Alstroemeria | Dewi Bunga Lily

Alstroemeria | Dewi Bunga Lily
Penginapan Demisia


__ADS_3

Pangeran kedua setelah menikah sudah jarang memasuki alam langit karena ia tinggal bersama Da Liu, tapi tiba-tiba hari ini ia menghadap ke Kaisar di altar suci alam langit dengan memasang ekspresi wajah sangat sedih. Bahkan membuat Kaisar khawatir dengannya karena Pangeran kedua tidak pernah terlihat sangat sedih dihadapan Kaisar selama ribuan tahun ini "Ada apa anakku? Masalah apa yang membuatmu sampai harus bersedih sampai seperti ini?" tanya Kaisar sambil menyuruhnya duduk disamping Kaisar karena kebetulan Permaisuri Kaisar sedang tidak hadir di altar suci hari ini.


"Aku sungguh kehabisan cara Ayah untuk mendapatkan keturunan karena kandungan Da Liu sedikit bermasalah dan aku sudah berdiskusi dengan Dewa Obat, Dewi Segala Tabib, tapi tidak mendapatkan cara apapun."


"Aku juga tidak dapat membantumu Pangeran kedua karena semua ini tergantung pada nasib kalian dan obat ini sangat langkah tidak akan ada yang bisa mendapatkannya, selain Dewa Alam Langit Pertama."


"Dimana obat itu Kaisar?" tanya Pangeran kedua dengan penuh harapan untuk mendapatkan obat langkah yang dimaksud Kaisar.


"Aku akan memikirkan cara lain agar kalian berdua dapat melanjutkan keturunan."


Kenapa Ayah tidak memberitahu aku tentang keberadaan obat itu?


"Terimakasih Kaisar." Pangeran kedua langsung memberi salam kepada Kaisar dan pergi meninggalkannya.


Aku sedang bermain catur bersama Ji Que di halaman rumah, paman Ji Dan karena kami sedang tidak ada kegiatan sama sekali, tapi tiba-tiba saja Dewi Burung berjalan memasuki kediaman Guru tanpa izin dan tidak menyapa kami sama sekali "Sepertinya hanya kau Dewi yang tidak memiliki pekerjaan, tapi apakah kau layak dipanggil Dewi Zhang Li?" tanyanya sambil tertawa meremehkan aku.


Ji Que geram melihat Dewi Burung dan ia langsung mengeluarkan cakar tajamnya lalu mencakar Dewi Burung, tapi untung saja aku tepat waktu menahannya. Jadi Dewi Burung hanya tergores sedikit dan Ji Que tidak bisa terkena hukum alam langit yang sangat mengerikan karena hukum ini tidak mengenal umur atau siapapun yang melanggarnya, ia sangat adil dan tidak ada toleransi.


Aku menyuruh Ji Que pergi kedalam rumah agar tidak memperburuk masalah yang akan aku hadapi ini "Ada apa?" tanyaku sambil menatapnya dengan tajam.


"Apakah kau tidak melihat Suamiku?" tanyanya dengan penuh kecurigaan.


"Kau mencari Suamimu disini? Kau gila? Ah sudah pergilah, aku tidak ingin berdebat denganmu Dewi Burung!" Ucapku sambil mencoba membawa Dewi Burung keluar dari kediaman Guru.

__ADS_1


Tiba-tiba Pangeran pertama muncul "Ada apa ini? Zhang Li maaf telah merepotkan mu menjaga Istriku."


A-Apa?! Apakah kau bodoh? Aku juga istrimu! Huft, aku mencoba memahami hal gila ini.


"Tidak masalah."


Dewi Burung dan Pangeran pertama pergi begitu saja, tapi aku sungguh tidak percaya apakah ia Pangeran pertama?


Saat aku berjalan memasuki rumah untuk menemani Ji Que, Pangeran kedua menahan lenganku sehingga aku harus berhenti dan berbalik arah untuk menatapnya "Ada apa Pangeran?" tanyaku sambil menatap ekspresi wajahnya yang tampak sedih.


"Apakah kau sedang tidak sibuk?" tanyanya. Kenapa ia malah kembali bertanya kepadaku?


Aneh sekali, tidak biasanya dia begini "Ada apa? Katakan saja terus terang Pangeran kedua."


"Kenapa hanya aku? Apakah Dewa lainnya tidak bisa membantumu?" tanyaku yang masih bingung dengan perkataannya.


