
Ah kenapa lagi - lagi aku terbangun pada malam hari karena kelaparan, bukannya pagi saja. Menyebalkan sekali perutku!
"Krukk..krukk..." Suara itu terdengar beberapa kali dari perutku. Bagaimana ini? Bahkan jika aku ingin berlatih, sungguh membuat aku tidak fokus karena kelaparan. Sepertinya, rakyat didalam perutku sudah sangat kelaparan dan tidak bisa menunggu hari esok lagi.
Kantin pasti sudah tutup, tidak mungkin juga aku ke rumah Guru karena disana pasti dijaga ketat oleh para prajurit dan aku juga takut ketahuan Guru sekolah.
Sebaiknya aku cari Pangeran pertama terlebih dahulu, mungkin dia bisa seperti waktu itu memunculkan kue mochi ditangannya secara tiba-tiba.
Saat aku keluar kamar terlihat Song Lan sedang meminum arak dan bersantai diruang belajar "Seingatku sekolah lembah langit tidak boleh minum arak, tapi kenapa ia melanggarnya? Ah tidak pedulilah! Urusan dia dengan Guru," Gumam ku pelan sambil memandanginya dari ambang pintu kamarku...
Aku mencoba mengetuk pintu kamar Pangeran pertama, tapi tidak ada jawaban sama sekali. Apakah ia pergi? Sepertinya.
"Song Lan, apakah kau punya makanan?" Tanyaku sambil berjalan ke arahnya.
Mungkin saja dia punya makanan karena perutku sudah tidak dapat menahan rasa lapar lagi.
"Tidak, kenapa? Kau lapar?" Tanyanya sambil terus meminum arak. Dia tidak mabuk? Hebat sekali! Padahal ia sudah menghabiskan tiga botol arak, terlihat dua botol arak sudah tergeletak begitu saja diatas meja dan satu lagi masih berada digenggaman tangannya.
"Iya, aku lapar."
"Apakah kau ingin ikut denganku? Aku bisa membawamu keluar dari sekolah lembah langit untuk makan, mau tidak?" Ia bertanya sambil terus menatap aku, seperti menunggu jawabanku.
Aku sedikit ragu dengan rencana Song Lan, apalagi ia sudah minum beberapa botol arak "Apakah tidak akan ketahuan?" Tanyaku lagi untuk memastikan.
Ia tertawa lalu menepuk pundak ku dengan percaya diri "Tenang saja aku tau caranya."
"Baiklah."
Aku memakai cadar, agar wajahku tidak banyak yang mengenali saat keluar nanti. Saat sudah sampai diambang pintu rumah, terlihat Pangeran pertama memasuki halaman rumah dengan tatapan yang sungguh dingin. Ia menatapku dan Song Lan sambil berjalan ke arah kami "Kalian mau kemana?" Tanyanya.
"Ke dunia fana untuk mencari makanan karena Zhang Li sudah kelaparan saat ini."
Dunia fana? Dimana itu?
"Apakah benar Zhang Li?" Tanya Pangeran pertama menatapku dengan wajah serius.
"Iya perutku lapar, tapi dunia fana dimana?" Tanyaku sambil mencoba mengingat tentang dunia fana, mungkin aku lupa.
__ADS_1
Walaupun sudah mengingat beberapa lama, tapi aku sungguh baru pertama kali mendengar nama dunia fana karena selama Guru memberi tugas hanya disekitar alam iblis atau hutan-hutan saja, tidak pernah mengutusku ke tempat bernama dunia fana seperti yang diucapkan Song Lan pada malam hari ini.
Pangeran pertama berdecak kesal "Dasar gadis bodoh, ya sudah aku temani. Kau mau ke wilayah mana Song Lan?" Tanya Pangeran pertama.
"Setelah keluar dari perisai emas, aku langsung teleport ke wilayah Ibu kota Yun."
"Ibu kota Yun? Pilihan mu tidak terlalu buruk juga. Baiklah tunggu aku dijembatan lampion."
Sepertinya mereka sangat tahu tentang Ibu kota Yun, pasti mereka sering ke sana. Saat Pangeran pertama menggandengku, kami langsung berada diatas jembatan dengan banyak lampion berbentuk kotak yang tergantung sangat indah dan rapih. Dunia fana ternyata kalau malam sepi juga, tapi hiasan ini membuatnya terlihat ramai saat malam hari.
Aku memperhatikan setiap detail lampion yang tergantung di jembatan ini, ternyata terbuat dari bambu dan kertas lalu disetiap lampion ini terdapat ucapan permohonan doa agar Ibu kota Yun dilindungi oleh para Dewa dari gangguan roh iblis yang sering berkeliaran pada malam hari "Zhang Li, kenapa melihat lampion serius begitu? Apakah kau ingin memiliki lampion?" Tanya Pangeran pertama yang ternyata dari tadi memperhatikanku.
"Apakah Ibu kota Yun sering mendapatkan gangguan dari roh iblis?" Tanyaku.
Pangeran pertama menggeleng "Tidak tahu, ada apa?" Tanyanya.
Aku memperlihatkan lampion itu "Lihatlah tulisan ini."
