
Tidak jauh berbeda dengan Zarina yang mulai menata kembali kehidupannya yang sempat hancur akibat kegagalan rumah tangga beberapa waktu lalu, Robby juga mulai menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Laki-laki yang kini menyandang status duda itu lebih sering menghabiskan waktu dengan bekerja dari pada di rumah. Dia hanya akan pulang setelah larut malam dan berangkat pagi-pagi sekali.
Mariana sampai merasa khawatir karena anak bungsunya itu kini berubah menjadi seorang yang gila kerja. Setiap hari hanya dihabiskan dengan bekerja, bekerja, dan bekerja. Akibat rasa khawatir yang berlebihan kepada Robby, Mariana sampai ikut pindah ke rumah milik putra bungsunya itu.
Pagi-pagi di saat hari libur kerja, Mariana mengira Robby akan beristirahat di rumah. Namun, perkiraannya salah besar. Sang putra justru sudah rapi dengan pakaian casualnya.
"Mau ke mana, Rob?" tanya Mariana yang sedang menyiapkan sarapan pagi.
"Keluar, Bu."
"Kerja atau keluar main?"
"Cari angin, Bu. Robby suntuk, biasanya kalau hari libur gini, Mbak Tania pasti ke sini."
Mariana mengangguk tiga kali, "Jadi kamu keluar hanya untuk menghindari mbakmu?"
Robby tersenyum tipis, "Robby cuma enggak suka kalau Mbak Tania maksain kehendaknya sama Robby, Bu. Robby masih belum ingin membuka lembaran baru dengan seorang perempuan," ungkap Robby jujur.
Mariana menghentikan aktivitasnya sejenak kemudian mendekati Robby yang masih setia berdiri dengan ekspresi sedih. Wanita paruh baya itu sangat paham dengan perasaan sang putra yang pasti sedang mengalami trauma.
__ADS_1
"Rob, ibu tahu, kamu pasti masih belum bisa melupakan kegagalan yang kamu alami, tapi jangan pernah berpikir bahwa semua wanita itu sama. Ibu yakin, kamu pasti akan mendapatkan yang terbaik," ujar Mariana, dengan tangan kirinya menepuk lembut pundak sang putra.
"Stop, Bu! Robby benar-benar tidak ingin membahas hal itu."
"Baiklah, tapi pikirkan kembali masa depan kamu, Rob. Kamu masih muda, dan kamu laki-laki baik," ujar sang ibu yang kini kembali melanjutkan aktivitas sebelumnya.
"Robby tidak sebaik itu, Bu. Kegagalan yang kami alami tidak sepenuhnya salah Rina, ada andil Robby juga di dalamnya," jelas Robby.
"Kamu masih saja membela dia, Rob. Padahal jelas-jelas Rina sudah menduakan kamu!" sungut Tania yang baru saja sampai.
"Cukup, Mbak! Robby tidak suka cara Mbak Tania yang hanya menyimpulkan sesuatu dari satu sudut saja."
Meskipun telah dikhianati oleh Zarina, Robby sama sekali tidak rela ketika semua orang menyalahkan wanita yang pernah menjalani biduk rumah tangga bersamanya itu. Setelah merenung beberapa bulan terakhir, Robby baru menyadari bahwa apa yang dilakukan oleh Zarina juga merupakan kesalahannya sebagai seorang suami yang tidak bisa memberi kenyamanan untuk istrinya.
"Bu, aku keluar dulu," pamit Robby kepada Mariana.
"Tidak sarapan dulu, Rob?" tanya Mariana yang hanya dijawab gelengan kepala oleh Robby.
"Ya sudah, hati-hati."
__ADS_1
Jengah dengan ucapan-ucapan Tania yang selalu memojokkan serta memaksanya untuk berkenalan dengan perempuan lain, Robby memilih untuk segera pergi dari rumahnya.
Hatinya saja belum benar-benar sembuh dan melupakan apa yang sudah terjadi padanya, tetapi sang kakak sudah menyodorkan beberapa perempuan yang penampilannya lebih cocok jika disebut dengan wanita liar tanpa aturan.
Selepas kepergian sang adik yang dinilai kurang sopan, Tania terlihat sangat kesal. Meskipun Zarina sudah tidak berada di sana, nyatanya dia belum juga berhasil menjodohkan sang adik dengan teman-temannya yang berasal dari keluarga kaya.
"Lihat, Bu. Robby sama sekali tidak bisa menghargai aku," rengek Tania.
"Kamu yang keterlaluan, Tan. Luka dihati adikmu saja belum sembuh, kamu sudah memaksa dia untuk menikah lagi!" sembur Mariana tidak kalah kesal.
Tania menarik kursi kasar kursi lalu menjatuhkan bokongnya di kursi tersebut. "Tania enggak paksa Robby menikah, Bu. Aku cuma kenalin dia ke teman-teman aja," elaknya dengan membuang napas kasar.
"Sama saja, Tania. Niat kamu itu sudah bisa ditebak. Ibu tahu, kamu ingin adikmu menikah dengan teman-teman sosialitamu itu," ujar Mariana sambil berjalan keluar dari dapur.
"Ibu mau ke mana?" tanya Tania berteriak.
"Jemur baju, dari pada ngurusin dumelan kamu yang enggak ada habisnya itu!" teriak Mariana menjawab pertanyaan putri sulungnya.
Sementara itu, Robby mengendarai motornya tanpa arah. Laki-laki yang kini bergelar Duren meski tidak memiliki embel-embel sawit itu sedang kebingungan akan pergi ke mana. Ketika berada di sebuah tikungan, tiba-tiba muncul sebuah mobil yang membunyikan klakson dua kali. Suara nyaring dari klakson mobil di depan menarik paksa kesadaran Robby yang sejak tadi sedang kalut.
__ADS_1
Robby dengan cepat menarik rem di tangan kirinya hingga motor yang dikendarai berhenti tepat di depan mobil berwarna silver tadi. Tidak berbeda dengan Robby, si pengemudi mobil juga menginjak pedal rem untuk menghindari tabrakan antar keduanya.
"Mas Robby," gumam seseorang di dalam mobil tersebut.