
Memang aku tak dapat mengubah takdirku karena sudah ditentukan oleh Sang Pencipta, tapi aku dapat mengubah nasib sesuai keinginanku.
Dewa Es telah memikirkan selama berhari-hari di kediamannya, akhirnya hari ini ia memutuskan untuk mencari petunjuk pada Dewi Takdir yang berada di alam langit "beberapa ribu tahun yang lalu aku pernah menjalani kehidupan sebagai manusia fana untuk mencapai tahap Dewa Agung dan aku harus melewati banyak bencana takdir yang telah dipersiapkan Dewi Takdir, tapi anehnya aku mati lebih awal dari tanggal yang telah ditetapkan bukan? Apakah kau mengetahui penyebabnya Dewi Takdir?" tanya Dewa Es mencoba mendesak Dewi Takdir agar berbicara terus terang kepadanya dan tidak menutupi suatu hal apapun dari ku.
"Bukankah dahulu sudah aku beritahu? Aku lupa Dewa Es. Maafkan aku, bagaimana jika kau beri aku waktu untuk mencari catatan manusia fana mu? Pagi besok kau dapat kembali kesini."
"Baiklah. Terimakasih atas bantuanmu Dewi Takdir, aku harap kau tidak menutupi apapun dariku Dewi untuk saat ini."
Dewi Takdir hanya tersenyum lalu memberikan salam kepadanya. Dewa Es meninggalkan kediaman Dewi Takdir begitu saja.
Hari masih pagi, tapi aku sudah kedatangan tamu "Ada apa Dewa Es pagi-pagi kemari?" Tanyaku sambil merenggangkan tubuhku agar lebih rileks.
"Apakah kau sibuk malam ini?" Tanya Dewa Es sambil tersenyum menatap aku.
"Aku rasa tidak, memangnya ada apa Dewa Es?" Tanyaku tanpa basa basi agar ia cepat berbicara terus terang karena sejujurnya aku masih sangat mengantuk.
"Aku ingin mengundangmu untuk datang makan malam bersamaku dan anakku, apakah kau berkenan?" Tanyanya dengan wajah sedikit ragu.
Sepertinya ia berpikir bahwa aku akan menolak tawaran itu "Tentu saja aku akan datang, tapi aku ada sedikit urusan dialam iblis. Jadi, aku bingung harus bagaimana."
"Hahaha tenang saja Dewi. Sore hari, aku akan menyusulmu di istana alam iblis bersama Tian Yi."
Aku berangkat kealam iblis sendirian karena Pangeran pertama dan ketiga harus mengurus Dewi Burung yang telah mencuri Pedang Sanos dariku. Jadi, sekarang aku hanya bisa mengandalkan roh pedang Sima selama diperjalanan ini.
Ntah perasaanku saja atau bagaimana, tapi saat ini aura alam iblis terasa sangat liar dan bengis. Apakah terjadi sesuatu? Kebetulan istana alam iblis sedang tidak kedatangan tamu. Jadi, aku dapat langsung masuk kesana untuk bertemu Song Lan dan Ratu Song Lin dengan mudah "Ada apa Dewi Zhang Li kemari?" Tanya Kakak Song Lan yang sedang menggendong anaknya.
"Aku hanya ingin mengantarkan obat pesanan Song Lan saja, Ratu."
Song Lan langsung berlari ke arahku dan meminta obat itu, tapi anehnya tanaman herbal berwarna merah ini tidak berubah menjadi apapun? Padahal sudah sehari lebih aku bekukan. Seandainya ada roh pedang Sanos sekarang, pasti ia dapat membantuku dengan mudah "Bagaimana mungkin kau mendapatkan obat ini Zhang Li?" Tanya Song Lan dengan mata sangat berbinar menatap tanaman herbal merah ini.
__ADS_1
Ratu Song Lin langsung bergegas menghampiri kami dan mengambil tanaman herbal merah tersebut dengan kekuatan spiritualnya. Tak lama kemudian, tanaman itu berubah menjadi serpihan serbuk merah yang menyatu menjadi sebuah pil merah "Untung saja aku tepat waktu. Jika tidak mungkin perjuanganmu akan sia-sia Dewi Zhang Li, tapi aku sungguh berterimakasih kepadamu karena telah membantu adikku dan masa depan alam iblis ini."
