Alstroemeria | Dewi Bunga Lily

Alstroemeria | Dewi Bunga Lily
Sekolah


__ADS_3

Aku harus bangun lebih pagi dari para Pangeran agar bisa membuat bunga Lily putih untuk mandi. Meskipun aku masih mengantuk, tapi aku harus semangat karena setelah beberapa hari pasti aku akan terbiasa dengan kebiasaan seperti ini. Aku harus bisa mengandalkan diriku sendiri, kau harus semangat Zhang Li!


Aku sudah menyiapkan handuk saat mau keluar dari kamar lalu mengambil nampan untuk wadah bunga Lily putih, aku duduk bersila diruang membaca dan mulai memejamkan mata. Setelah itu mengarahkan kekuatan spiritual ku secara perlahan kearah nampan untuk membuat banyak bunga Lily putih.


"Kau bangun pagi sekali Zhang Li," Sapa seseorang, ah pasti para pangeran atau Song Lan. Aku masih belum cukup hapal dengan suara teman serumah ku!


Saat aku sedikit mengintip dengan sebelah mataku, ternyata Pangeran kedua sedang duduk bersila di hadapanku sambil menatap bunga Lily putih. Aku tidak menghiraukan dirinya dahulu karena nampan ini masih juga belum terisi penuh oleh bunga Lily putih, huhh! Ternyata susah sekali membuatnya.


"Kau harus fokus Zhang Li agar bisa membuat banyak bunga Lily," Gumam ku dalam hati dan berusaha mengabaikan Pangeran kedua yang dari tadi berada di depanku. Terdengar suara jentikkan jari "Apakah segini sudah cukup banyak?" Tanya Pangeran kedua.


Saat aku membuka mata, seketika nampan kosong yang ada dihadapan ku sudah terisi sangat penuh "Sangat banyak! Apakah bunga Lily putih ini akan sama dengan yang aku buat biasanya?" Tanyaku untuk memastikan.


"Aku rasa akan sama. Cobalah dahulu, tapi kalau berbeda maka buatlah sendiri!" Ucap Pangeran kedua sambil tertawa.


Ia berdiri lalu berjalan kearah rak buku untuk memilih buku "Baiklah, terima kasih Pangeran."


Pangeran kedua hanya tersenyum kepadaku lalu aku langsung saja ke kamar mandi, sebelum Song Lan mengganggu ku lagi.


Hari ini kami memakai hanfu putih dengan kombinasi warna biru muda tanpa motif "Jangan lupa bawa buku catatan kalian karena hari ini ada materi tentang etika murid pewaris alam langit," Ucap Pangeran pertama saat kami semua sedang berkumpul diruang membaca sambil menunggu Pangeran ketiga selesai berganti pakaian agar sama dengan kami.


"Baiklah." Setelah itu kami semua berangkat dengan menaiki pedang.


Seperti biasa aku selalu bersama Pangeran pertama karena kantin terlalu ramai jadi kami makan terburu-buru agar tidak telat masuk kelas. Oh ya, Guru yang mengajari kami tentang materi etika murid pewaris adalah Dewa Pengetahuan bernama Ru Fen.


Aku belum pernah melihatnya jadi aku sedikit penasaran karena Guru pernah menceritakan tentang Ru Fen, bahwa ia tahu segala sejarah alam semesta bahkan semua informasi ataupun lokasi terpencil yang ada di alam semesta sekalipun. Ada satu hal yang tidak ia ketahui, yaitu tempat raja iblis disegel karena seluruh Dewa di alam semesta tidak ada yang tahu selain Dewa Alam Langit Pertama.


Aku dan para Pangeran duduk dikursi paling depan karena kata Pangeran ketiga duduk dikursi paling depan akan jarang diberi pertanyaan oleh Guru Ru Fen.

__ADS_1


Terlihat seorang lelaki paru baya dengan kulit berwarna putih cerah berjalan kearah meja Guru yang terletak ditengah bagian depan. Jadi, meja miliknya berhadapan dengan empat baris meja para murid pewaris. Ia menggunakan hanfu putih panjang lalu terlihat memiliki jenggot putih dan rambut berwarna abu-abu dengan mata coklat sipitnya, ia berdiri sambil memperhatikan kami semua satu per satu "Apa tujuanmu menjadi murid pewaris?" Tanyanya.


Untuk siapa? Apakah untuk murid yang berada di belakangku?


"Bagaimana menurutmu Nona?" Tanyanya lagi dengan tatapan mata menuju kearahku.


Kenapa menatapku? Aku mencoba menunjuk diriku dan Guru Ru Fen mengangguk "Tujuanku sebagai murid pewaris yaitu mewarisi tugas dan ilmu Guruku serta bertanggung jawab atas semua yang telah diberikan oleh Guru pembimbing selama sekolah di lembah langit."


"Apakah kau sudah bertanggung jawab?" Tanyanya dengan tatapan seperti menyelidiki aku.


Aku harus menjawab apa?


Aku rasa sudah, tapi tidak sepenuhnya. Jadi, aku harus menjawab apa sekarang?


"Belum sepenuhnya karena aku masih harus belajar etika murid pewaris dengan Guru Ru Fen dilembah langit."


