
"Kamu sepertinya semakin dekat dengan wanita kaya itu, Rob. Jangan-jangan kamu udah jadian sama dia, yah?" tanya Tania saat Robby baru akan berangkat kerja.
"Jangan ngaco, deh, Mbak. Anita itu cuma rekan kerja aja," jawab Robby.
"Ah, enggak mungkin cuma rekan kerja sampai mau minjemin mobil mewahnya ke kamu," ujar Tania tidak percaya dengan jawaban Robby.
Robby menghentikan langkahnya di ambang pintu. Dia menatap tidak suka kepada sang kakak yang tidak ada bosannya mencampuri urusannya.
"Aku enggak minjem mobil Anita, yah, Mbak. Anita yang maksa aku buat pulang pakai mobilnya karena semalam aku nolongin dia saat diganggu preman!" seru Robby tidak terima atas tuduhan sang kakak.
"Alasan kamu aja. Nggak perlu tutup-tutupi, Rob. Wajar kalau kalian deket, kalian kan sama-sama masih sendiri. Mbak nggak akan ngelarang kamu deket sama dia, kok!"
"Mbak nggak ngelarang aku deket sama dia karena mbak ngiranya dia kaya, 'kan? Coba kalau dia orang biasa kaya Rina, pasti mbak bakal ngerecokin terus." Tanpa sadar, Robby membahas tentang kisah masa lalunya bersama Zarina.
"Loh! Kamu masih aja bahas wanita mura*han itu, Rob. Belum move on ternyata," kata Tania yang seketika menyadarkan Robby.
"Apa, sih, Mbak? Aku mau kerja. Ngurusin mbak, sampai ayam jago bertelur juga enggak akan pernah selesai." Robby pergi meninggalkan sang kakak.
Gara-gara membawa mobil Anita, Robby akhirnya harus menjemput wanita itu sebelum berangkat ke tempatnya bekerja. Sebenarnya semalam Robby sudah menolak untuk membawa mobil Anita, tetapi wanita itu memaksa terus menerus. Akhirnya Robby terpaksa membawa kendaraan milik rekan kerjanya itu.
"Gawat, udah siang banget. Aku harus cepet-cepet biar Anita juga enggak ikutan telat masuk kerja!" seru Robby panik setelah melihat jam tangan yang dipakainya.
Robby buru-buru masuk ke dalam mobil lalu mengendarai kendaraan mewah milik Anita dengan kecepatan standar. Meskipun buru-buru, tetapi Robby tidak ingin sampai membuat mobil milik rekannya itu lecet karenanya.
*****
"Makasih, Bang. Ini ongkosnya," ucap Alam ramah sambil menyodorkan uang yang diberikan oleh Zarina.
"Sama-sama, Lam. Oh iya, mama kamu tadi pesen, kamu harus tungguin Abang Fikri jemput dulu. Enggak boleh pulang sendirian, yah!"
"Iya, Bang. Nanti Alam tunggu Bang Fikri jemput," balas Alam.
"Ya udah, sana masuk!"
__ADS_1
Alam menurut, bocah itu bergegas masuk ke sekolahnya. Fikri pun langsung pergi dari sana setelah memastikan Alam sudah masuk gerbang sekolah.
Pada saat Alam sedang berjalan, di halaman sekolah banyak anak sebaya Alam sedang bermain bola. Mereka asik berebut untuk menendang benda empuk berbentuk lingkaran itu. Kebetulan saat itu ada anak yang berhasil merebut bola dari lawannya. Anak itu berniat untuk menendang bola agar mencetak gol. Namun, karena tendangannya terlalu keras dan melenceng, bola itu terlempar hingga keluar dari gerbang.
"Lam, ambilin bola itu, dong!" seru teman-teman Alam.
Alam tidak menjawab, akan tetapi bocah itu menuruti permintaan teman-temannya. Alam berlari keluar dari gerbang sekolahnya. Bola itu berhenti tepat di tengah-tengah jalan raya. Waktu itu Alam sempat melihat kanan kiri untuk memeriksa kondisi jalan. Jalanan itu sangat sepi, tidak ada tanda-tanda akan ada kendaraan yang akan melintas.
Alam pun berjalan hingga ke tengah jalan. Dia berjongkok lalu mengambil bola itu. Namun, memang benar pribahasa Malang Tidak Berbau. Alam yang tadi sudah memastikan tidak ada kendaraan yang akan melintas, tiba-tiba muncul sepeda motor yang melaju dengan cepat. Bocah itu belum menyadari akan bahaya yang sedang menuju ke arahnya.
"Alam, awas!" teriak teman-teman Alam.
