
Setelah merayakan ulang tahun Alam dengan cara yang sederhana, meski hanya berdua saja, mereka terlihat bahagia. Zarina berniat untuk mengajak putranya itu untuk jalan-jalan sebagai hadiah ulang tahunnya. Sebagai seorang ibu, Zarina tentu saja ingin sang putra memiliki moment berharga di hari spesialnya.
"Alam, maafin mama, yah, Sayang. Mama hanya bisa merayakan ulang tahun kamu secara sederhana," ucap Zarina merasa bersalah karena tidak bisa merayakan hari jadi Alam dengan mewah.
Alam yang saat itu sedang menyantap kue ulang tahunnya seketika menoleh, senyum tipis terbit di bibirnya yang sedikit cemong karena kue tart.
"Begini saja Alam sudah senang, Ma. Setidaknya Alam memiliki mama yang hebat. Terima kasih, karena sudah merawat Alam dengan baik meskipun mama hanya sendirian selama ini."
Bocah berusia lima tahun itu sungguh memilliki pemikiran yang dewasa. Entah karena didikan Zarina yang membuatnya menjadi pribadi yang lebih peka atau justru keadaanlah yang memaksanya menjadi dewasa di usianya yang masih sangat kecil.
Bocah bernama lengkap Alam Putra Alamsyah, bocah malang yang selama hidupnya tidak pernah tahu nama, rupa, bahkan keadaan ayahnya apakah masih hidup atau sudah meninggal. Bocah laki-laki yang mengesampingkan keingintahuannya tentang jati diri sang ayah demi mengutamakan perasaan sang ibu.
"Mama akan selalu ada untuk kamu, Alam. Mama janji," timpal Zarina menatap haru putranya.
"Alam percaya, mama akan selalu menjaga Alam dengan baik. Nanti, setelah Alam besar, Alam yang akan gantian menjaga dan merawat mama."
"Baiklah, mama tidak sabar menunggu Alam jadi besar." Zarina mencubit gemas pipi sang putra. "Oh, iya, mama punya kejutan lain untuk kamu," sambung Zarina.
"Kejutan apa lagi, Ma?" tanya Alam antusias.
"Alam mau tidak kalau jalan-jalan sama mama?"
"Jalan-jalan! Mau, Ma." Alam terlihat gembira ketika mendengar tawaran sang ibu, bocah itu sama sekali tidak bertanya tempat yang akan mereka tuju.
"Ya sudah, kalau gitu mama ganti baju dulu. Kamu tunggu di sini, yah!"
"Okey, Ma."
Zarina langsung berjalan menuju kamarnya untuk bersiap-siap. Meskipun sudah mandi pagi tadi, wanita itu kembali membersihkan diri karena bajunya juga sudah kotor karena terkena bahan-bahan kue yang dia buat.
__ADS_1
Begitu selesai bersiap Zarina kembali ke tempat sang putra menunggunya. Namun, di dapur sudah tidak ada bocah pintar itu, piring yang tadi digunakan untuk memakan kue pun sudah tidak ada. Zarina pun kembali mengayunkan langkah untuk mencari keberadaan sang putra.
"Alam," panggil Zarina dengan suara sedikit keras.
"Ya, Ma. Alam di depan," teriak Alam yang juga mengeraskan volume suaranya.
Zarina segera mempercepat langkahnya untuk menghampiri sang putra yang ternyata sudah menunggunya di depan rumah. Rumah yang Zarina beli dengan hasil keringatnya sendiri. Meskipun sederhana, akan tetapi rumah itu terasa asri. Halaman rumah itu cukup luas dan ditumbuhi oleh beberapa pohon yang membuat suasana semakin adem.
"Alam. Sedang apa, Sayang?" tanya Zarina saat sudah berada di ambang pintu, wanita itu tersenyum saat melihat sang putra sedang memegang sebuah buku dan pensil.
"Belajar, Ma. Sambil nunggu mama, Alam mau kerjain Pekerjaan Rumah yang dikasih Bu Guru," jawabnya sambil menutup bukunya, bocah itu langsung memasukkan kembali bukunya ke dalam tas.
"Rajin sekali anak mama," puji Zarina dengan wajah berseri-seri.
Zarina merasa beruntung memiliki Alam di dalam hidupnya, meski sang anak lahir ke dunia dengan cara yang salah. Hanya satu yang tidak pernah disesalkan oleh Zarina atas masa lalunya yang kelam, yakni hadirnya Alam menjadi semangatnya selama ini.
