Anakku Bukan Anak Suamiku

Anakku Bukan Anak Suamiku
Pertengkaran Robby dan Tania


__ADS_3

Zarina tentu saja kebingungan harus menjelaskan kepada anak sekecil Alam dengan cara apa? Haruskah dia jujur bahwa ayah kandungnya bukanlah suami mamanya? Tidak, Zarina tidak bisa melakukan itu karena takut jika Alam akan membenci dirinya. 


"Ma, jangan diam saja! Tolong jawab apakah Alam benar-benar anak papa?" tanya Alam yang terus menekan ibunya. 


"Alam, bisa kita bicarakan ini nanti? Mama tiba-tiba pusing," ucap Zarina. Sebenarnya alasan saja. Zarina hanya ingin menghindari pertanyaan dari Alam. 


Alam yang tadinya begitu menggebu-gebu ingin mengetahui keberadaannya, tiba-tiba berubah pikiran ketika mendengar sang ibu yang mengeluh pusing. Anak kecil itu merasa bersalah karena terlalu menekan sang ibu. 


"Mama sakit?" tanya Alam khawatir. 


"Bukan sakit, Alam. Mama hanya pusing saja," ucap Zarina meralat ucapan sang putra. 


"Ini pasti karena ulah Alam, 'kan?" 


"Tidak, Nak. Jangan berpikir seperti itu. Mama hanya sedang tidak enak badan saja. Ayo, bantu mama ke kamar!" Zarina mengulurkan tangannya agar Alam mau menggandengnya kembali ke kamar. 


*****


Sementara itu, Robby yang membawa sang kakak pulang ke rumah langsung naik pitam, sebab selama perjalanan pun Tania selalu membahas tentang kesalahan Zarina dulu. Dia semakin merasa muak karena sang kakak terlalu ikut campur tentang kehidupannya. 

__ADS_1


"Cukup, Mbak! Robby malas banget dengerin ocehan Mbak Tania yang makin enggak jelas!" bentak Robby pada Tania. 


"Rob! Mbak cuma enggak mau kamu jatuh pada lubang yang sama. Apa yang kamu harapkan dari wanita pengkhianat seperti Zarina?" Tania sengaja meninggikan suara agar ibunya mendengar pertengkaran mereka. 


Benar saja, tidak lama Mariana pun keluar dari dalam rumah. Wanita tua itu langsung menatap tajam kedua anaknya yang justru ribut di depan rumah. 


"Ini ada apa? Kenapa kalian ribut?" tanya Mariana heran. 


"Itu, Bu. Robby. Dia mau balikan lagi sama Zarina!" Tania mengadu pada ibunya. 


Mariana sejenak menatap Robby yang seketika membuang muka ketika sang ibu menatapnya. Wanita tua itu kembali menatap Tania dengan kepala menggeleng cepat. 


"Kalian ini udah besar, tapi kenapa bertingkah seperti bocah, sih?" 


"Benar itu, Tania?" tanya Mariana sambil menatap tajam putri sulungnya itu. 


Seketika Tania menundukkan kepalanya. Dia tidak menjawab dengan kata-kata ataupun tindakan. Namun, dengan dia menundukkan kepala saja, Mariana sudah yakin dengan jawabannya. 


"Kamu enggak ada bosan-bosannya, Tania. Adikmu itu bukan anak kecil. Dia sudah lebih dari cukup untuk dikatakan dewasa. Dia pasti tahu mana yang baik dan buruk," kata Mariana menasehati putrinya. 

__ADS_1


"Tapi, Bu. Nyatanya Robby sampai kecolongan, 'kan?" 


"Cukup!" bentak Robby tidak terima. 


"Kamu berani membentak Mbak cuma gara-gara wanita itu, Rob. Dia itu bukan siapa-siapa kamu!" 


"Cukup-cukup! Kalian ini apa-apaan, sih? Masuk! Kita bicarakan di dalam." 


Robby pun masuk lebih dulu. Dia duduk di kursi ruang tamu rumahnya. Begitu juga Tania, dia pun ikut duduk berhadapan dengan adiknya. 


Mariana menyusul kedua anaknya setelah menutup pintu rumah. Dia duduk di kursi tunggal yang berada di tengah-tengah antara Robby dan Tania. 


"Coba jelaskan dengan kepala dingin. Jangan besarkan emosi!" perintah Mariana dengan tegas. 


"Bu. Memangnya ibu mau punya kalau Zarina jadi menantu ibu lagi?" tanya Tania, dia berusaha mempengaruhi ibunya. 


Mariana belum menjawab. Dia justru menatap sang putra yang menatap Tania dengan ekspresi kesal. "Rob, apakah kamu masih memiliki perasaan pada Rina?" tanya Mariana dengan lembut. 


"Robby tidak tahu, Bu. Tapi, melihat Rina yang sekarang, hati Robby seperti merasa ada sesuatu yang membuat Robby semangat. Padahal, selama ini Robby merasa hati Robby kosong. Terlebih lagi Robby juga merasa sangat menyayangi Alam, Bu. Apa aku salah?" 

__ADS_1


"Jelas salah, Rob. Kamu tidak pantas untuk bersanding dengan wanita mur*han sepertinya!" sahut Tania dengan nada tinggi. 


"Tania! Jangan menyiram bensin di percikan Api." Mariana menegur


__ADS_2