
Kami mulai berdiskusi untuk mengubah strategi bersama Pangeran ketiga karena keterbatasan para murid pewaris dan mereka yang terluka parah langsung kembali ke sekolah lembah langit, sedangkan yang masih ingin bertahan mereka menetap di penginapan ini.
Semalam Pangeran ketiga baru saja ingin istirahat, tapi mendapatkan panggilan telepati dari Kakaknya. Jadi, ia langsung ke kota Yun setelah mengantar kami semua bersama Pangeran kedua, tapi ia sudah pergi setelah makan pagi bersama kami untuk menyusul Zhang Li agar membantu kami memberi cara terbaik mengalahkan Dewa Penakluk Iblis karena hanya ia yang tahu titik kelemahan ilmu terlarang yang saat ini ditekuni oleh Dewa Penakluk Iblis.
Pangeran ketiga mulai membuka pembicaraan untuk menyusun rencana bersama "Ada satu arah yang harus dipimpin oleh beberapa Dewa dan titik arah itu harus tepat kemungkinan keberadaan mereka muncul."
Pangeran ketiga, sudah mendengarkan seluruh kejadian semalam karena setelah serigala hitam besar dikalahkan. Dewa Penakluk Iblis langsung memilih mundur begitu saja, pasti hal ini tidak biasa dan ia pasti akan menyusun rencana sangat besar.
"Aku bersama Pangeran pertama," Ucap Dewi Burung dengan sangat antusias menjawab ucapan Pangeran ketiga, tapi hal ini malah mendapatkan tanggapan tidak enak dari Pangeran pertama.
"Jika kau hanya ingin mengikutiku maka pulanglah, aku disini bertugas bukan untuk melakukan hal tidak penting bersamamu!" Sahut Pangeran pertama dengan nada kesal bercampur malas.
Setelah selesai berdiskusi Pangeran pertama pergi ntah kemana karena ia tidak memberitahu siapapun.
Para pemuda fana pagi-pagi sudah sangat ribut didepan pintu kamar kami "Masuklah! kalian sungguh mengganggu dan berisik pemuda fana," Ucapku sambil berdecak heran menatap mereka satu persatu yang berjalan bersamaan.
Mereka langsung masuk sambil membawa sebuah keranjang yang sepertinya berisi makanan karena baunya menyerang hidungku hingga aku merasa semakin lapar saat menikmati aroma ini "Apakah kalian akan terus menahan makanan itu dan hanya menatap kami?" Tanyaku yang semakin keheranan dengan sikap mereka.
"Oh, ti-tidak. Kami sebenarnya ingin itu a seperti berlatih bersa..." Aku langsung memotong ucapannya karena terlalu lama dan berbelit-belit. Hanya berkata ingin aku mengajarinya saja susah sekali "Aku setuju, tapi bisakah sekarang aku dan temanku makan dahulu? Sebelum kami kelaparan."
"Kami akan menunggu Dewi dilapangan latihan, tapi apakah Dewi perlu baju ganti?" tanya mereka dan aku hanya mengangguk lalu mencoba membangunkan Song Lan untuk makan pagi bersama karena dari semalam ia menjaga Da Liu karena Pangeran kedua khawatir dengannya dan terpaksa meninggalkan nya. Jadi, Song Lan menawarkan diri untuk menjaganya hingga tertidur.
Setelah mereka memberikan pakaian seragam sekolah ini, aku menyuruh mereka untuk berlatih dahulu dan memberi waktu aku makan dan berganti pakaian "Tidak terlalu buruk, kainnya cukup halus dan nyaman saat digunakan."
Hari masih sangat pagi, tapi sudah terasa sangat panas berada ditengah lapangan sekolah Gu "Bagaimana? Sudah siap?" tanyaku sambil merenggangkan tubuh perlahan-lahan karena sebenarnya aku juga jarang berlatih pedang dan lebih sering memperhatikan gerakan-gerakan para Pangeran, Song Lan, Tian Yi, dan roh pedang saja waktu mengajari ku jurus pedang dirumah lembah langit.
__ADS_1
"Apakah kau murid baru Nona?" tanya seorang wanita yang sepertinya ketua dari sekelompok wanita yang berada dihadapanku saat ini dan aku hanya mengangguk saja.
"Apakah kau bisu?" tanyanya dengan nada bicara mulai tidak santai dan sangat sombong.
Sepertinya, ia sangat sombong hanya karena orangtuanya seorang Guru pelatih pedang disekolah ini "Apakah kau bodoh dan tidak mengerti bahasa tubuh?" tanyaku yang sedikit terpancing karena melihat sedikit kisah masa lalu wanita ini, ia sering mencari masalah dengan semua murid yang menyukai salah satu dari para pemuda dalam kelompok ini dan ia juga akan membuat murid tersebut hingga kapok dan menyerah, sungguh wanita sialan!
Ia langsung mengarahkan ujung pedang miliknya berada didaguku "Jika kau mampu..." Aku langsung menyela ucapannya "Sudahlah langsung saja jangan terlalu banyak omong, aku sangat malas berbasa-basi Nona keluarga Huang!" ucapku sambil tersenyum menantangnya.
