Anakku Bukan Anak Suamiku

Anakku Bukan Anak Suamiku
Masuk Rumah Sakit


__ADS_3

Setelah membaca pesan yang dikirim oleh Dafis, Zarina buru-buru memblokir pertemanan dengan laki-laki yang menjadi sebab kehancuran rumah tangganya. Zarina melakukan hal itu untuk menghindari Dafis, selain tidak ingin laki-laki itu mengetahui tentang Alam, Zarina juga tidak ingin mengulang kesalahan yang sama. 


"Maaf, Dafis. Tapi ini yang terbaik untuk kita. Aku tidak mau jatuh ke lubang yang sama. Apa yang kita lakukan dulu adalah kesalahan fatal, dan aku memilih untuk menanggung kesalahan itu sendiri."


Tangisan Alam yang sudah bangun menyadarkan Zarina dari bayang-bayang masa lalunya yang kelam. Dia menaruh ponselnya lalu bergegas menghampiri Alam. 


***** 


Di sisi lain, Mariana sedang berada di teras rumah putranya. Wanita tua itu sedang menunggu Robby yang sejak semalam belum juga pulang. Rasa cemas tiba-tiba datang begitu saja. Mariana takut jika terjadi sesuatu yang buruk pada Robby di luar sana. 


"Rob, kamu ke mana, sih? Kenapa belum pulang sampai sekarang?" 


Mariana memegang dadanya yang sedikit sesak, rasa cemas kepada Robby akhirnya berdampak pada keadaan jantungnya. Tidak berselang lama Tania keluar dari rumah adiknya. Wanita dewasa itu sama sekali tidak merasa bersalah karena sudah menjadi penyebab sang adik tidak betah di rumahnya sendiri. 


"Ibu, ngapain di sini? Ayo masuk! Di sini banyak angin, tidak baik untuk kesehatan ibu." 


Mendengar suara anak sulungnya, Mariana langsung melepaskan tangannya yang semula memegangi dada. Wanita tua itu tidak ingin jika sang putri sulung akan melarangnya menunggu kepulangan Robby. 


"Ibu lagi nungguin Robby," ucapnya tanpa menatap sang putri, Mariana juga ikut kesal dengan sikap Tania yang pemaksa. 


Terdengar suara decakan dari bibir tebal Tania. Wanita itu merasa jengah karena sang ibu terus saja membahas tentang Robby. 


"Dia sudah dewasa, Bu. Robby bukan anak-anak. Dia pasti akan pulang jika urusannya sudah selesai," sahut Tania kesal. 


Mariana langsung menatap tajam Tania. Gelengan kepala pelan dilakukan oleh wanita tua itu. Mariana sama sekali tidak menyangka jika putrinya akan memiliki rasa tidak tahu malu separah ini. 


"Adikmu pergi dari rumahnya sendiri karena ulah kamu, Tania. Kamu kenapa malah sibuk mengurusi urusan yang tidak seharusnya kamu urus? Kamu malah membiarkan suamimu sendirian di rumah dan tidak melayaninya dengan baik." 

__ADS_1


"Ibu, kok, malah nyalahin Tania. Ini semua karena Robby sendiri yang aneh. Tidak ada sangkut pautnya sama Tania," sahut Tania tidak terima. 


"Terserah kamu, Tan. Ibu sudah pusing menasehati kamu yang tidak kunjung berubah. Selalu menilai orang dari hartanya saja." Mariana yang tidak ingin berdebat lebih panjang memilih mengayunkan langkah masuk ke rumah untuk menghindari putri sulungnya itu. 


"Tapi penilaian Tania terhadap Zarina benar kan, Bu. Dia hanya wanita mura*an."


Suara motor yang berhenti tepat di teras rumah menghentikan langkah wanita tua itu. Dia membalikkan tubuhnya dan seketika senyum lebar terbit di bibirnya yang sudah mulai keriput. 


"Robby," panggilnya sambil berjalan cepat menghampiri sang putra. 


"Biasalah kalau anak kesayangannya datang ya begitu." Tania segera masuk ke rumah karena sudah dapat menebak apa yang akan dilakukan oleh ibunya kepada Robby. 


Robby mematikan mesin kendaraan roda dua itu kemudian menggunakan standar samping sebagai penyangga kuda besinya. Keningnya berkerut saat melihat sang ibu berjalan menghampirinya. 


"Ada apa, Bu?" tanyanya heran. 


"Robby nginep di rumah bos, Bu. Dia suruh Robby lembur benerin atap plafon rumahnya," jawab Robby jujur. 


Apa yang dikatakan Robby memang benar, kemarin saat dia sedang kebingungan untuk pergi ke mana, tiba-tiba sang bos menghubunginya dan menyuruhnya untuk lembur. 


"Lembur kanapa sampai tidak pulang? Kamu juga tidak mengabari ibu." 


Robby tersenyum tipis lalu turun dari motornya, tangan kekar itu menuntun sang ibu untuk masuk ke rumah. Dia paham dengan kekhawatiran sang ibu. Wanita tua itu lebih over protective setelah dia mengalami kegagalan dalam rumah tangga. 


"Maaf, Bu. Kemarin Robby sibuk banget dan saat selesai ternyata sudah malam. Robby enggak mau ganggu istirahat ibu," jelas Robby. 


"Tapi gara-gara kamu tidak pulang dan tidak kasih kabar, ibu malah tidak bisa tidur," keluh sang ibu yang seketika membuat Robby merasa bersalah. 

__ADS_1


"Maafin Robby, Bu. Robby tidak tahu," ucap Robby penuh sesal. 


"Jangan lakukan lagi, Rob. Sesibuk apapun kamu, jangan lupa kasih kabar ke ibu!" perintahnya dengan tegas. 


"Baiklah. Lain kali Robby pasti kasih kabar ke ibu, kok!" 


"Ibu buatin kopi, yah!" 


"Tidak usah repot-repot, Bu. Robby bisa buat sendiri," tolak Robby cepat. 


"Ibu tidak repot. Kamu juga capek, 'kan?"


Keduanya kini sudah sampai di ruang tamu rumah sederhana itu. Robby mendudukkan diri di kursi kayu ruang tersebut. Sedangkan sang ibu langsung berjalan menuju dapur. 


Robby menunggu sang ibu yang sampai saat ini belum juga kembali, padahal ibunya itu sudah berada di dapur selama lima belas menit. Waktu yang terlalu lama untuk ukuran orang yang hanya membuat kopi. 


"Ibu lama banget. Aku susul saja, deh!" 


Belum juga Robby beranjak dari duduknya, suara Tania yang melengking terdengar. Wanita dewasa itu memanggil nama sang adik berkali-kali. 


"Robby, ke sini, Rob! Ibu pingsan." 


Robby berlari menuju dapur setelah mendengar teriakan sang kakak. Netranya membulat saat melihat tubuh ibunya tergeletak di lantai dingin dengan kepala berada di pangkuan Tania. Robby langsung berlutut untuk memeriksa keadaan sang ibu. Dia memeriksa urat nadi di tangan ibunya.


"Ibu kenapa, Mbak?" tanya Robby khawatir, meski dia sudah memastikan bahwa ibunya masih hidup.


"Mbak enggak tahu. Pas mbak datang, ibu sudah tersungkur di lantai," jawab Tania tidak kalah cemas.

__ADS_1


"Ya sudah, kita bawa ke rumah sakit." Robby mengangkat sang ibu ke dalam gendongannya.


__ADS_2