Anakku Bukan Anak Suamiku

Anakku Bukan Anak Suamiku
Wonder woman


__ADS_3

Suatu pagi Zarina yang merasa kelelahan dan kurang enak badan belum juga terbangun meski sudah hampir pukul tujuh. Kebetulan Alam juga bangun kesiangan, bocah itu beranjak dari kamar menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia sedikit heran saat tidak menemukan sang ibu di dapur. 


"Mama dimana, ya?" Alam mengedarkan pandangan, dapur masih dalam keadaan bersih itu artinya sang ibu belum beraktivitas di tempat itu. "Aku mandi dulu, deh!" 


Selesai membersihkan diri Alam segera kembali ke kamar untuk bersiap dengan seragam sekolahnya. Kini Alam sudah rapi dan tampan dengan balutan celana putih panjang serta atasan batik, rambutnya disisir rapi oleh tangan mungilnya sendiri. Meski usianya masih kecil, Alam sudah terbiasa mandiri. 


"Apa mama masih di kamarnya?" gumam Alam lagi setelah keluar dari kamar dan kembali ke dapur. 


Bocah itu menuntun langkahnya menuju kamar sang ibu. Tangan mungilnya membuka pelan-pelan pintu kamar ibunya. Awalnya Alam tersenyum saat melihat sang ibu sedang tidur di atas kasur empuknya. 


Alam kembali melangkah, seperti kebiasaan Alam saat datang ke kamar itu adalah dia selalu membuka tirai jendela agar cahaya matahari dapat masuk ke kamar sang ibu. 


Biasanya Zarina akan langsung bangun saat merasakan silau matahari yang berhasil menembus ke kamarnya. Namun, Alam sedikit heran ketika sang ibu tidak merespon apa-apa. Dia pun mendekati sang ibu yang masih memejamkan kedua matanya. 


"Mama," panggil Alam lembut, bocah itu berdiri di samping tempat tidur sang ibu. 


"Hm," jawab Zarina lirih. 


"Bangun, Ma. Sudah siang," ucap Alam berusaha membangunkan ibunya. 


"Hm," jawab Zarina lagi. 


Alam mengerutkan dahinya saat merasa ada yang aneh. Jika biasanya sang ibu akan bangun setelah tirai terbuka, kini wanita tercintanya itu justru hanya menjawab seadaanya saat dia berusaha membangunkan. 


Alam mengulurkan tangan kanan lalu menempelkan punggung tangannya ke kening ibunya. "Astaga, panas sekali. Mama sakit?" tanya Alam panik. 


Zarina perlahan-lahan membuka matanya, wanita itu menerbitkan senyum tipis di bibirnya yang sedikit pucat. "Alam sudah bangun, Sayang?" 


"Iya, Ma. Alam mau sekolah, tapi mama sakit," balas Alam sedih. 


"Mama enggak sakit, kok! Ini mau bangun," timpal Zarina berusaha bangkit, akan tetapi kepalanya tiba-tiba pusing seperti habis naik wahana kora-kora. 


"Nggak usah dipaksa, Ma." Alam sigap memegangi sang ibu agar tidak jatuh. "Mama tidur saja," ujar Alam yang tidak ingin terjadi apa-apa pada ibunya. 


Zarina yang kini duduk bersandar di kepala ranjang memandang wajah polos putranya yang terlihat sedih. "Tapi Alam belum sarapan," lirih Zarina. 

__ADS_1


"Alam bisa sarapan roti sama susu, Ma. Biar Alam bikin sendiri," kata Alam seraya menatap wajah pucat ibunya. 


"Kamu bisa?" tanya Zarina sedikit khawatir. 


"Bisa, dong! Alam kan anak pintarnya mama," pujinya pada diri sendiri. 


Zarina tersenyum lembut, tangannya membelai puncak kepala sang putra. "Tapi nanti berangkatnya gimana?" 


"Mama bisa pesankan ojek untuk Alam, 'kan?" tanya balik bocah itu. 


"Bisa, tapi mama khawatir," tutur Zarina jujur. 


"Enggak usah khawatir, Ma. Alam bisa jaga diri, kok!" 


Untuk sejenak zarina terdiam, wanita itu sedang berpikir untuk mengambil keputusan. Sebenarnya dia merasa khawatir, akan tetapi melihat keseriusan dan semangat Alam untuk tetap bersekolah akhirnya membuat Zarina mau tidak mau memberikan izin. 


"Ya sudah, kamu sarapan dulu. Mama pesan ojek untuk kamu," balas Zarina yang seketika membuat Alam tersenyum senang. 


"Alam sarapan dulu, ya, Ma." Bocah itu beranjak lalu berjalan beberapa langkah, hingga tiba-tiba dia menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang menatap sang ibu yang terlihat lemas. 


