
*Bab 19*
Rencana Dioneel untuk menggaet Axel dalam membuka tabut misteri tentang Arsen pun mulai terbuka perlahan-lahan. Pria itu mulai menyadari siapa pemilik peraturan bodoh dalam kejadian penganiayaan beberapa tahun yang lalu itu.
Selain itu, Raline pun bersedia membantu mereka dengan senang hati. Kalau dipikir-pikir, banyak pihak yang cukup membuat Dioneel puas. Hanya satu nama yang saat ini mengganjal di hatinya.
Kenzie Orlando, sosok pria yang berteman baik dengan Aletta dan sialnya dipercaya oleh gadis itu untuk menjadi pengacara untuk kasus ini.
Aletta belum memperkenalkan Kenzie kepada Dioneel. Namun pagi ini, Aletta baru saja mengirimkan pesan kepada Dioneel yang mengatakan kalau dia ingin memperkenalkan Kenzie kepadanya.
"Kenapa harus seorang Kenzie? Tidak bisakah pria lain atau pakai saja pengacaraku? Aarrggh, Aletta! Selalu membuatku kesal!" tukas Dioneel bermonolog.
Akhirnya karena dia sangat mencintai gadis yang membuat hidupnya terasa manis itu, Dioneel pun dengan amat sangat terpaksa menemui Kenzie Orlando dan Aletta.
Setibanya di tempat pertemuan mereka, hati Dioneel entah mengala terasa panas. Pria itu melihat Aletta sedang asik bercengkerama dengan seorang pria yang menurutnya tidak lebih tampan darinya dan mereka berdua terlihat akrab sekali.
"Hei, Aletta," sapa Dioneel dingin.
Aletta pun menoleh dan memperkenalkan Dioneel dengan teman baiknya yang berprofesi sebagai pengacara itu. ",Ini temanku yang kuceritakan waktu itu. Kenzie ini Dioneel, dia temanku,"
Dioneel menggertakan giginya. "Teman?" kemudian, dia membalas uluran tangan Kenzie dan mencengkeramnya erat. "Sudah paham dengan kasusnya?"
Kenzie mengangguk. "Tentu saja sudah. Untuk sementara ini aku akan menetapkan Anda sebagai terdakwa, begitu pula dengan Axel. Apa ada nama lain?"
"Max. Dia membelot dari geng Black Moon yang diketuai oleh Axel dan membentuk kelompok sendiri. Aku punya firasat, dia dalang di balik semua ini," kata Dioneel dengan wajah serius.
Pernyataan Dioneel tersebut membuat Aletta bingung. "Max? Pria yang menculikku? Bukankah katamu, kau melihat Axel yang memukuli kakakku? Mana yang benar?"
__ADS_1
Kedua tangan Dioneel dan Kenzie bergerak bersamaan untuk meraih tangan Aletta. Namun Kenzie lebih cepat dan dia menggenggam tangan gadis itu, berusaha untuk membuat Aleta tetap tenang. "Tenanglah, kita akan selidiki sampai tuntas,"
Aletta mengganggukan kepalanya. Dia tidak ingin targetnya itu salah sasaran. Dari cerita Dioneel saat itu, Axellah yang menjadi pelaku pemukulan terhadap kakaknya. Namun sekarang, Dioneel bercerita bahwa Max yang berada di balik pemukulan kakaknya tersebut. Mana yang benar? "Dioneel, ingatlah semuanya dengan baik. Karena aku tidak ingin kita salah tangkap,"
"Aku mengerti. Aku hanya menduga-duga. Maafkan aku," ucap Dioneel pasrah.
Pertemuan itu pun berjalan dengan sedikit tersendat karena Dioneel tetap bersikeras bahwa Max lah yang menjadi dalang aksi penganiayaan terhadap Arsen.
Akhirnya, Kenzie memutuskan untuk mengutus tim-nya untuk bergerak mencari tau tentang Axel dan Max. Aletta pun menjadi kesal kepada Dioneel. "Ada apa denganmu? Sepertinya kau yakin sekali kalau Axel tidak bersalah," kata Aletta. "padahal sejak awal kau bercerita kau mengatakan kalau kau melihat Axel yang memukul kakakku tapi sekarang, kau membalikkan semua fakta itu,"
"Memang Axel yang memukul Arsen, tapi aku ingin Max juga terjerat hukuman karena aku yakin dia ada hubungannya dengan ini semua," balas Dioneel bersikeras.
"Ck! Selidiki dahulu semuanya, setelah itu kita akan adakan pertemuan lagi bersama Kenzie!" ucap Aletta kesal.
