
Seorang wanita berpakaian ketat dan seksi baru saja masuk ke sebuah rumah sederhana di pemukiman padat penduduk. Rumah itu sangat kecil, bahkan tidak memiliki sedikitpun halaman.
"Masih ingat pulang?" tanya seseorang yang duduk lesehan di selembar tikar.
Wanita itu melirik seseorang yang menegurnya dengan kata-kata pedas barusan. Dia yang sedang kesal semakin bertambah kesal setelah berurusan dengan suaminya.
"Apa pedulimu?" tanya balik wanita itu.
"Kamu semakin berani, Gita," ujarnya dengan suara lirih, tetapi menekan.
"Memangnya selama ini kau pernah peduli padaku, Dafis?" tanya Anggita, bibirnya berkedut menahan rasa sakit yang memenuhi hatinya.
Dafis beranjak dari posisinya kemudian menghampiri Anggita. Tangan kanannya terulur lalu mencengkram dagu sang istri kuat-kuat.
"Kau sama sekali tidak bisa menghargai aku, Gita. Ingat baik-baik, seperti apapun aku, aku masih berhak atas dirimu!" bentaknya seraya mendorong kasar tubuh Anggita hingga wanita itu terpukul mundur.
Tidak ada sedikitpun rasa takut dalam diri Anggita. Wanita itu semakin berani, dia mengangkat wajahnya untuk menatap tajam wajah suami yang sudah mengkhianatinya.
"Kamu tidak malu berbicara tentang hak, Dafis?" tanyanya masih dengan nada pelan. "Kau memang suamiku, tapi apa kau pernah memikirkan perasaanku sebagai istrimu?" Kini volume bicara Anggita naik.
Laki-laki itu diam seribu bahasa karena tidak mampu menjawab pertanyaan Anggita yang memang benar. Sementara itu, Anggita menertawakan dirinya saat Dafis hanya diam saja.
"Selama ini kamu mencari keberadaan Zara, 'kan? Silahkan cari wanita itu. Dia masih hidup. Aku bertemu dengannya di mall kemarin," tutur Anggita memberi informasi kepada suaminya.
Anggita sengaja ingin melihat reaksi Dafis saat mendengar nama Zara yang dia sebutkan. Yang terjadi selanjutnya adalah hati Anggita kembali teriris ketika suaminya – Dafis langsung berjalan keluar dari rumah setelah mendengar nama Zara.
__ADS_1
"Tapi … selingkuhan kamu itu sedang bersama seorang anak kecil," sambung Anggita ketika Dafis sampai di ambang pintu.
Dafis sempat menghentikan langkah dan berdiri seperti patung saat mendengar informasi tentang Zara. Namun, laki-laki itu kembali meneruskan langkahnya keluar dari rumah.
"Cari dia, Dafis. Kamu memang tidak akan puas jika tidak mencarinya. Selama ini, aku sudah memberikan kamu kesempatan untuk berubah, tapi nyatanya kamu tetaplah Dafis. Laki-laki yang mudah mengobral cinta kepada wanita," gumam anggita, lolos sudah cairan bening yang sejak tadi dia tahan di pelupuk mata.
Dafis langsung mengendarai motornya yang terparkir di depan rumahnya. Sebenarnya apa yang dilakukan oleh Dafis memarkir motor di sebagian jalan adalah sebuah kesalahan karena semakin mempersempit jalan serta dapat menggangu aktifitas pengguna jalan. Namun, di pemukiman tempat tinggalnya, hal tersebut sudah biasa dilakukan oleh para warganya.
Di sepanjang perjalanan, Dafis terus saja mengedarkan pandangan. Perasaannya saat ini sedang kacau. Entah kenapa, Dafis seperti sangat ingin menemui Zarina saat ini juga.
"Dimana kamu, Zara," gumam Dafis frustasi.
Terlalu larut dalam perasaanya yang begitu merindukan zarina, laki-laki itu sampai tidak memperhatikan kondisi jalan di depannya. Meski mengendarai motor dengan kecepatan rendah, akan tetapi mengendarai motor dengan pikiran terpecah itu sangatlah berbahaya.
*****
"Aaaaaaa," teriak seorang bocah laki-laki yang sedang berdiri di pinggir jalan.
Beberapa anak lain yang mendengar teriakan salah satu murid di taman kanak-kanak itu pun berlarian menghampiri seorang bocah laki-laki yang masih berteriak. Tiga anak sebaya dengan bocah laki-laki itu berhenti tepat di belakang tubuh si teman yang tadi berteriak.
"Kamu kenapa, Alam?" tanya seorang teman, meski hubungan pertemanan mereka tidak terlalu dekat.
"Lihat itu," jawab Alam menunjuk ke arah gorong-gorong yang tidak terlalu dalam.
Ada satu unit motor yang tercebur di gorong-gorong air berwarna hitam pekat itu. Tidak jauh dari sana, tepatnya di pinggiran semak-semak, tergeletak seorang dalam keadaan tidak sadarkan diri.
__ADS_1
"Ada orang kecelakaan," ucap salah satu teman Alam.
"Cepat panggil Bu Guru!" Perintah teman yang lainnya.
Salah satu anak di sana langsung membalik tubuhnya berniat untuk memanggil gurunya. Namun, ternyata seorang pengajar di sana sudah berdiri di belakang tubuhnya.
"Bu guru."
"Ada apa kalian berkumpul di sini?" tanya si guru perempuan.
"Ada orang kecelakaan, Bu. Masuk ke gorong-gorong," jawab si anak dengan kompak.
Si guru tersebut mengikuti arah yang ditunjuk oleh beberapa muridnya. Seketika netranya membulat seketika. Seorang pria tergeletak tidak sadarkan diri di samping semak belukar yang berada tidak jauh dari gorong-gorong.
"Astaga! Kalian cepat masuk dan panggilkan Pak Gibran. Minta tolong untuk membantu ibu memeriksa korban kecelakaan itu!" pekik guru perempuan itu.
Beberapa anak langsung berlarian masuk ke dalam sekolah. Namun, Alam tetap berada di sana. Bocah laki-laki tampan itu seperti memiliki magnet yang memaksa kakinya untuk tetap bertahan di tempat tersebut.
"Alam, kenapa masih disini?" tanya si guru sambil memegang bahu Alam.
"Alam khawatir sama orang itu, Bu. Kasihan dia, pasti keluarganya sedang menunggu kabar," ujarnya seraya memandang laki-laki yang masih tergeletak tidak berdaya.
"Sebaiknya kamu masuk, Alam. Biar Bu guru yang memeriksa orang itu," tutur si guru merayu Alam agar mau menurut.
"Tidak mau, Bu. Alam mau lihat orang itu!" Alam bersikeras menolak perintah gurunya.
__ADS_1