Masa depan alam iblis? Ratu Song Lin langsung memberikan pil tersebut. Kami semua menemani Song Lan kembali ke kamarnya agar dapat beristirahat, tapi saat diperjalanan tiba-tiba ia mengeluh kepalanya terasa sangat sakit. Bahkan membuatnya mengerang kesakitan lalu pingsan begitu saja tanpa berkata apapun.
Pangeran pertama mencoba menarik perhatian Dewi Burung untuk menjauh dari roh pedang Sanos. Sedangkan Pangeran ketiga mencoba menyadarkan roh pedang Sanos, namun semua ini sungguh tidak sesuai rencana.
Roh pedang Sanos malah menyerang Pangeran ketiga dengan sangat liar dan kejam sampai Pangeran pertama meminta Dewi Burung untuk menghentikannya.
Sebuah cahaya putih yang berada tak jauh dari depanku membuat aku tak ada pilihan lagi selain melangkah kearah sana karena saat ini aku berada di ruangan sangat gelap, hampa, dan mengerikan seperti tidak ada kehidupan. Saat memasuki cahaya putih tersebut, Ia melihat dirinya yang masih berusia 4 tahun berlari kearah kamar mandi. Tak lama kemudian keluar, aku mengikuti anak kecil yang sangat mirip denganku dan tiba-tiba ia berhenti menatap taman, tapi kenapa ada Khimaira? Ayah? Sedang apa mereka? Kenapa Khimaira menyerang Ayah?
"AYAH!!" Anak kecil itu berteriak histeris saat melihat Ayahnya terpental sampai tubuhnya terbentur oleh batu taman lalu ia menghampirinya tanpa ada rasa takut sedikitpun.
Khimaira menyerang anak kecil itu, tapi Ayah melindunginya dari cakaran sangat bengis tersebut "Nak pergilah. Ini urusan orang dewasa, kau harus mentaati perintah Ayahmu."
Aku sungguh tak dapat menahan tangis saat melihat Ayah mulai pucat dan punggungnya mengeluarkan banyak darah, tapi tak lama kemudian Ibu menarik paksa aku menjauh dari Khimaira lalu menyuruh Kakak Song Lin menjagaku dan bersembunyi sampai istana kembali aman "Apapun yang terjadi kalian harus tetap saling menjaga dan menyayangi satu sama lain."
Kakak Song Lin mengelus rambutku sambil menyanyikan lagu yang sering Ibu nyanyikan sebelum kami tertidur lelap.
Aku mencoba kembali ketaman untuk melihat apa yang terjadi kepada dua orangtuaku, tapi aku terlambat! Ayah dan Ibu sudah tergeletak di tanah dengan bergelimang darah. Bahkan pedang milik Ibu sampai terbelah menjadi dua bagian, tapi aku melihat Ayah dan Ibu saling menggenggam erat kedua tangan mereka "Aku tidak akan menyesali keputusanku hari ini karena aku sudah bersumpah untuk menemanimu selamanya dalam kondisi apapun. Semoga Sang Pencipta melindungi kedua anak kita agar dapat memimpin alam iblis dengan baik dimasa depan."
Ayah tersenyum masam kepada Ibu lalu ia menutup matanya, sedangkan Ibu memuntahkan darah dan berbicara dengan nada suara cukup pelan "Song Lan apakah kau telah dewasa? Aku harap kau tidak membenci kedua orangtuamu ini..." Aku sungguh terkejut saat Ibu mengatakan itu, "Mintalah gulungan jurus khusus keluarga Song agar kau dapat melindungi alam iblis dengan baik di masa depan." Aku berusaha memeluk Ibu namun aku tidak dapat menyentuhnya.
Tiba-tiba ruangan disekitarku gelap dan aku langsung berada disebuah ruangan sangat asing "Bukankah ini terlihat seperti kediaman seorang tabib?" Tanyaku kepada diri sendiri sambil melihat anak kecil itu diobati oleh seorang tabib, tapi aku merasa tak asing.
"Kaisar. Aku harap engkau berkenan mengabulkan permintaan hamba," ucap Kakak Song Lin sambil bersujud didepan Kaisar Alam Langit.
"Apa keinginanmu nak?" Tanya Kaisar sambil menatapnya.
"Hamba tidak ingin adikku sedih karena kedua orangtua kami telah tiada demi melindunginya. Aku takut ia menyalahkan dirinya sendiri Dewa. Jadi, aku harap kau dapat memberikan pil pelupa ingatan untuknya."
__ADS_1
"Kepada adikmu saja? Kenapa kau tidak meminumnya juga? Apakah kau tahu dampak dari pil ini nak?" Tanya Kaisar sambil tersenyum dan mengeluarkan sebuah kotak kayu yang sepertinya berisi sebuah butiran pil obat.