Dioneel tau mengapa Aletta kesal padanya. Hari itu, dia tidak bersikap profesional sebagaimana mestinya. Ya, Dioneel cemburu. Dia tidak suka melihat kedekatan Aletta dengan Kenzie. Maka, dia hanya mengangguk dan berjanji dalam hati untuk fokus pada masalah Arsen ini. Dia tidak akan membiarkan Aletta berjalan sendirian.
"Bro," sapa Dioneel begitu sampai di markas Black Moon.
Axel sudah berkumpul bersama beberapa orang anggotanya. Dioneel memandangi mereka satu per satu hanya untuk mengingat siapa saja yang ada di tempat kejadian perkara. Kemudian dia tersenyum simpul.
"Hei, Bro! Sehat? Gue denger lo udah ketemu sama pengacara? Gimana? Gimana?" tanya Axel sambil menepuk lengan atas Dioneel yang cukup kekar.
Dioneel sudah menduga bahwa Axel ingin berlindung padanya sekaligus ingin cuci tangan dari kasus pemukulan itu. Sayangnya, Dioneel tidak bodoh. Dia sudah menyiapkan cara supaya Axel menyerahkan diri dan mengakui perbuatannya.
"Pengacara dari pihak keluarga Arsen, Bro. Basic questions-lah. Gue di mana saat malam itu, lagi ngapain, sama siapa aja. Gitu-gitu lah, nyari alibi," jawab Dioneel santai.
Berbeda dengan Dioneel, wajah Axel tidak dapat dikatakan santai. Raut mukanya tampak panik dan ketakutan. "Lo ngga nyebut nama gue, 'kan, Bro?"
__ADS_1
Dioneel menyeringai lebar. Pertama, dia harus mendapatkan kepercayaan dari musuhnya terlebih dahulu. "Santai, Bro. Penyidiknya belum nanya sampe situ. Kata lo, Max yang ngatur semuanya, 'kan? Mumpung belum nanya ke sana, enaknya kita cari bukti dulu, Bro, untuk nguatin alibi,"
Serta merta, Axel mengangguk setuju. "Lo bener, Bro. Gue harus cari bukti kalo malam itu, bukan gue yang mukulin Arsen,"
Dioneel bersedekap dan mengerutkan keningnya. Muncul sebuah ide di benaknya, dia mengeluarkan ponsel pintarnya dan menekan tombol rekam tanpa sepengetahuan Axel.
"Ehem! Tapi, sebenarnya yang mukulin Arsen itu lo atau Max? Sumpah, gue ngga inget. Waktu itu gue dipegangin sama temen lo yang ini sama ini, niy! Anjirr banget! Kalo kita ngga temenan gini, udah gue bales lo semua!" tukas Dioneel, dia memasang mimik wajah kesal yang cukup meyakinkan.
Axel yang sedang asik dengan pikirannya sendiri pun menjawab tanpa ragu. "Gue! Peraturannya, 'kan gitu! Pemain barteran yang kalah akan menerima hukuman sesuai dengan peraturan yang berlaku dan hukumannya juga bebas. Terus ya udah, awalnya nggak beneran gue mukulnya, tapi lama-lama, nggak tahulah kayak ada setan gitu yang dorong gua untuk terus mukulin Arsen nggak berhenti-berhenti,"
"Wah, lo gila juga, yah! Maksud gue, lo bisa-bisanya mukul orang cuma karena iseng," Dioneel berdecak.
"Tapi ngga sampe mati, 'kan? Kalo si Arsen mati, baru gue nyerahin diri," kata Axel lagi seolah-olah tanpa beban.
Dioneel mulai mencoba untuk menggali lebih dalam lagi. "Kalo Max?"
Axel memasang wajah malas. "Max itu awalnya dia cuma kacung gue, Bro! Sok-sokan aja dia mau membelot, dobrak semua peraturan yang gue bikin da-, ...."
"Peraturan itu lo yang bikin?" tanya Dioneel tersenyum dalam hati. Kini dia mendapatkan sebuah bukti baru.
"Iyalah! Gue sama Max, sih," jawab Axel. "Eh, tapi lo jangan ngomong ke luar! Just the two of us aja yang tau,"
Dioneel mengangguk. "Pasti, Bro! Di geng gue juga ada yang nyebelin, kok,"
Merasa bukti yang dia kantongi sudah cukup, Dioneel pun berpamitan dan meninggalkan markas besar Black Moon. Di perjalanan dia mengirimkan bukti rekaman percakapan itu kepada Aletta.
"Tolong forward ke Kenzie, karena langsung mau aku hapus dari fileku. Aku akan terus mencari kebenaran. Tunggu aku, Aletta," kata Dioneel dalam pesannya kepada Aletta.
__ADS_1
***