Bocah itu malah berbalik badan dan menghampiri Zarina. "Mama benar tidak apa-apa kalau Alam tinggal sekolah? Atau kita periksa dulu saja, Ma." 


"Mama tidak apa-apa, hanya masuk angin aja. Kamu jangan khawatir. Sekolah yang fokus, biar makin pinter," balasnya dengan senyum yang tidak pudar dari wajahnya yang pucat pasi. 


"Ya udah, Alam buatkan roti dan teh hangat ya, biar mama bisa minum obat," bujuk Alam yang diangguki oleh Zarina. 


Alam kini bergegas ke dapur untuk membuat sarapan untuknya dan sang ibu. Dua roti dengan selai strawberry, segelas susu, serta secangkir teh hangat kini berhasil dia buat dengan perjuangan yang cukup mengharukan jika ada seseorang yang melihatnya. 


Selesai membuat sarapan sederhana itu Alam kembali ke kamar sang ibu dengan membawa nampan berisi makanan serta minuman buatannya. Zarina tersenyum bangga saat melihat sang putra membawakan dirinya sarapan. 


"Kita sarapan bareng ya, Ma!" ajak Alam setelah menaruh nampan itu di atas meja dan membawa piring berisi roti ke hadapan sang ibu. 


"Roti selai buatan anak mama, sepertinya enak," puji Zarina penuh rasa bangga. 


"Tentu aja enak, Ma. Alam buatnya dengan penuh cinta, loh!" 

__ADS_1


Mereka berdua memakan sarapannya hingga roti habis tidak tersisa. Alam langsung mengambilkan teh hangat serta obat pusing untuk ibunya. Tangan mungil itu memberikan teh serta obat kepada Zarina yang langsung diterima oleh wanita itu dengan senang hati. 


"Terima kasih, Sayang," ucap Zarina. 


"Sama-sama, Ma." Alam meneguk susu miliknya hingga tandas. 


Bocah itu lalu mengambil piring, cangkir, dan gelas yang sudah kotor dan mengembalikannya ke dapur. Alam buru-buru berlari ke kamarnya untuk mengambil tas sekolah setelah melihat jam dinding yang menunjukkan pukul setengah delapan. Bocah laki-laki yang sudah mandiri diusianya yang masih sangat kecil itu kembali lagi ke kamar ibunya untuk berpamitan. 


"Ma, Alam berangkat dulu, ya!" 


Zarina memeriksa ponselnya yang ternyata memang sudah waktunya Alam untuk berangkat sekolah. "Alam hati-hati, ya! Bang Fikri udah nunggu di depan," ujar Zarina menyampaikan bahwa ojek yang dipesan sudah menunggu Alam di halaman rumah. 


"Oke, Ma. Mama baik-baik di rumah, semoga cepat sembuh," kata Alam yang tentu membuat Zarina terharu. 


Alam langsung berlari keluar setelah Zarina memberikan uang untuk ongkos ojek dan uang saku untuk jajan Alam di sekolahnya. Bocah itu keluar dari rumah dan mendapati seorang pria memang menunggunya di depan rumah. 


"Selamat pagi, Alam," sapa si tukang ojek bernama Fikri seraya mengulurkan helm keci. 


"Pagi, Bang Fikri." Alam menerima helm yang diberikan oleh Fikri dan langsung naik ke boncengan. 


"Alam tumben minta anterin abang, biasanya mama yang antar, 'kan?" tanya Fikri sambil menyalakan mesin motornya. 


"Mama lagi sakit, Bang." Alam melingkarkan kedua tangannya di perut Fikri agar tidak jatuh saat motor itu melaju. 


"Oh, mama kamu bisa sakit juga ternyata." Fikri mulai mengendari motornya. 


"Bisalah, Bang. Mama kan manusia," jawab Alam singkat. 


"He-he-he, bang Fikri kira mama kamu itu Wonder woman. Sejak tinggal di sini, Abang baru kali ini denger mama kamu sakit," kata Fikri yang hanya ditanggapi Alam dengan merotasikan kedua bola matanya. 


"Mama kamu itu orang hebat, Alam. Dia berjuang membesarkan kamu sendirian, tidak banyak loh wanita yang bisa menjalani tugas ganda sebagai seorang ibu sekaligus ayah bagi anaknya. Kamu harus bersyukur karena memiliki ibu sepertinya," imbuh Fikri menasehati Alam. 


"Abang sepertinya tahu banyak tentang mama, apa bang Fikri juga tahu tentang papaku?" tanya Alam tiba-tiba. 


Fikri menggeleng. "Bang Fikri enggak tahu, Alam. Sejak pindah ke sini, mama kamu memang hanya berdua dengan kamu saja. Mungkin papa kamu sudah meninggal, memangnya mama kamu tidak cerita?" 

__ADS_1


__ADS_2