermain lebih jauh dengan pria pemaksa itu, karena dirinya masih mau hidup dengan tenang.
"Sama-sama, Sayang!" ucap Dioneel yang langsung mengajak Aletta masuk dalam kerumunan penonton dan menyapa satu per satu teman-teman geng motornya yang ada di sana.
Death Squad namanya!
Death Squad adalah salah satu geng motor yang paling ditakuti banyak orang di kota ini. Sekali saja berurusan dengan salah satu anggotanya, sudah bisa dipastikan hidupnya akan sengsara. Mereka semua terkenal tak mempunyai belas kasihan, terlebih dengan para musuh-musuhnya yang ada di jalanan.
"Hahaha! Iya nih, bawa cewek cantik lagi!" timpal yang lainnya dengan tersenyum penuh menggoda ke arah Aletta.
Siapa yang tidak tertarik dengan wajah cantik yang dimiliki Aletta?
Bahkan bukan hanya teman-temannya Dioneel saja yang tengah memandangi paras cantik itu, akan tetapi hampir seluruh penonton yang melihatnya juga ikut terpaku menatapnya.
"Jaga pandangan lo, Vin! Dia cewek gue!" geram Dioneel tertahan, dengan melayangkan tatapan tajam pada salah satu anggota geng motornya yang terkenal dengan sifat playboy tersebut.
"Hehehe! Sorry, Dion! Sumpah gue enggak ada niat untuk macem-macem kok, gue cuma sedang mengagumi kecantikannya!" timpal Kevin yang kini merangkul sahabatnya itu.
"Eh, udah. Nanti malah jadi ribut! Mumpung sekarang kita sudah lengkap, lebih baik sekarang kita segera kasih uang taruhannya Joker!" ucap Javas yang langsung mengarahkan teman-temannya menemui seseorang yang dipercaya untuk memegang uang taruhan.
Tujuan awal Dioneel, Javas, dan Kevin ke tempat balapan liar ini adalah memang untuk mendukung Pietro yang sudah siap di garis start. Mereka berempat adalah para anggota Death Squad yang dipertemukan dalam latar belakang berbeda-beda, dan mempunyai satu tujuan yang sama. Yaitu menguasai jalanan!
__ADS_1
"Wow! Death Squad! Biar gue tebak, pasti kalian mau dukung Pietro bukan?" sapa pria yang memiliki nama panggilan Joker tersebut.
"Ck! Enggak usah ditanya lagi! Pietro itu Death Squad, jadi sampai kapan pun kita akan dukung dia!" balas Dioneel dengan dinginnya, yang semakin menambah aura kejamnya.
"Ya, ya! Dari awal gue memang salut sama Death Squad! Kebersamaan kalian, enggak ada yang bisa menandingi!" tutur Joker yang sedetik kemudian langsung menerima puluhan lembar uang seratus ribu dari tangan Dioneel, Javas, dan Kevin.
Aletta yang menyaksikan semua itu, kini benar-benar dibuat terkejut. Ia tak menyangka, jika Dioneel dan para teman-temannya akan begitu mudah menyerah uang yang sangat banyak tersebut hanya demi sebuah taruhan.
Menurutnya, ini benar-benar gila! Uang benar-benar seperti mainan, bagi mereka semua!
"Oke! Seperti perjanjian awal, uang ini akan kembali ke tangan kalian kalau Pietro menang! Selamat menikmati acara balapan!" ucap Joker sambil mengibaskan tumpukan uang yang ada di tangannya, dan berjalan menjauh begitu saja.
Setelahnya, Dioneel bersama para anggota Death Squad pun duduk di barisan paling depan. Tak lupa juga Dioneel selalu merangkul bahu Aletta dengan mesra, hingga sesekali mengecek kondisinya.
"Sudah tidak takut 'kan?" tanya lelaki itu memastikan.
"Aku sedang berusaha menahannya! Tidak bisakah acara ini cepat selesai?" ucap Aletta yang sebenarnya sudah mulai keringat dingin.
"Sabar, Sayang! Kita hanya perlu menunggu sebentar lagi. Sepertinya anak-anak Black Moon buta dalam melihat jam, sehingga mereka semua tidak bisa datang tepat wak—"
"Kata siapa Black Moon belum datang?" potong seorang berjaket hitam, sambil melepas topi yang sempat menutupi sebagian wajahnya.
Pria itu adalah Axel! Ketua Black Moon, yang terkenal sebagai salah satu musuh bebuyutannya Death Squad!
"Gue baru aja ngasih uang taruhan ke Joker! Boleh gue duduk di sini? Atau lebih tepatnya duduk di samping cewek cantik ini?" tanya Axel yang nampaknya sengaja memancing amarah Dioneel dan teman-temannya.
Tatapannya benar-benar provokatif, di mana hal tersebut seketika saja mampu mendatangkan suasana yang cukup panas.
Tahu sebagai bahan percakapan utama, Aletta pun segera berdiri di belakang punggung Dioneel. Ia menggenggam erat tangan lelaki itu, sambil berusaha melawan rasa takutnya yang semakin menjadi-jadi.
"Boleh, tapi setelah lo mati dulu!" desis Dioneel dengan sungguh-sungguh, hingga membuat siapa pun yang mendengarnya menjadi merinding.
"Hahaha! Dari dulu lo memang enggak bisa diajak bercanda, Dion! Hidup lo terlalu kaku! Siap-siap aja untuk ditinggal sama cewek cantik lo ini, gue yakin dia enggak bakal tahan lama lama di dekat sama l—"
__ADS_1
Bughh!
"Brengsek!"