Aku menghentikan para pemuda yang berusaha mencegat wanita ini lalu meminjam pedang mereka karena tidak mungkin juga kalau aku memakai pedangku untuk bermain-main dengan manusia fana. Ia langsung menyerang aku dengan sangat beringas dan liar, seperti sedang melampiaskan amarahnya kepadaku dan langsung saja aku menotok aliran darah miliknya "Kau ingin aku tusuk di bagian mana Nona besar keluarga Huang?" tanyaku sambil tertawa puas melihat ekspresinya.
Ada seorang lelaki lebih tua dariku berjalan kearah kami lalu ada salah satu pemuda berbisik kepadaku "Itu Ayah wanita ini Dewi dan tidak ada yang berani melanggar perintah darinya karena jika melanggar kau akan dihukum dengan sangat keras."
"Apakah kau murid baru dan tidak tahu aturan disekolah ini? Kau harus meminta maaf kepada Nona Huang Xu karena telah menyakitinya dengan pedangmu."
"Berani sekali kau Nona dari marga siapa kau Nona? Apakah keluargamu tidak berpendidikan baik?" tanyanya.
Jika kau tau aku seorang Dewi pasti kau akan meminta maaf sampai sujud detik ini, tapi aku baik hati dan tidak sombong sepertimu. Jadi, aku akan menjadi orang rendah hati untuk saat ini.
"Dasar manusia. Baiklah aku akan minta maaf kepada anakmu Tuan!" Ucapku kepadanya sambil tersenyum kepada para pemuda fana yang terhibur dengan pertunjukan pagi hari ini.
Aku langsung berpura-pura meminta maaf dan berjabat tangan lalu memasukan sedikit kekuatan spiritualku untuk mengatur mimpi wanita ini dalam tiga hari kedepan, ia akan terus memimpikan semua perbuatan jahat yang telah dilakukan kepada temannya semasa hidupnya.
Ayah dan anak itu hendak pergi, tapi wanita ini tidak dapat bergerak karena totokan aliran darah miliknya belum aku lepaskan karena lupa. Ayah anak ini cukup berusaha, tapi tidak ada hasil sama sekali "Ah maaf aku lupa melepaskannya," ucapku sambil tersenyum tipis.
Setelah aku membuka kunci totokan itu, mereka langsung pergi dari hadapan kami lalu para pemuda meminta maaf kepada kami karena perbuatan tidak terpuji Nona Huang Xu "Sepertinya ia tidak senang jika ada wanita yang mendekati salah satu dari kalian karena ia menyukaimu, apakah kau ketua kelompok ini?" tanyaku sambil menunjuk salah satu dari pemuda dihadapanku dan mereka langsung tertawa terbahak-bahak karena mendengar perkataanku.
__ADS_1
"Benar perkataan Nona, perkenalkan aku Gu Fei merupakan putra mahkota dari raja Gu saat ini. Sebab itulah banyak wanita yang berusaha mendekati aku untuk menjadi istriku. Sungguh aneh!" ucapnya sambil berdecak keheranan.
"Hahaha, nasibmu sama seperti temanku. Ia putra mahkota alam langit dan didekati oleh seorang wanita dari masa kecilnya."
"Sepertinya kau menyukai putra mahkota itu Dewi ," ucap Gu Fei yang membuat aku terasa malu.
Apakah benar seperti itu?
"Mengapa kalian malah menggoda aku? Apakah tidak ingin berlatih denganku?" tanyaku untuk menghentikan pembahasan ini.
Aku langsung diajak oleh para pemuda fana ini ke danau belakang sekolah Gu karena disana lebih sejuk dan hening, selain itu udara disana sangat segar. Jadi, cocok untuk berlatih tertutup "Berlatihlah, aku akan melihat dan menilainya lalu memberitahu kalian, apa saja yang perlu diperbaiki nanti."
Setelah memperagakan semua gerakan yang mereka bisa, aku merasa jurus pedang mereka jauh lebih baik dari aku. Walaupun kekuatan spiritual mereka sangat sedikit sehingga memiliki keterbatasan dalam energi.
"Aku memiliki ide, tapi kalian harus berjanji satu hal kepadaku."
"Apa Dewi?" tanya mereka bersamaan dan sepertinya mereka sudah sangat penasaran dengan ide ku saat ini.
"Aku dapat memberikan kalian kekuatan spiritual, tapi berjanjilah untuk berlatih dengan giat dan melindungi seluruh rakyat kota tanpa pamrih sedikitpun. Oh ya terutama kalian harus membela kebenaran, setuju tidak?" Tanyaku.
"Maaf Dewi, tapi apakah kekuatan spiritual mu akan membuat kami aman?" Tanyanya dengan sedikit ragu. Aku paham mereka takut tubuhnya tidak kuat menahan besarnya kekuatanku.
"Kekuatan spiritualku tentu saja sangat aman karena aku bukan IBLIS, tapi aku seseorang yang akan menjadi Dewi sebentar lagi," ucapku sambil tersenyum membayangkan jika aku telah menjadi Dewi dan sangat disibukkan oleh tugas.
Mereka langsung serentak setuju dan aku memberikan 10 tahun kekuatan spiritualku kepada mereka satu persatu lalu aku memasang mantra seketika lupa jika mereka ber-enam ingin membuka rahasia tentang kekuatan spiritual atau identitas kami para Dewa, terutama aku sebagai orang yang memberikan kekuatan spiritual kepada mereka.
__ADS_1