Anakku Bukan Anak Suamiku

Anakku Bukan Anak Suamiku
Perdebatan


__ADS_3

Tania datang dengan ekspresi mengerikan. Matanya mendelik tajam ke arah Zarina. Sorot mata wanita yang merupakan kakak satu-satunya Robby menyiratkan akan dendam yang membara. 


Melihat sendiri bagaimana reaksi Tania, Zarina hanya mampu menunduk. Kedua tangannya memegang pundak putranya sebagai bentuk perlindungan untuk sang putra. 


Sementara itu, Robby yang melihat ketakutan dalam diri Zarina, langsung menegur kakaknya itu. Namun, bukannya diam, Tania justru semakin menjadi-jadi. 


"Kamu benar-benar keterlaluan, Rob. Kamu sudah seperti laki-laki tanpa harga diri. Mantan istrimu itu sudah jelas-jelas berselingkuh dan –" 


"Stop, Mbak!" Robby memotong kata-kata Tania yang sudah akan melewati batas. "Kamu tidak lihat ada anak kecil di sini?" tanya Robby seraya menatap sengit kakaknya itu. 


"Biar saja, Rob. Biar dia tahu bagaimana bobroknya –" 


"Mbak!" bentak Robby. Dia sudah kehilangan kesabaran. 


Alam yang melihat perdebatan Robby dengan Tania pun ketakutan. Anak laki-laki itu langsung berbalik dan memeluk kaki ibunya. "Mama, Alam takut," kata Alam lirih. Namun, masih bisa didengar oleh semua orang yang ada di tempat itu.


Mariani yang merasa kasihan pada Alam pun menghela napas berat. "Rob, bawa kakakmu itu pulang ke rumahnya. Bilang pada suaminya agar tidak terus-menerus ikut campur dengan masalah orang!" 


Tania melotot saat mendengar perintah sang ibu yang mengusirnya dari sana. Dia tidak terima saat sang ibu ternyata lebih membela mantan menantunya itu. 


"Ibu membuang putri kandung ibu sendiri demi menantu sial*n seperti Rina, Bu?" tanya Tania kesal. 


"Rob!" 


"Iya, Bu." Robby langsung menarik tangan Tania menjauh dari sana. 

__ADS_1


Usai kepergian Robby dan Tania, Mariani mengajak Zarina dan Alam untuk masuk ke dalam rumah. Namun, terlihat Alam masih ketakutan. 


"Alam, ayo, Sayang!" ajak Mariani dengan lembut. Sayangnya Alam masih menggeleng. Anak itu takut jika wanita itu datang lagi. 


Mariani kini berlutut, lalu membalik tubuh Alam agar menghadap ke arahnya. Wanita tua itu tersenyum lembut. "Alam jangan takut, ada nenek di sini," ucap si nenek berusaha menenangkan cucunya. 


"Tapi … tante tadi," balas Alam masih dengan ekspresi ketakutan. 


"Tidak apa-apa. Papa sudah membawa tante pergi, kok!" 


Terlihat Alam masih ragu-ragu. Zarina yang paham dengan perasaan Alam kini ikut berlutut. "Alam, kamu tidak boleh takut, Sayang. Tante tadi kakaknya papa," kata Zarina. Alam langsung menatap neneknya untuk mencari jawaban atas pernyataan sang ibu barusan. 


"Iya, Sayang. Itu kakaknya papa," ucap Mariani membenarkan pernyataan zarina. 


"Tapi … kenapa tante tadi marah-marah?" 


...****************...


Robby terus menarik sang kakak menjauh dari rumahnya. Pria itu menghentikan sebuah taksi yang melintas, kemudian memaksa kakaknya itu untuk masuk ke kendaraan roda empat berwarna putih. 


"Rob, kamu lebih memilih Zarina dari pada kakakmu sendiri, Rob?" tanya Tania dengan nada kesal. 


"Mbak, Robby mohon jangan lagi ikut campur dengan kehidupan Robby," ucap Robby memohon. 


"Mbak enggak rela kamu kembali pada Zarina, Rob!" bentak Tania. Namun, Robby tidak memperdulikan hal itu, dia langsung menutup pintu mobil. 

__ADS_1


Robby beralih pada supir taksi. "Bang, tolong antarkan kakak saya ke jalan Kartika nomor delapan, ya! Ini ongkosnya." Pria itu memberikan lembaran uang berwarna merah kepada si sopir. 


"Baik, Mas," balas si sopir usai menerima uang dari Robby. 


Kendaraan itu pun kembali melaju, membawa Tania pergi dari sana. Setelah kepergian kakaknya itu, Robby mengusap wajahnya kasar. Sebenarnya dia pun tidak ingin bersikap seperti ini pada sang kakak. Namun, jika dia tidak bersikap tegas, Tania pasti akan berulah lagi dan lagi. 


Selesai dengan urusan Tania, Robby kembali ke rumahnya. Dia berjalan dengan langkah frustasi. Pria itu benar-benar menyayangkan sikap sang kakak yang terus menentang hubungannya dengan Zarina. 


Beberapa saat kemudian, Robby sampai di rumah. Ketika masuk ke rumah, Robby langsung melihat pemandangan yang begitu mengharukan. Di mana sang ibu tengah memangku Alam dan bercanda dengan anak laki-laki itu. 


Alam yang melihat Robby masuk, langsung turun dari pangkuan sang nenek. Anak itu berlari menghambur ke pelukan Robby. Zarina dan Mariani hanya tertawa kecil saat melihat kedekatan Robby dan Alam. 


"Papa, tante tadi ke mana?" tanya Alam seraya menatap ke arah pintu. 


"Tante pulang, Sayang." 


"Oh. Tante tadi artis, ya, Pa? Kata nenek dan mama, tante sedang berlatih akting." 


Robby tergelak ketika Alam mengatakan hal itu. Mariani sampai menatap kesal putranya. Mendapat tatapan tidak ramah dari sang ibu, Robby pun berusaha menghentikan tawanya. 


"Iya, Sayang. Tante itu mau jadi artis, tapi tidak diterima," jawab Robby usai berhasil mengendalikan diri. 


"Oh, begitu. Papa Alam mau nginep di sini, ya?" 


Seketika Robby menatap Zarina. Sebab wanita itu belum mengatakan apapun padanya. Robby takut jika itu hanya permintaan mendadak Alam tanpa izin dulu kepada Zarina. 

__ADS_1


"Iya, Mas. Alam maksa mau nginep di sini. Nanti aku pulang sendiri saja," ucap Zarina. 


"Makanya Rob, langsung rujuk saja. Tidak perlu membuang waktu lagi. Kalau kalian sudah rujuk kan bisa tinggal bersama," sahut Mariani yang seketika membuat Robby dan Zarina terkejut. 


__ADS_2