Untung saja Pangeran pertama memperingati kami untuk membawa buku catatan agar kami dapat mencatat hal-hal penting yang diberikan oleh Guru Ru Fen agar bisa menjawab pertanyaannya nanti, selain itu untuk mencegah kami tertidur karena pelajaran ini cukup membuatku mengantuk dan membosankan selama tiga jam ini.


Kami diberi waktu untuk makan siang lalu melanjutkan materi berikutnya bersama Dewi Spiritual yaitu Guru Ru Ru. Kami para murid dibawa ke sebuah lapangan luas "Baiklah anak-anak hari ini kita akan memulai materi pertama yaitu bermain bola spiritual, seperti peraturan dasar bermain bola! Kalian akan membentuk tim yang berisi lima orang kemudian memasukan bola ke dalam gawang spiritual. Setiap tim yang bermain hanya memiliki tiga babak untuk menentukan tim yang menang."


"Jika kalah bagaimana Guru?" Tanya Da Liu dengan penasaran.


"Tentu saja akan ada hukuman spesial untuk tim tersebut, sudah Guru persiapkan."


Guru Ru Ru memberikan kami semua kesempatan untuk membentuk tim sendiri "Baiklah setiap ketua kelompok maju kedepan untuk mewakili timnya."


Kelompok ku kali ini bersama para Pangeran dan Song Lan, tapi mereka semua tidak ingin menjadi ketua ntah kenapa mereka semua memilihku secara memaksa dan pemungutan suara dilakukan secara sepihak. Sungguh tidak adil!

__ADS_1


Saat semua ketua telah maju, Guru mengeluarkan satu papan kayu berukuran kecil lalu dilemparkan ke langit dan seketika menjadi banyak lagi "Persiapkan diri kalian untuk menerima kenyataan," Ucap Guru lalu papan-papan kayu itu mulai mengarah kepada setiap ketua kelompok secara sendirinya.


Aku tidak berani membukanya sendirian. Jadi, aku kembali kedalam timku lalu melihat tulisan yang ada di papan kayu kecil ini bersama-sama. Ternyata lawan kami, tim Zhuan Qi "Kenapa dia lagi!" Ucapku dengan kesal lalu para Pangeran hanya tersenyum kepadaku dan Song Lan terlihat tertawa saat melihat ekspresi ku.


"Anak-anak lihatlah. Gawang itu akan menjadi target kalian," Ucap Guru dengan suara cukup keras sambil menunjuk kearah langit.


Terlihat ada dua lubang besar seperti cermin tergantung dilangit lalu lapangan ini sudah diberi perisai air sebagai pembatas.


"Oh ya, Guru hanya ingin memperingati kalian bahwa permainan kali ini akan sangat spesial. Kalau tidak kuat menahan bola spiritual maka menyerahlah."


"Tentu saja tim Zhang Li akan menang karena ada tiga Dewa Naga disana," Ucap Zhuan Qi dengan berteriak seperti tidak adil kepada Guru. Bilang saja iri!


Guru Ru Ru tersenyum menatap Zhuan Qi "Hahaha tenanglah permainan ini memakai kekuatan spiritual tingkat Dewa tahap 7. Intinya jika kalian tidak kuat menahan bola maka menyerah saja karena kalian akan terluka berat kalau terlalu memaksakan."


Guru Ru Ru melihat wajah seluruh murid pewaris yang dipenuhi rasa khawatir dan ragu karena kekuatan spiritual mereka sangat jauh lebih rendah dibandingkan dengan bola spiritual ini "Baiklah. Silahkan kalian diskusi dahulu tentang strategi permainan tim kalian dalam lima menit."


"Hei kalian berempat dengarkan aku sebentar," Ucap Pangeran pertama membuat kami semua reflek langsung menatapnya.


Pangeran pertama langsung berbicara dengan nada serius "Kalian harus menggunakan kekuatan spiritual untuk mengkontrol bola ini, tapi kalau kalian tidak kuat menahan langsung saja berikan kepadaku secepatnya. Kekuatan spiritual yang aku miliki sudah melampaui tahap 7 Dewa. Jadi, waktu aku menahannya kalian harus mencari kelemahan dari lawan serta kelemahan bola itu."


"Bagaimana siasat untuk tim lawan?" Tanya Song Lan kepada Pangeran pertama, tapi ia malah menunjukku. Aku langsung melotot dan bingung harus berkata apa, karena siasat akan muncul saat kita sudah mengetahui strategi dan kelemahan lawan "Bermain bola spiritual boleh menggunakan kekuatan spiritualkan? Jadi, manfaatkanlah dengan baik untuk mengoper bola spiritual."


"Kau harus ingat, saat kau menggunakan jurus halusinasi, bayangan, teleport, dan trik-trik kotor maka timmu akan langsung didiskualifikasi oleh Guru."


"Baiklah kami mengerti," Ucapku mewakili teman timku karena mereka hanya mengangguk tanpa berkomentar lagi.


Jumlah murid pewaris ada 250 orang totalnya. Jadi, kelompok yang terbentuk ada 50 karena setiap kelompok berisi 5 orang. Banyak kelompok yang menyerah duluan padahal belum selesai tiga babak, bahkan ada yang sampai terluka karena terlalu memaksakan diri...

__ADS_1


__ADS_2