
Robby sedang duduk di kursi ruang tamu rumah minimalis Zarina. Dari gelagatnya, Robby terlihat cemas. Tidak lama kemudian, Zarina berjalan menghampiri si mantan suami dengan membawa nampan di tangannya.
Zarina menaruh kedua cangkir teh di meja, lalu berkata, "Minum dulu, Mas!"
"Makasih," balas Robby seraya tersenyum simpul.
"Sama-sama." Zarina duduk di kursi yang berhadapan dengan Robby.
Laki-laki itu menatap ke arah dalam seolah sedang mencari sesuatu. "Alam di mana, Rin?" tanya Robby kemudian.
"Sepertinya dia menangis di kamarnya sampai ketiduran, Mas," jawab Zarina tidak enak hati, sebab mantan suaminya itu harus melihat tingkah Alam tadi.
"Aku kasihan sama Alam, Rin. Gara-gara aku, dia harus merasakan hidup dalam posisi sulit ini," ucap Robby dengan sorot mata penuh sesal.
"Mas Robby jangan menyalahkan diri sendiri. Apa yang terjadi di antara kita adalah takdir. Jika ada yang harus disalahkan, itu adalah aku, Mas."
Untuk sesaat Robby terdiam. Dia tengah memikirkan sekiranya hal apa yang harus dilakukan untuk membahagiakan hati Alam.
__ADS_1
"Rin, boleh aku bertanya?"
"Tanya apa, Mas?"
"Memangnya kamu sama sekali tidak memiliki perasaan kepada laki-laki tadi?"
Zarina terpaku dengan mulut terkatup rapat manakala mendapatkan pertanyaan itu dari mantan suaminya. Dia pun masih bingung dengan perasaan yang sebenarnya.
"Ma-af kalau pertanyaanku terkesan lancang, Rin." Kini Robby merasa bersalah karena mempertanyakan hal yang cukup sensitif tersebut.
"Tidak apa-apa, Mas." Zarina duduk dengan gelisah setelah mendapat pertanyaan itu dari Robby. "Sebenarnya aku pun tidak tahu tentang perasaanku saat ini. Sejak berpisah sama kamu, aku tidak pernah menaruh hati pada siapapun," sambung Zarina.
"Terus, apakah yang dikatakan oleh laki-laki tadi itu benar?"
"Kata-kata apa, Mas?"
"Tentang Alam adalah anaknya," kata Robby dengan hati-hati.
__ADS_1
Seketika Zarina menundukkan kepalanya, serta mengangguk kecil. Jauh di lubuk hatinya, Zarina pun malu membahas tentang ini. Dia sudah memutuskan untuk merahasiakan identitas Alam yang sebenarnya.
"Kalau memang dia ayahnya, kenapa kamu membohongi dia?"
"Aku tidak mau masuk ke dalam lubang yang sama, Mas. Apa yang dulu aku lakukan adalah kesalahan, dan aku tidak mau mengulangi kesalahan yang sama. Dia sudah beristri," jawab Zarina dengan jelas. Kepalanya sedikit terangkat untuk memandang sang mantan suami.
"Tapi Alam berhak tahu tentang identitas dirinya, Rin."
"Untuk apa, Mas? Selama ini aku juga mengurusnya sendirian. Aku tidak mau Alam membenciku karena kesalahanku dulu," kata Zarina lirih.
Robby menatap Zarina dengan sorot kekecewaan. "Sekarang kamu egois, ya. Kamu tidak memikirkan Alam yang butuh figur seorang ayah," ucap Robby menyampaikan kekecewaan hatinya.
"Terserah Mas Robby mau bilang apa. Yang jelas aku enggak akan pernah mengungkap identitas Alam yang sebenarnya. Dia akan baik-baik saja tanpa kehadiran ayah sepertinya. Sejak awal, hubunganku dan Dafis adalah sebuah kesalahan, Mas. Aku tidak ingin Alam menganggap dirinya adalah hasil dari kesalahanku di masa lalu," terang Zarina dengan suara tercekat.
Robby hendak membalas ucapan Zarina. Namun, dia mengurungkan niatnya saat mendengar suara keributan di luar rumah.
"Aku tidak bohong. Anak wanita itu benar-benar anakmu!"
__ADS_1
Samar-samar Robby mendengar suara itu seperti suara seseorang yang sangat dikenali olehnya. Dia pun bergegas keluar, begitupun dengan Zarina. Ketika keduanya telah berada di luar, betapa terkejutnya mereka saat melihat seorang wanita yang sangat mereka kenali sedang beradu mulut dengan seorang laki-laki yang tadi sempat membuat keributan di rumah ini.
"Mbak Tania!" seru Robby dan Zarina bersamaan.