Setauku Dewa-Dewi alam langit sangat hebat, tapi mengapa tidak dapat menyembuhkan Da Liu?


Pangeran kedua menggeleng lemah "Tidak ada satupun Zhang Li, sungguh aku tidak berbohong atau berniat untuk menipumu."


"Ba-Baiklah aku akan membantumu, tapi dimana tempat untuk mencari obat itu?" tanyaku untuk memastikan seberapa bahayanya wilayah tersebut.


"Negara Demisia."

__ADS_1


Aku tidak terlalu mengetahui Negara ini cukup banyak karena tidak ada yang memberi ku informasi apapun, tapi temanku Da Liu serta Pangeran kedua sedang kesusahan. Jadi, aku harus membantu mereka. Apalagi mereka memiliki keyakinan bahwa hanya akulah yang dapat membantu mereka...


Sebelum sampai Negara Demisia, kami mulai menekan kekuatan spiritual kami dan merubah penampilan kami menjadi rakyat biasa agar tidak terlalu menarik perhatian. Setelah itu, kami juga mencari penginapan agar bisa lebih leluasa memikirkan cara untuk masuk kedalam istana Negara Demisia "Kakak pertama bagaimana rencana selanjutnya?" tanya Pangeran ketiga untuk memastikan bahwa rencana kami akan berhasil dengan sempurna.


"Aku telah mendapatkan banyak informasi dari Dewa Obat, aku rasa kita harus mencari informasi kegiatan istana melalui kedai teh dipenginapan ini agar lebih mudah, tapi apakah kau sudah tahu letak obat itu berada dimana adik ketiga?" tanya Kakak pertama dengan serius sambil berjalan keluar dari kamar penginapan.


Saat sampai dipenginapan ini aku sempat bersemedi sejenak untuk mencoba melihat keadaan istana Negara Demisia "Aku sudah mendapatkan letak posisinya tepat berada dibagian utara istana dekat dengan letak seekor binatang gaib, tapi masuk kesana cukup sulit karena banyak penjaga."


Kakak pertama tidak menjawab ucapanku, tapi ia malah memanggil pemilik kedai untuk menyiapkan menu makanan yang sangat terkenal dikedai ini dan Kakak juga menyewa wanita pemain alat musik untuk menemani kami makan "Apakah Tuan tamu besar yang diundang oleh Raja kami? Pangeran Pu Xu?" tanya wanita pemain alat musik karena kebetulan ia sudah selesai memainkan alat musiknya.


"Ada apa?" tanya Kakak pertama tetap bersikap tenang meskipun tidak tahu.


"Maaf atas kelancangan Hamba Tuan karena Tuan tidak terlihat seperti penduduk Negara Demisia dan saat ini ulang tahun Raja digelar dengan sangat meriah pada malam hari nanti, bahkan seluruh rakyat juga diundang untuk menyaksikan keindahan istana Negara Demisia."


"Raja selalu baik hati, tapi apakah kau menghadiri acara itu juga Nona?" Tanya Kakak pertama yang semakin membuat aku bingung, tapi tidak mungkinkan Kakak pertama menyeret wanita ini dalam permasalahan yang akan kami hadapi?


"Tentu saja aku ikut Tuan karena aku anak dari seorang selir Raja yaitu Putri Pu Zhu, tapi aku tidak suka berada di istana yang terlalu banyak persaingan itu. Sungguh melelahkan dan membuat aku sangat muak dengan hal itu!"


Kenapa wanita ini terus memandangi aku? Ah sialan! Jangan sampai ia berpikir tidak-tidak tentang aku.


Aku menatap Kakak pertama agar ia segera menyudahi pertemuan kami dengan anak gadis seorang selir, ayolah Kakak pertama!


sudahi percakapan ini.

__ADS_1


Kakak pertama, sungguh sangat paham dengan ku yang sudah tidak nyaman di tatap oleh wanita yang baru saja memasuki usia dewasa ini, sungguh membuat aku bergidik ngeri saat melihat tatapan gadis itu kepadaku "Ah begitu rupanya. Kalau begitu kita akan melanjutkan obrolan ini jika kita bertemu disana Nona, kami pamit terlebih dahulu!" Ucap Kakak pertama sambil menaruh 3 keping emas diatasnya dan kami berdua kembali ke kamar penginapan.


__ADS_2