Setelah melihat semua isi ucapan pada beberapa lampion, Pangeran pertama mengerutkan alis dan tampak bingung "Tidak mungkin Kaisar langit tidak mengurus hal seperti ini, karena setiap ada permohonan Kaisar langsung mengutus Dewa untuk menanganinya. Apalagi berkaitan dengan roh iblis yang merenggut nyawa manusia."
Saat kami berjalan mengikuti Song Lan, terlihat seorang wanita tua menggendong anaknya sambil berlari terburu-buru.
Ibu kota Yun tampak sepi dan hening seperti tidak ada penghuninya, apa karena sudah malam? Sepertinya begitu.
"Song Lan, sebenarnya ada apa dengan Ibu kota Yun? Tidak seramai biasanya."
Kami memasuki sebuah kedai arak yang cukup besar karena ada dua tingkat, kami makan di pojok bersebelahan dengan kasir.
Setelah duduk, kami memesan makanan dan beberapa arak untuk Song Lan "Apakah kau tidak tahu? Aku baru saja mendengar dari pemilik kedai ini, tidak ada yang berani keluar malam karena ada siluman rubah yang selalu memakan jantung manusia dan saat sampai disini aku mencium aura iblis yang haus akan darah disekitar tempat ini."
Tidak ada yang berani? Mengapa pemilik kedai ini tetap membuka kedainya? Bahkan masih ada beberapa orang tengah duduk bersantai menikmati arak bersama temannya, sungguh aneh.
"Apakah belum ada utusan alam langit yang mengurus masalah ini?" Tanya Pangeran pertama.
"Kata pemilik kedai malam ini utusan Dewa Perang yang akan mengurus iblis rubah demi keamanan Kota Yun."
Mengapa pemilik kedai tau? Kalau Dewa Perang yang akan diutus?
__ADS_1
Guru pernah memberitahuku kalau seluruh utusan Dewa dari Alam Langit saat bertugas ke dunia manusia selalu menyamar menjadi manusia juga, bahkan memiliki ciri - ciri yang sama persis. Aku pernah mengawasi utusan Dewa dari alam langit yang bertugas disebuah hutan yang dihuni oleh banyak manusia, mereka menyamar menjadi seperti manusia meskipun terlihat cahaya kekuatan spiritualnya sangat jauh berbeda. Berarti aku pernah ke dunia fana? Ah salah! Lebih tepatnya hutan fana.
Saat pemilik kedai ini mengantarkan makanan terlihat mata pemilik kedai sedikit berwarna ungu, apakah ia iblis? Tidak mungkin iblis bisa menghidangkan banyak makanan lezat seperti ini.
Setelah kami hampir selesai makan, tiba-tiba ada seorang pemuda fana memegang pisau tajam membunuh teman didekatnya, setelah itu ia merenggut jantung temannya lalu tertawa tidak jelas "Apakah pemuda fana itu gila?" Tanya Song Lan sambil menatap adegan itu.
Seluruh ruangan ini seperti dipenuhi aroma iblis rubah yang berada dekat denganku, ah aku tau pasti pemuda fana ini dirasuki oleh iblis rubah "Hei, rubah tua apakah kau ingin bermain denganku?" Tanyaku dengan nada kencang agar terdengar seperti menantangnya untuk bertarung.
Pemuda fana itu langsung menatap kami dan terlihat kedua bola matanya menjadi berwarna putih lalu leher pemuda ini tampak saraf kehitaman lalu kulitnya pucat seperti mayat "Zhang Li? Kau melihatnya?" Tanya Song Lan dengan ekspresi terkejut karena manusia ini berubah drastis menjadi sangat aneh dan menyeramkan.
Aku menghembuskan napas lalu memperingati wajah es dan Pangeran pertama "Jangan dibunuh, cukup membuatnya sadar saja dari pengaruh mantra rubah tua karena pemuda ini telah dirasuki oleh aura pembunuh milik rubah tua."
"Baiklah."
Song Lan dan Pangeran pertama tidak berkomentar apapun dan langsung membantuku menyadarkan manusia fana ini karena seluruh manusia fana yang ada didalam kedai telah kerasukan aura pembunuh rubah tua.
"Kau manusia fana setengah dewa untuk apa mencampuri urusanku? Apakah kau sedang mencari kematianmu Nona?" Suara itu seperti seorang wanita tua.
Hah?
Manusia fana setengah dewa?
Apakah dia gila?
"Hahaha apakah kau tidak tau? Kau hanya setengah dewa bukan sepenuhnya. Jangan menghalangi tujuanku jika tidak ingin mati! Sedikit lagi aku akan mencapai tingkat ratu rubah iblis."
"Dasar rubah tua gila! Keluarlah dengan wujudmu jangan beraninya hanya bersembunyi ditubuh pemuda itu. Apakah kau tidak punya keberanian menghadapi aku langsung rubah tua?" Tanyaku dengan nada sengaja menghinanya agar amarah rubah tua ini semakin terpancing.
"Hahaha baiklah, malam ini jantungmu akan menggantikan jantung pemuda tampan ini."
"Zhang Li," Ucap Pangeran pertama sambil menahan tanganku agar tidak menghadapinya sendiri.
Aku tersenyum "Bantu aku jika nanti aku kalah dari rubah tua."
Aku menepis tangan Pangeran pertama lalu mengedipkan mataku "Zhang Li, kau gila."
Aku langsung melesat keluar kedai dan tidak menghiraukan ucapan Pangeran lagi...
__ADS_1