Bocah itu seketika menoleh ke arah kiri. Netranya membulat seketika saat melihat sebuah motor melaju ke arahnya dengan kecepatan tinggi. Sementara itu, si pengendara motor yang ternyata merupakan anak Sekolah Menengah Pertama justru kagok dan tidak bisa menghindar.
Kecelakaan pun tidak dapat dihindarkan. Tubuh kecil Alam tertabrak motor yang dikendarai oleh anak dibawah umur. Alam seketika kehilangan kesadaran dengan darah yang keluar dari area keningnya, sedangkan anak yang menabrak alam juga ikut terjatuh.
"Alam ketabrak motor. Cepat panggil ibu guru!" teriak salah satu teman Alam.
Salah satu diantaranya berlari menuju ruang kantor. Dengan napas yang memburu bocah itu berniat mengabari sang guru.
"Alam kenapa, Gibran?" tanya guru itu bingung.
"Alam ketabrak motor!" seru bocah itu dengan napas tersengal.
"Astaga! Dimana?"
"Di depan, Bu. Ayo cepat!"
Sementara itu, jalanan yang menjadi tempat Alam kecelakaan langsung rame oleh beberapa orang yang berniat menolong, tidak terkecuali orang-orang yang hanya ingin mengabadikan kejadian tragis itu menggunakan ponselnya. Kedua korban dikerubungi oleh orang-orang itu.
Jalanan pun mendadak macet akibat kejadian tersebut. Beberapa orang yang memang berniat menolong segera membawa kedua bocah yang terlibat kecelakaan itu ke pinggir jalan.
Robby yang sedang melintaspun memperlambat laju mobilnya karena jalan di depannya masih banyak kerumunan. Seorang wanita paruh baya berjalan tergopoh-gopoh ke arahnya. Wanita itu tiba-tiba menghadang di tengah jalan.
__ADS_1
Robby terpaksa berhenti karena tidak mungkin dia menabrak orang yang sedang menghadang dirinya itu. Setelah mobil berhenti, wanita itu berlari ke arah samping dan mengetuk pintu jendela mobil yang dikendarai Robby.
"Ada apa, Bu?" tanya Robby setelah menurunkan kaca jendela mobil.
"Kecelakaan, Mas. Tolong bawa korbannya ke rumah sakit. Kasihan sekali itu bocah TK ditabrak sama Anak SMP!" seru si ibu-ibu itu dengan nada cemas.
"Oh iya, Bu." Robby Kembali menginjak pedal gas sampai di tempat dimana dua orang anak tergeletak di pinggir jalan.
"Cepat masukin ke mobil ini!" teriak ibu-ibu yang menghadang Robby tadi.
Mereka buru-buru memasukkan kedua korban ke dalam mobil Robby. Entah memang kebetulan atau takdir, Alam dimasukkan ke kursi samping kemudi.
"Pak, tolong pasang seatbellnya," pinta Robby dengan cepat.
"Pak murid saya yang menjadi korban kecelakaan dimana?" Dari kejauhan, terdengar suara seorang wanita yang panik dan menyebut nama Alam.
"Di mobil itu, Bu. Mau dibawa ke rumah sakit," jawab seseorang disana sambil menunjuk mobil Robby.
"Alam," gumam Robby memerhatikan bocah yang didudukan di sampingnya. "Ini bocah yang ketemu aku di mall!" pekik Robby dengan mata membulat.
"Pak, saya ikut ke rumah sakit. Itu anak murid saya, Pak!"
Suara itu menyadarkan Robby dadi rasa terkejutnya. Dia mengangguk lalu memastikan bahwa kedua korban sudah berada di mobilnya.
"Cepat jalan, Pak!" seru salah satu warga.
Robby pun kembali menginjak pedal gas. Dia mengendarai mobil milik Anita dengan kecepatan tinggi. Yang ada dipikiran Robby saat ini, dia sangat ingin menyelamatkan bocah di sampingnya ini.
Beberapa saat kemudian mereka sampai di rumah sakit terdekat. Robby buru-buru turun dari mobil lalu membuka pintu samping kemudi. Alam berniat menggendong bocah itu, saat melihat wajah anak kecil itu, tiba-tiba Robby teringat dengan seseorang.
"Kenapa anak ini sangat mirip dengan Zarina?" tanya Robby dalam hati.
Guru sekolah Alam juga turun, wanita itu berlari masuk ke rumah sakit untuk meminta pertolongan dari petugas kesehatan. Namun, sebelum guru itu berteriak meminta tolong, para suster sigap berlari membawa brankar saat melihat Robby menggendong seorang bocah yang bersimbah darah.
__ADS_1
"Suster, tolong. Ada dua korban kecelakaan!" seru guru Alam saat suster hanya membawa satu brankar saja.
"Sus, tolong anak saya dulu!" teriak Robby tanpa sadar.