Anakku Bukan Anak Suamiku

Anakku Bukan Anak Suamiku
Numpang Mandi


__ADS_3

Tidak ingin mengganggu tidur putranya, Mariana memutuskan untuk menaruh ponsel itu di atas nakas. Dia akan menanyakan nanti, setelah Robby bangun. 


Mariana bergegas keluar dari kamar sang putra. Saat wanita tua itu hendak pergi ke dapur untuk membuat makan malam nanti, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumah. Dia pun mengurungkan niatnya untuk ke dapur dan kembali berjalan menuju ruang tamu. 


"Iya, sebentar!" seru Mariana saat pintu terus diketuk. 


Wanita tua itu pun membuka pintu rumah. Saat baru saja dibuka, tampak seorang wanita cantik berdiri di depan pintu. Wanita muda itu tersenyum ke arah Mariana yang tentu saja dibalas senyum juga oleh si wanita tua. 


"Nak Anita!" 


"Ibu," sapa si Anita ramah, dia menggapai tangan kanan Mariana, kemudian mencium punggung tangannya. 


"Nyari Robby, Nak?" tanya Mariana setelah mereka cipika-cipiki. 


"Em, enggak, Bu. Anita sengaja pengen main ke sini," jawabnya disertai senyum hangat. 


"Oh. Silahkan masuk, Nak!" 


"Terima kasih, Bu," balasnya, kemudian mereka masuk bersamaan. 


"Duduk dulu, Nak," ucap si wanita tua. 


"Iya, Bu. Oh iya, ini Anita bawa sesuatu buat ibu. Semoga ibu suka," kata Anita seraya menyerahkan kantong plastik berwarna putih. 


"Loh! Repot-repot, Nak. Harusnya enggak perlu bawa apa-apa," balas Mariana, tetapi demi menjaga perasaan si tamu, wanita tua itu pun menerimanya. 


"Enggak repot, Bu. Lagian itu tadi enggak sengaja lewat, terus pengen beli aja gitu," katanya berbohong. 


"Oalah. Ya udah. Terima kasih, Nak," ucap Mariana tulus. 


"Sama-sama, Bu. Oh iya, Mas Robby mana, Bu?" tanya Anita saat tidak melihat keberadaan Robby, padahal dia sempat melihat motor laki-laki itu. 


"Robby tidur, Nak. Mungkin capek dia. Belakangan ini sering lembur soalnya," jawab Mariana. 


"Oh, iya, Bu. Maklum, sih, Mas Robby itu kepercayaan bos besar, Bu. Jadi wajar kalau semakin sibuk," balas Anita dengan suaranya yang begitu lemah lembut. 


"Iya. Nak Anita mau minum apa? Biar ibu buatkan," tawar Mariana kepada wanita di depannya. 

__ADS_1


"Enggak usah repot, Bu. Lagian Anita baru minum tadi," balasnya basa-basi. 


"Oh. Ya sudah kalau gitu. Nak Anita mau ibu bangunkan Robby? Soalnya ibu mau masak." 


"Enggak, Bu. Biarin Mas Robby istirahat. Em, Anita boleh bantu ibu masak?" 


"Memangnya Anita bisa masak?" tanya Mariana dengan pandangan menyelidik. 


"Kalau cuma masakan rumahan, Anita bisa, Bu. Beda lagi kalau disuruh masak masakan ala resto bintang lima," jawabnya disertai cengiran khas. 


"Oalah. Ibu kira enggak bisa masak. Nak Anita kan pasti sibuk ngantor," ucap Mariana. 


"Waktu kecil Anita sering bantuin Mama masak, Bu. Jadi bisalah sedikit-sedikit," balasnya. 


"Baguslah kalau gitu, Nak. Meskipun wanita karir, tapi tetap harus bisa urus pekerjaan rumah. Kan kalau nanti nikah, ngurusin suami. Kita ke dapur sekarang, yuk!" 


"Ayo, Bu." 