Ratu Song Lin menggeleng pelan "Suatu hari nanti pasti adikku membutuhkan banyak penjelasan tentang kedua orang tua kami. Jadi, maafkan hamba jika menolak untuk minum obat tersebut, tapi sejujurnya aku tidak tahu apa dampak dari obat ini Kaisar."
"Obat ini dapat membuatnya kesulitan dalam meningkatkan kekuatan spiritualnya dan ia akan melupakan segala hal bahkan sifatnya akan asing, apakah kau siap menghadapi adikmu?"
Aroma apa ini? Sangat mirip dengan Kakak Song Lin, tapi dimana? Aku menghirup aroma ini secara perlahan dan saat itu aku juga mendengar suara isak tangis seorang wanita "Dimana sebenarnya?" Tanyaku dalam hati.
Mataku terbuka pelan - pelan secara samar melihat seorang wanita tepat di sampingku sambil menggenggam erat tanganku "A-Adik? Apakah kau telah sadar?" Tanya Kakak Song Lin sambil menyeka air matanya lalu ia berteriak memanggil seluruh tabib istana. Song Lan langsung memeluk erat Kakaknya begitu saja "Terimakasih Kak..." Ia menangis sampai aku tidak terlalu jelas mendengar ucapannya, begitupun Kakaknya.
Ratu Song Lin membiarkan tabib memeriksanya lalu ia keluar dari ruangan tersebut dan aku hanya mengikutinya. Ternyata ia mengambil sebuah kotak perak dengan bentuk ukiran sangat unik "Ratu Song Lin..." Panggil seorang pria dari belakang kami, ternyata Dewa Es dan Tian Yi. Apakah mereka menjemputku?
Setelah menunggu Dewa Es berbicara dengan Ratu Song Lin, aku langsung dipanggil untuk berangkat bersama. Namun Tian Yi tidak dapat ikut makan malam bersama kami karena Ji Que pasti telah menunggunya untuk makan bersama. Jadi, kami langsung berpisah digerbang istana alam iblis "Apakah perjalanan cukup jauh?" Tanyaku dan ia hanya tersenyum kepadaku "Nikmatilah."
Song Lan membuka kotak perak itu dan ternyata berisi dua gulungan kertas. Pada gulungan kertas pertama terdapat tulisan "Keturunan Song," Gumamnya, ternyata aku harus mempelajari jurus keturunan Song agar tidak mudah dipengaruhi Iblis. Sedangkan gulungan kertas kedua terlihat lebih tebal dan terdapat tulisan "Jurus pedang Song." Aku terkejut karena roh pedang song langsung keluar dan ikut melihat kertas tersebut.
"Aku dapat mengajarimu semua jurus ini Putra Mahkota alam iblis, ayo kita berlatih." Song Lan langsung semangat dan tidak menggubris ucapan para tabib dan Kakaknya Song Lin.
Aku diantarkan sampai didepan gerbang alam langit saja oleh Dewa Es dan juga Dewa Wang Yu yang ternyata masih seumuran denganku, meskipun kekuatan spiritual kami berbeda umurnya.
Pertemuan hari ini membuatku merasa memiliki keluarga hahaha, tapi tunggu! Kenapa ada aura iblis disekitar sini? Aku mulai mengikuti jejak iblis tersebut.
Kenapa jejaknya mengarah ketingkat 8? Bukankah itu kediaman keluarga Kaisar?
Kenapa jejak ini menghilang tepat didepan kediaman Permaisuri Kaisar? Ti-Tid...
Deg! Ada seseorang memegang bahuku dan aku langsung menoleh kearah belakang, tapi untung saja ternyata Pangeran pertama dan ketiga yang mengagetkan aku "Apakah kau merasakan hal yang sama Zhang Li?" Tanya Pangeran ketiga dan Pangeran pertama langsung menyaut "Lebih baik melanjutkan pembicaraan dikediaman Pangeran ketiga saja."
"Ide yang bagus!" Aku langsung mengikuti langkah kaki mereka berdua sambil menceritakan kejadian aneh tentang roh pedang Sanos. Apakah roh pedang Sanos tidak mengingatku sama sekali? Sepertinya para Pangeran sudah tidak dapat membantuku lagi, tapi apakah sungguh tidak ada harapan lagi? Sepertinya, aku harus mencobanya sendiri!
__ADS_1