
Robby dan Tania sedang membeli bakso di warung tenda yang tidak jauh dari rumah. Kini keduanya tengah menunggu si penjual membuatkan pesanan.
Raut wajah Zarina masih terlihat murung. Wanita itu masih saja memikirkan ucapan Tania tadi.
"Mas," panggil Zarina kepada Robby yang duduk di sebelahnya.
"Ya, Rin," jawab Robby, lelaki itu menoleh ke samping.
"Mas Robby serius ingin rujuk denganku?" tanya Zarina.
Robby mengernyitkan dahi. Bingung karena wanita di sebelahnya ini tiba-tiba menanyakan hal itu lagi. Namun, tidak lama kemudian Robby paham mengapa Zarina kembali membahas perkara itu.
"Kamu masih memikirkan ucapan Mbak Tania tadi, ya?"
"Iya, Mas. Kalau dipikir-pikir, kata-kata Mbak Tania itu tidak salah," balas Zarina.
"Rin, hubungan ini kita yang menjalani. Kenapa harus memerdulikan penilaian orang lain?"
"Tapi Mbak Tania bukan orang lain, Mas. Dia kakak kamu," ujar Zarina.
"Lalu, jika Mbak Tania adalah kakakku, dia berhak menentukan masa depanku, Rin?"
__ADS_1
Zarina menggeleng. Kini dia dalam kebimbangan. Haruskah dia menyepelekan penilaian orang lain demi kebahagiaannya.
Robby menggapai tangan Zarina, lalu memindahkan tangan wanita itu ke pangkuannya. Zarina sendiri masih menatap raut wajah Robby yang terlihat begitu yakin dengan keputusannya.
"Aku takut kamu menyesal, Mas," ucap Zarina menyampaikan kekhawatirannya.
"Aku tidak akan pernah menyesal atas keputusanku kali ini, Rin. Tolong jangan ragu dengan hubungan kita," pinta Robby terdengar serius.
"Kamu yakin?" Zarina belum juga yakin dengan keputusan yang diambil oleh Robby.
"Seribu persen aku yakin, Rina. Aku sayang kamu dan Alam," ucap Robby, dia berusaha meyakinkan Zarina agar tidak lagi muncul keraguan.
Pembicaraan mereka terhenti saat si penjual bakso datang membawa kantong plastik hitam yang berisi pesanan Robby. Lelaki itu segera membayar pesanan, lalu mengajak Zarina untuk pulang.
Mereka hendak menaiki sepeda motor yang dikendarai oleh Robby. Namun, kehadiran seseorang yang sangat tidak diharapkan oleh keduanya terpaksa membuat mereka tetap berada di sana.
Lelaki dengan Hoodie hitam itu menatap Zarina dan Robby dengan sinis. Sementara itu, Robby langsung menarik Zarina dan menyembunyikan wanita itu di belakang punggung tegapnya.
"Mau apa Anda?" tanya Robby, tangannya masih menggenggam tangan Zarina yang berada di balik punggungnya.
"Seharusnya saya yang bertanya. Sedang apa Anda bersama Zara?"
__ADS_1
"Apa salahnya jika saya pergi bersama istri saya?"
"Istri?" Tidak langsung percaya begitu saja. Dafis berusaha melihat Zarina yang tertutup oleh tubuh kekar Robby.
"Kenapa? Anda masih berniat untuk menghancurkan rumah tangga kami lagi?" tanya Robby dengan nada sinis.
"Cih! Rumah tangga kalian hancur juga karena kebodohan Anda sendiri. Lelaki tanpa harga diri," ejek Dafis kepada Robby.
"Terserah Anda mau bilang apa. Saya tidak peduli dengan mulut sampah Anda." Robby berusaha untuk tidak terpancing dengan olokan Dafis, sedangkan Zarina semakin mengeratkan genggamannya pada lengan Robby.
"Zara. Kamu yakin mau kembali pada laki-laki yang pernah membuang kamu seperti sampah?" Dafis beralih menghina Zarina.
"Jaga mulut Anda! Jangan pernah menghina istri saya dengan mulut busuk Anda!" sentak Robby yang mulai kesal.
Dafis menertawakan Robby yang kini membela Zarina. Padahal, dia sudah tahu bagaimana dulu Robby menceraikan Zarina ketika tahu bahwa Zarina melahirkan anak yang bukan anak lelaki itu. Dafis tentu saja tahu, sebab Tania sudah membocorkan semua informasi itu kepada Dafis.
"Saya tidak akan mengganggu kalian, jika kalian serahkan Alam padaku," ucap Dafis usai puas menertawakan Robby.
"Jangan harap kami akan menyerahkan Alam pada Anda. Anda bukan siapa-siapa untuknya," jawab Robby.
"Benarkah? Anda yakin bahwa saya bukan siapa-siapa untuk Alam? Lalu, kalian bisa jelaskan hasil tes DNA ini." Dafis memperlihatkan kertas yang ada di tangannya.
__ADS_1
Netra Robby dan Zarina seketika membulat saat melihat Dafis memiliki hasil tes DNA itu. Selembar kertas yang dulu disembunyikan oleh Zarina ketika mengetahui bahwa Alam bukanlah anak biologis Robby.
"Kenapa? Kalian kaget karena saya memiliki bukti kuat bahwa Alam bukan anak Anda, Mas Robby?"