Keduanya kini berjalan ke dapur. Mariana mulai mengambil bahan-bahan masakan di kulkas. Sedangkan Anita mencuci tangannya di wastafel. 


"Ibu mau masak apa?" tanya Anita saat melihat Mariana mengeluarkan kangkung, ayam, udang, Pete, serta bahan-bahan lainnya. 


"Mas Robby suka Pete, Bu?" tanya Anita sedikit terkejut. 


"Pete sama jengkol, Robby enggak mungkin nolak, Nak." 


"Oalah, gitu. Ya udah, kita mulai masaknya, Bu." 


Mariana dan Anita mulai mengupas dan memotong bawang. Mencuci semua bahan-bahan itu sampai bersih. Menyiapkan bumbu hingga mengeksekusi semuanya sambil mengobrol banyak. 


Tidak terasa sudah hampir satu jam mereka berada di dapur. Masakan pun sudah siap disajikan. Mereka pun segera menata semuanya di meja makan. 


"Bu, boleh tidak kalau Anita numpang mandi di sini?" tanya Anita seraya menyeka peluh di kening serta lehernya. "Badan Nita rasanya lengket banget, Bu." 


"Boleh, Nak. Tapi di sini enggak ada baju seukuran kamu," balas Mariana sambil menatap Anita yang terus menyeka keringat ditubuhnya. 


"Anita bawa baju ganti di mobil, kok, Bu. Nita ambil bajunya dulu, ya!" 

__ADS_1


"Ya sudah, sana, Nak." 


Anita pun berlalu, kembali ke mobilnya untuk mengambil pakaian ganti. Setelah itu, dia masuk lagi ke rumah Robby dengan perasaan senang bukan kepalang. Bagaimana tidak? Dia merasa lega karena ibu dari laki-laki yang dicintai bisa menerimanya dengan baik. 


"Kamar mandinya di mana, Bu?" tanya Anita saat kembali ke dapur. 


"Di sana, Nak!" Mariana menunjuk kamar mandi yang berada tidak jauh dari dapur. 


Anita mengikuti arah yang ditunjuk oleh Mariana lalu berkata, "Anita mandi dulu, ya, Bu." 


"Silahkan, Nak." 


Anita berjalan menuju kamar mandi, kemudian membersihkan dirinya di sana. Meski fasilitas rumah Robby tidak sebaik rumahnya. Namun, Anita tetap melakukannya dengan senang hati. 


Sementara itu, Robby baru saja terbangun. Laki-laki itu mencari ponsel yang tadi sempat dia mainkan sebelum tidur. Namun, dia tidak menemukannya. Ketika baranjak dari kasurnya, barulah dia melihat ponselnya di atas nakas sebelah ranjang. 


"Kok, bisa ada di sana? Perasaan tadi aku bawa ke kasur," gumamnya heran. 


Dia pun mengambil ponsel tersebut, lalu menyalakannya. Matanya membulat saat melihat waktu yang tertera di layar ponsel miliknya. 


"Loh, udah sore!" pekiknya, lalu bergegas keluar dari kamarnya. 


Robby langsung berlari menuju kamar mandi. Namun, saat di dapur dia dihentikan oleh si ibu.


"Mau ke mana, Rob?" tanya Mariana saat melihat si putra terburu-buru. 


"Mandi, Bu. Udah sore," jawab Robby tanpa menghentikan langkah, dia terus berjalan hingga sampai di depan kamar mandi. Namun, dari dalam terdengar suara gemericik air serta pintunya pun terkunci. 


"Lagi dipakai mandi sama Anita, Rob," ucap si ibu memberitahu. 


"Mbak Tania?" tanya Robby meralat ucapan ibunya tadi, dia berpikir si ibu salah menyebutkan nama putri sulungnya. 


"Anita, teman kantormu itu, loh!" 


...*******...


Hai, hai, hai. Mampir juga ke karyaku yang lain, yuk! judulnya Bayang Cinta Semu.

__ADS_1



__ADS_2