Anakku Bukan Anak Suamiku

Anakku Bukan Anak Suamiku
Tante Judes


__ADS_3

Mariana yang baru saja membuka mata tidak sengaja melihat sang putra yang sedang memegangi kepala. 


"Rob, kamu kenapa? Sakit?" tanya Mariana tiba-tiba, Robby sampai terjingkat kaget dan langsung melepaskan tangannya dari kepala. 


"Ah, ibu udah bangun?" 


"Iya, Rob. Kamu kenapa? Ibu lihat dari tadi kamu pegang kepala terus." 


"Cuma sedikit pusing aja, Bu. Mungkin masuk angin," jawab Robby sambil tersenyum, padahal saat ini kepalanya semakin terasa sakit. 


Mariana menggeleng lemah, "Kamu kecapean itu, Rob. Selama lima tahun terakhir, kamu kan semakin sibuk bekerja sampai tidak memerhatikan kesehatan kamu sendiri," ujar Mariana menasehati putranya. 


"Menyibukkan diri agar tidak larut dalam kegagalan itu boleh-boleh saja, tapi kamu juga harus mengutamakan kesehatan. Ibu lihat kamu sejak jadi mandor malah lebih sibuk," sambung Mariana mengungkapkan apa yang mengganjal di hati. 


Robby menyentuh punggung tangan sang ibu dan memberi usapan lembut di sana. "Ibu tahu kan, Robby tidak hanya memegang satu proyek saja. Tolong maklum jika Robby lebih sibuk dari yang dulu, tapi sekarang kehidupan kita jauh lebih baik, 'kan, Bu? Ibu bisa mendapatkan perawatan medis yang lebih intens. Robby tidak ingin ibu sakit-sakitan seperti dulu," terang Robby memberi penjelasan. 


"Terima kasih, ya, Rob. Tapi sekarang kamu juga harus mulai memikirkan kehidupan kamu sendiri, Rob. Ibu tidak mau kalau nanti kamu hidup sendirian di masa tua," ujar Mariana menyampaikan kekhawatirannya. 


"Robby kan punya ibu, tidak perlu pusing memikirkan sesuatu yang belum pasti, Bu. Ibu pasti lebih paham bagaimana perasaan Robby saat ini." 


"Ibu tahu kamu belum bisa melupakan Zarina, Rob. Cintamu padanya begitu besar, bahkan pengkhianatan yang dilakukan olehnya tidak berhasil melengserkan posisinya di hatimu," jawab Mariana yang amat paham dengan perasaan putranya. 


"Tapi kehidupan harus tetap berjalan meski tidak bersamanya, Rob. Kamu masih bisa mencari wanita yang lebih baik darinya," sambung Mariana menasehati. 


"Nanti ya, Bu. Robby belum siap membuka hati," pungkas Robby yang dimengerti oleh Mariana. 


*****


Alam dan Zarina masih asik bermain di Timezone. Mereka menghabiskan waktu berdua di tempat hiburan itu. Zarina sangat lega karena bisa melihat senyum, tawa, dan kebahagiaan Alam saat ini. 


"Maaf, Alam. Kamu memang tidak memiliki seorang papa , tapi mama akan berusaha sebaik mungkin untuk membuat kamu bahagia." 


Alam yang melihat sang ibu melamun, seketika menghampiri wanita tercinta. Tangan mungilnya menyentuh pelan lengan ibunya. 


Zarina terkesiap ketika merasakan sentuhan lembut di lengannya. Seketika senyum cerah terbit di bibirnya saat Alam juga tersenyum padanya. 


"Kenapa, Sayang?" tanya Zarina sambil membelai rambut lebat putranya. 

__ADS_1


"Sudah sore, Ma. Ayo kita pulang!" ajak Alam yang mengira ibunya sudah lelah. 


"Kamu sudah selesai mainnya? Kalau belum, lanjutkan dulu." 


"Tidak, Mam. Alam udah capek," jawabnya berbohong. 


"Oh, ya sudah. Tapi sebelum pulang kita makan dulu, yah!" 


"Oke, Ma." 


Zarina langsung menggandeng tangan putranya. Mereka berjalan keluar dari tempat hiburan tersebut. 


"Mau makan di sini atau di luar saja, Alam?" Zarina menawari putranya. 


"Terserah mama saja," jawab Alam dengan senyum manisnya. 


Zarina membawa Alam ke salah satu restoran cepat saji yang ada mall tersebut. Wanita dewasa itu mengedarkan pandangan untuk mencari tempat duduk. Ketika netranya melihat meja yang kosong, Zarina buru-buru mengajak putranya untuk segera menempati meja dan kursi kosong itu. 


"Ayo, Alam!" 


"Iya, Ma." 


"Ini tempatku!" seru seseorang itu. 


