
Robby sedang sibuk meninjau lokasi proyek pembangunan perumahan. Sebagai seorang mandor pekerjaannya juga tidak mudah, selain harus mengawasi para pekerja, dia juga harus memastikan sendiri bahan material yang digunakan.
Saat sedang mengatur para pekerjanya, sebuah mobil mewah berhenti di lokasi proyek tersebut. Dua orang turun dari mobil. Salah satunya adalah atasannya, sedangkan seorang wanita yang berjalan bersama sang atasan merupakan asisten si bos.
Sebagai seorang bawahan, Robby yang melihat kedatangan sang bos pun bergegas menghampirinya.
"Bos," sapa Robby dengan sopan.
"Bagaimana, Rob? Apakah semua berjalan sesuai rencana?" tanya sang bos.
"Seperti yang bos lihat, semua berjalan sesuai rencana. Pembangunan perumahan ini sudah pada tahap tujuh puluh persen. Hanya tinggal sedikit lagi menyelesaikan bagian utara lalu kita masuk tahap finishing," jelas Robby yang langsung dimengerti oleh bosnya.
"Bagus, kamu memang selalu bisa diandalkan, Rob. Itu kenapa saya lebih suka bekerja sama dengan kamu dari pada mereka yang hanya membanggakan nama dan gelar, tetapi kerjanya hanya makan gaji buta dan bahkan banyak diantara mereka yang nekat korupsi," kata si bos yang hanya ditanggapi dengan senyuman oleh Robby.
"Anita, kau catat semua yang kita tinjau di sini sebagai laporan pada bos pusat. Saya akan berkeliling ke belakang sebentar," imbuh sang bos yang kini beralih pada asistennya.
Setelah kepergian sang bos, kini di tempat itu hanya ada Robby dan Anita. Mereka berdiri berdampingan. Robby belum beranjak dari sana karena memang siap siaga jika saja ada yang perlu ditanyakan oleh Anita padanya.
Anita yang sedang mencatat semua laporan, curi-curi pandang kepada laki-laki gagah di sampingnya. Sudah lama wanita itu memiliki ketertarikan khusus pada laki-laki kepercayaan sang bos. Namun, laki-laki itu sama sekali tidak peka dengan perasaannya.
"Mas Robby," panggil Anita sedikit malu-malu.
"Iya, Mbak Anita," jawab Robby ramah.
"Boleh saya bertanya?" tanyanya memastikan.
"Boleh, Mbak. Saya disini memang untuk menjawab pertanyaan Mbak Anita," jawab Robby, tatapannya masih fokus memantau para pekerja.
"Panggil Anita saja, Mas. Usia Mas Robby kan lebih dewasa dari saya," ujar Anita sejenak menatap Robby, ingin memastikan reaksi laki-laki di sampingnya.
"Saya tidak enak, Mbak. Kita hanya sebatas profesional kerja, jadi saya merasa tidak pantas memanggil Mbak Anita dengan sebutan nama saja," jelas Robby masih dengan nada sopan.
"Tapi … saya ingin lebih dekat dengan Mas Robby," gumam Anita yang seketika membuat Robby menoleh.
"Maksud Mbak Anita?"
"Saya ingin mengenal Mas Robby lebih jauh lagi, Mas. Bukankah untuk sekarang Mas Robby juga sama seperti saya?"
"Jujur saya tidak paham dengan ucapan Mbak Anita," tutur Robby.
"Mas Robby kan Duda, saya juga janda. Apa salahnya jika kita mencoba berkenalan lebih dekat?"
"Maaf, Mbak Anita. Saya harus mengecek pekerja, jika tidak ada yang penting lagi, saya permisi." Robby sengaja menghindari Anita karena pembahasan mereka menurut Robby sangatlah sensitif.
__ADS_1
Anita hanya bisa menatap kesal punggung laki-laki yang bersikap jual mahal padanya. Padahal di luar sana banyak sekali laki-laki yang mencoba mengambil perhatiannya. Namun, Anita memilih untuk tetap menunggu Robby yang jelas-jelas menciptakan jarak yang sangat jauh dengannya.
"Tiga tahun aku menunggu kamu, Mas Robby. Tapi kamu selalu saja menghindar," keluh Anita lirih.
Sore harinya Robby sedang dalam perjalanan pulang ke rumah. Malang memang tidak berbau, ketika di perjalanan yang sepi sepeda motor yang dikendarai oleh Robby tiba-tiba kempes. Laki-laki itu pun turun dari motornya.
"Astaga, ada paku. Pantas saja kempes," keluh Robby seraya menendang ban motornya.
"Tempat ini sepi lagi, bengkel juga jauh!"
Terpaksa Robby menuntun motornya. Cukup jauh laki-laki itu mendorong motor hingga keringat membanjiri keningnya. Merasa sangat lelah, Robby akhirnya berhenti sejenak untuk beristirahat.
"Capek banget," keluhnya seraya menyeka keringat di kening.
