
"Ya, kalau Mas Robby tidak menolak, aku mau, Mbak."
"Kalau begitu, kita coba saja dulu. Jangan takut ditolak!" Tania masih berusaha merayu Anita.
"Tapi … harus dengan cara apa, Mbak? Mas Robby benar-benar susah untuk didekati." Belum apa-apa, Anita sudah takut jika nanti usahanya gagal.
Tania terlihat berpikir tentang cara apa yang mungkin akan sedikit meluluhkan hati adiknya, dan saat dia sudah mendapatkan ide, dia pun berucap, "Kamu mulai dari mendekati ibu dulu, Nit."
"Mendekati ibu, jadi itu artinya aku memanfaatkan ibu untuk mendapatkan Mas Robby, Mbak? Ah, aku takut kualat kalau kualat nanti."
"Ish! Kamu lakukan dengan tulus, dong! Jadi sekali dayung dua pulau terlampaui," sahut Tania dengan cepat.
"Em. Ya sudah, deh, Mbak. Nanti aku coba, yah!"
"Iya, kamu coba saja, Nit!"
"Pulang kerja nanti aku mampir ke rumah Mas Robby, deh, Mbak."
"Jangan lupa bawain ibu martabak manis rasa kacang. Itu makanan kesukaan ibu, loh!"
"Gampang lah nanti aku belikan, Mbak."
Keduanya pun berpisah setelah membicarakan perihal rencana yang akan mereka lakukan. Tania pulang ke rumahnya, sedangkan Anita Kembali ke kantor.
__ADS_1
Selama diperjalanan ke tempat bekerjanya, Anita terus tersenyum senang. Meski Robby sangat sukar didekati, setidaknya dia memiliki pendukung yang akan selalu membantunya.
Saat sampai di kantornya Anita terkejut ketika melihat mobil miliknya terparkir di depan kantor. Dia segera keluar dari mobil setelah memarkirkan mobilnya yang lain disisi mobil yang sempat dibawa oleh Robby.
Pandangannya berkeliling, dia mencari keberadaan Robby yang sama sekali tidak terlihat. Jika mobilnya sudah ada di kantor, lalu kenapa dia tidak menemukan keberadaan Robby?
"Mas Robby kemana, yah?" tanyanya bergumam.
Seorang satpam kantor yang melihat Anita pun langsung mendekati wanita itu. "Mbak Anita, tadi ada Mas Robby datang, tapi Mbak Anita enggak ada. Jadi, Mas Robby titip kunci mobil ini pada saya," ujar si satpam saat sudah berhadapan dengan Anita.
"Oh, iya, makasih, ya, Pak!"
"Sama-sama, Mbak. Saya lanjut kerja dulu," pamit si satpam yang direspon dengan anggukan kepala oleh Anita.
*****
Robby sendiri langsung pulang ke rumah setelah mengantarkan mobil milik Anita ke kantor, serta mengambil motornya di tempat dia menitipkan kendaraan roda duanya tersebut Dia tidak tahu jika Anita membawa mobil lain ke kantor.
Di rumahnya Robby masih terus memikirkan Zarina dan Alam. Entah kenapa ada sedikit rasa sesal karena telah membuat mereka jauh darinya.
"Kita sudah lama berpisah, Rin. Tapi kenapa rasanya aku belum bisa membuka hatiku untuk wanita lain?" tanyanya pada diri sendiri.
Robby mengambil ponsel miliknya yang tergeletak di atas nakas, lalu memainkan benda berbentuk pipih itu. Dia membuka galeri foto yang isinya hanya deretan model-model bangunan. Namun, ada satu foto yang lain dari pada yang lain. Itu adalah foto yang dia ambil diam-diam saat di rumah sakit tadi.
__ADS_1
Sebuah potret yang menampakkan gambar seorang wanita tengah menyuapi seorang anak laki-laki. Sebelah sudut bibir Robby terangkat. Melihat foto itu sedikit menghibur hatinya yang sudah sekian lama kosong.
Dia membalik tubuhnya hingga kini posisinya tengkurap di atas ranjang. Tangannya masih saja memegang berat ponselnya yang masih saja menampilkan potret Zarina dan Alam.
"Maaf jika aku mencuri foto kalian berdua, Rin. Tapi, aku juga tidak tahu tentang apa yang terjadi pada hatiku. Rasanya apa yang dulu menghilang kini hadir kembali," katanya berbicara sendirian, sudah seperti orang yang kehilangan akal.
Robby bahkan sampai menjadikan foto itu sebagai wallpaper layar ponsel. Sekian lama memainkan gamainya, Robby tanpa sadar mulai memejamkan mata dengan posisi layar masih menyala. Dia larut dalam mimpi di siang hari.
Tidak berselang lama seseorang mengetuk pintu kamar Robby berkali-kali. Namun, si pemilik kamar terlalu asik berkelana di alam mimpinya. "Rob, buka pintunya. Ini ibu, Nak!"
Tidak mendapatkan jawaban, seseorang yang ternyata ibunda Robby pun meraih handle pintu, lalu sedikit menekannya hingga pintu terbuka. "Loh, enggak di kunci," ucap Mariana, kemudian mengayunkan langkahnya masuk ke ruangan, di tangannya ada setumpuk pakaian yang sudah rapi.
"Ya ampun, Robby tidur ternyata," ucapnya dengan sangat lirih saat melihat putranya tidur dengan posisi tengkurap.
Dengan langkah hati-hati Mariana terus masuk, kemudian langsung menuju lemari untuk menaruh pakaian milik putranya yang sudah disetrika olehnya. Selesai melakukan itu, dia mulai mendekati Robby karena kelihatannya Robby tidur dengan pulas.
Mariana menggelengkan kepalanya. "Dasar, anak bandel. Sudah tua pun masih saja tidur bawa hape!" omel si ibu yang sebenarnya percuma karena Robby tidak mungkin mendengar omelannya.
Tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk seperti yang terjadi di berita-berita acara televisi yang sampai menyebabkan kebakaran akibat sebuah ponsel yang meledak, akhirnya, Mariana mengambil ponsel itu. Namun, saat wanita tua itu hendak menaruh ponsel tersebut ke atas nakas, tidak sengaja benda itu terjatuh.
Mariana kembali mengambil ponsel yang terjatuh ke lantai itu, lalu tidak sengaja layar pun tergeser dan otomatis membuka kunci. Ketika ponsel itu menyala, terlihat potret dua orang yang salah satunya tidak asing untuk Mariana.
"Astaga, bukankah ini foto Zarina. Lalu apakah anak kecil ini adalah Alam? Jadi, selama ini mereka masih berhubungan?"
__ADS_1