"Sebentar, Ma. Alam taruh tas di dalam dulu, yah!"
Beberapa saat menunggu, akhirnya Alam keluar. Bocah laki-laki itu ternyata juga mengganti pakaiannya dengan celana jeans panjang serta kemeja bercorak kotak-kotak. Seketika pikiran Zarina teringat kepada seseorang yang sering berpenampilan seperti putranya saat ini.
"Ayo, Ma!" ajak Alam saat sudah berada di hadapan sang ibu.
Zarina tidak menjawab, sorot matanya juga kosong. Alam yang melihat hal itu pun mengerutkan keningnya. "Mama kenapa?" tanya Alam sambil menyentuh lengan ibunya.
Sentuhan lembut itu menarik paksa Zarina dari lamunannya tentang seseorang yang sangat dia rindukan. Wanita itu mengerjapkan matanya beberapa kali lalu tersenyum kecil saat melihat sang putra menatapnya dengan ekspresi bingung.
"Alam sudah siap?" tanya Zarina yang diangguki oleh Alam.
"Mama kenapa? Tidak enak badan?" tanya balik Alam dengan tatapan menyelidik.
__ADS_1
"Tidak, Sayang. Mama sehat, kok! Ayo kita berangkat!" Zarina beranjak dari duduknya dan segera menggandeng putranya itu.
"Mama yakin?" tanya alam memastikan.
"Yakin, Sayang. Mama baik-baik saja," jawab Zarina sambil menaiki motornya, Alam juga ikut naik ke boncengan.
"Pakai ini." Zarina mengulurkan helm berukuran kecil milik Alam yang segera diterima dan dipakai oleh bocah itu.
"Kalau mama sakit, kita batalkan saja jalan-jalannya, Ma. Alam tidak apa-apa, kok!" Bocah itu masih saja mengkhawatirkan sang ibu.
"Tidak, Alam. Mama sehat, kamu pegangan ya." Zarina memutar gas dan motorpun melaju.
Sepanjang perjalanan, keduanya banyak sekali mengobrol meski harus sedikit berteriak karena suara yang terbawa oleh angin. Namun, keceriaan Alam ketika menceritakan tentang dunia sekolahnya membuat Zarina merasa bahagia. Bocah laki-laki itu terlihat tidak memiliki beban apapun, siapa sangka hatinya sangatlah merasa sepi tanpa kehadiran seseorang yang bisa dia panggil dengan sebutan papa.
Hampir tiga puluh menit kemudian mereka sampai di sebuah pusat perbelanjaan. Alam turun setelah motor yang dikendarai oleh ibunya berhenti di parkiran. Mereka melepas helm lalu bergegas masuk ke dalam mall.
Mereka memutari gedung besar itu. Awalnya Zarina berniat untuk membawa putranya ke tempat itu untuk bermain di Timezone. Namun, ketika mengitari beberapa toko, Zarina melihat sesuatu yang mungkin akan disukai oleh putranya.
Sedangkan di sisi lain, Alam sebenarnya juga melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Namun, dia tidak mengatakan hal itu kepada Zarina karena tidak ingin ibunya terbebani, bukan takut di marahi, tetapi Alam tidak ingin sang ibu merasa sedih jika tidak memiliki uang untuk membelikan barang yang diminta olehnya.
Saat sebuah ide melintas di pikirannya, Zarina pun berlutut di depan putranya, "Alam, mama ingin ke toilet sebentar, kamu berani tidak tunggu di sini?"
"Berani, Ma. Alam kan sudah besar sekarang," jawabnya yakin.
"Ya udah. Kamu tunggu di sini sebentar. Duduk di sana saja, ini hape mama biar Alam yang pegang," ujarnya sambil memberikan ponselnya kepada Alam.
Zarina pergi setelah memberikan ponselnya dan memastikan sang putra sudah berjalan menuju tempat yang tadi ditunjuk olehnya. Wanita bergelas ibu beranak satu itu berniat untuk membelikan barang yang dia lihat tadi sebagai kado untuk anak semata wayangnya.
Sementara itu, Alam yang sedang berjalan menuju deretan kursi yang terdapat di salah sudut toko, tiba-tiba tertabrak oleh seseorang. Alam jatuh terjengkang ke belakang karena tidak kuat menahan tenaga si penabrak yang hanya beberapa barangnya saja jatuh berhamburan.
__ADS_1
"Maaf, Nak. Om tidak sengaja," ucap seseorang itu yang langsung berlutut untuk membantu bocah yang tidak sengaja ditabrak olehnya.