Dari kejauhan terlihat sebuah mobil melaju ke arahnya. Namun, Robby tidak memerdulikan, bahkan saat mobil itu melewatinya pun Robby sama sekali tidak menghiraukannya. Laki-laki itu masih berusaha mengatur napasnya yang terengah-engah.
Tiba-tiba seseorang mengulurkan sebuah botol air mineral ke hadapan Robby yang masih terduduk di bahu jalan. Robby seketika mendongak, seorang wanita tersenyum hangat padanya.
"Mbak Anita!" pekik Robby yang segera bangun.
"Mas Robby ngapain duduk disini? Kelihatannya capek banget gitu. Minum dulu, Mas." Anita kembali menyodorkan air mineralnya yang terpaksa diterima oleh Robby karena dia memang sangat haus.
"Terima kasih, Mbak. Ini motor saya kempes," terang Robby.
"Aduh, kasihan. Bengkel masih jauh lagi, Mas," kata Anita.
"Iya, Mbak," jawab Robby, dia membuka botol air mineral dan meneguknya hingga tandas.
"Ya ampun, capek banget ya, Mas."
Robby hanya tersenyum tipis. Disaat yang bersamaan ponsel milik Robby yang berada di saku celana berdering. Laki-laki itu segera memeriksa ponselnya, akan tetapi Robby langsung menolak panggilan itu saat melihat nama Tania yang tertera di layar.
"Siapa, Mas? Kok enggak di angkat?"
"Enggak penting," jawab Robby sambil memaksa senyum.
"Oh, terus Mas Robby mau dorong lagi motornya sampai ke bengkel?" tanya Anita.
Belum sempat Robby menjawab pertanyaan Anita, ponselnya kembali berdering. Robby menarik napas dalam saat melihat nama Tania kembali terpampang di layar ponselnya.
"Angkat saja, Mas. Siapa tahu penting," kata Anita.
"Saya angkat dulu, Mbak."
__ADS_1
Robby terpaksa mengangkat panggilan dari sang kakak yang sangat cerewet dan selalu memaksa untuk berkenalan dengan teman-teman sosialitanya itu.
"Ada apa, Kak?" tanya Robby tanpa basa-basi.
"Kamu kemana, sih, Rob? Lupa kalau hari ini jadwal check up ibu?"
"Astaga, aku lupa, Mbak. Motorku juga tiba-tiba kempes, kena paku di jalan. Bengkel juga jauh dari sini," jelas Robby.
"Terus gimana? Sebentar lagi kita harus berangkat ke rumah sakit."
"Nanti aku usahakan segera pulang. Mbak bantu ibu bersiap dulu," pinta Robby sebelum mengakhiri panggilan.
"Ada apa, Mas?" tanya Anita.
"Sore ini jadwal check up ibu saya, Mbak. Saya harus segera pulang," jawab Robby.
"Mas Robby mau saya antar? Kalau nunggu Mas Robby nyari bengkel dulu pasti lama," bujuk Anita.
"Memangnya enggak merepotkan, Mbak?" tanya Robby tidak enak hati.
"Tidak, Mas. Nanti biar saya hubungi bengkel langganan saya untuk urus motor Mas Robby," jawab Anita yang tidak pantang menyerah untuk membujuk laki-laki idamannya.
Anita merasa mendapat angin segar saat Robby mendapat musibah yang baginya seperti peluang untuk lebih dekat dengan laki-laki yang selama ini selalu jual mahal padanya itu.
"Em, kalau memang tidak merepotkan, saya sangat berterima kasih sama Mbak Anita."
Pada akhirnya Robby diantar oleh Anita hingga ke rumah. Motor Robby ditinggalkan di pinggir jalan. Namun, sebelum itu Anita sudah menghubungi seseorang untuk mengurus motor laki-laki incarannya.
Menempuh perjalanan cukup jauh, mereka akhirnya sampai di rumah Robby. Laki-laki itu segera turun dari mobil saat melihat sang ibu dan kakaknya sudah menunggu di teras rumah.
Sementara itu, Tania penasaran karena sang adik turun dari mobil mewah berwarna hitam. Tidak berselang lama, seorang wanita ikut menyusul Robby. Tania mengerutkan dahi saat wanita itu terus berjalan mengikuti Robby ke arahnya, dan sepertinya Robby sama sekali tidak menyadari bahwa Anita mengikutinya.
"Robby, itu siapa?" tanya Tania dan Mariana kompak.
Robby langsung menoleh ke arah yang ditunjuk oleh sang ibu dan kakaknya. Laki-laki itu terkejut saat melihat Anita mengikutinya turun dari mobil.
"Loh, Mbak Anita kok ikut turun?"
"Sengaja, Mas. Saya mau antarkan ibu kamu ke rumah sakit," jawabnya tanpa ragu.
Tania, Mariana, tidak terkecuali Robby juga membulatkan matanya saat mendengar jawaban dari wanita cantik itu. Sementara itu, Anita justru tersenyum lebar saat melihat reaksi ketiga orang di depannya.
"Memangny kamu siapa?" tanya Tania mulai kepo.
__ADS_1