Zarina menoleh ke belakang, dilihatnya seorang wanita berpakaian ketat berdiri dengan tatapan tajam kepadanya. Dia memperhatikan wajah seseorang yang kini sedang menatapnya lekat, bagaikan sedang mengibarkan bendera perang. Wajah wanita itu seperti tidak asing di ingatannya. 


 "Kamu! Dasar … pelakor. Kau mengikuti aku, yah!" tuduh wanita itu kepada Zarina. 


Seketika ingatan Zarina kembali pada masa-masa itu, saat wanita di depannya ini melabraknya ke rumah. Zarina kini ingat bahwa wanita itu adalah Anggita, istri Dafis. 


"Em, maaf. Saya permisi," pamit Zarina sopan, dia sengaja ingin menghindari wanita arogan di depannya karena takut jika Alam mengetahui tentang rahasia masa lalunya. 


"Ayo, Alam. Kita makan di tempat lain saja!" 


"Iya, Ma." 


Alam menurut saat sang ibu menarik tangannya dengan pelan. Meski sebenarnya Alam sedikit bingung dengan perkataan yang diucapkan oleh wanita asing itu. Dari ucapannya, Alam dapat menebak bahwa antara sang ibu dan wanita tadi pernah terjadi sesuatu yang buruk. 

__ADS_1


Zarina dan Alam keluar dari pusat perbelanjaan itu. Mereka segera menuju tempat parkir untuk mengambil motornya. 


Alam naik ke boncengan ketika sang ibu sudah lebih dulu naik. Bocah laki-laki itu sama sekali belum mengeluarkan kata apapun sejak tadi. Pikirannya masih tertuju pada ucapan wanita tadi yang mencaci ibunya dengan sebutan pelakor. 


"Alam nanti mau makan apa?" tanya Zarina sebelum mengendarai motornya. 


Tidak ada jawaban dari Alam. Zarina memperhatikan Alam dari pantulan kaca spion motor. Wanita dewasa itu mengerutkan kening saat melihat sang putra yang seperti sedang memikirkan sesuatu. 


"Alam," tegur Zarina seraya menowel lutut putranya. 


Alam yang terkejut mengerjapkan matanya, "Ada apa, Ma?"


"Hm, kamu mau makan apa?" tanya Zarina sekali lagi. 


"Bebas, Ma. Mampir ke tempat ikan bakar Bang Joko juga boleh," jawab Alam menyebutkan tempat makan favoritnya, bocah itu memang sangat gemar makan ikan, terlebih lagi ikan bakar. 


"Ya udah, kita ke tempat Bang Joko saja," pungkas Zarina memutuskan. 


Zarina langsung mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Selain ingin menikmati waktu berdua dengan Alam, Zarina juga tidak mau kebut-kebutan dan membahayakan keselamatan sang anak. 


Hampir tiga puluh menit kemudian, mereka sampai di tempat makan favorit Alam. Mereka turun dari motor kemudian masuk ke dalam tempat yang terlihat sederhana itu, meski tempatnya sederhana, tetapi rumah makan itu tergolong cukup ramai. 


Kebahagiaan terpancar di wajah Alam saat ini. Bocah itu merasa sangat bahagia karena di hari ulang tahunnya, dia bisa menikmati waktu bersama satu-satunya keluarga yang dimiliki. Apa lagi ibunya itu memberikan semua yang dia inginkan. Mulai dari tiup lilin, jalan-jalan, main di Timezone, hingga kini mereka mampir ke tempat makan favoritnya. 


Setelah mendapatkan tempat duduk, Zarina memesan makanan kesukaan putranya saat seorang pelayan datang. Kini keduanya sabar menunggu makanan siap. 


Alam memandangi wajah cantik ibunya yang terlihat sedikit murung. Entah apa sebabnya, tetapi Alam bisa menyimpulkan bahwa murungnya sang ibu berkaitan dengan wanita arogan tadi. 


"Mama, hari ini kenapa Alam sial sekali, yah? Padahal ini hari ulang tahun Alam, tetapi Tuhan malah mempertemukan Alam sama tante-tante galak terus," keluh Alam kepada Zarina. 


"Tante-tante galak? Memangnya Alam bertemu siapa saja?" tanya Zarina penasaran. 


"Tadi waktu mama ke toilet, Alam ketemu Tante judes yang mengganggu perkenalan Alam dengan Om Robby, terus –" 


"Tunggu, Alam bilang apa tadi?" tanya Zarina memotong cerita putranya. 


"Tante judes," jawabnya memastikan. 

__ADS_1


"Bukan itu, satunya lagi." 


"Oh, Om Robby, Ma. Om baik hati yang tabrakan sama Alam di mall tadi," jawab Alam polos. 


__ADS_2