
Obrolan antara ibu dan anak itu terpaksa terhenti saat pelayan datang membawa pesanan Zarina. Kedua pelayan menyajikan ikan gurame bakar, cah kangkung, nasi, serta tidak ketinggalan es teh di meja. Semua itu adalah menu favorit Alam sejak berusia tiga tahun.
"Silahkan menikmati," ucap si pelayan ramah.
"Terima kasih, Mbak," balas Zarina tidak ramah kepada si pelayan.
Pelayan itu pergi setelah menyelesaikan tugasnya melayani pelanggan. Mereka masih harus melayani tamu-tamu yang lain juga.
"Wah, mama pesan semua menu favorit Alam. Memangnya uang mama cukup?"
Alam memang sedikit khawatir jika sang ibu akan kehabisan uang. Bagaimana tidak, hari ini pengeluaran sang ibu sangatlah banyak, dan itu semua hanya demi dirinya.
"Tenang, Alam. Mama masih punya tabungan, kok! Lagi pula, besok mama juga bikin pesanan lumayan banyak," jawab Zarina tidak ingin sang putra memikirkan tentang keuangan mereka.
"Kalau gitu, besok Alam mau bantu mama bikin pesanan, yah!"
Zarina tersenyum seraya menggeleng pelan, "Tidak usah, Sayang. Besok Alam kan sekolah," tolak zarina halus.
"Pulang sekolah kan bisa, Ma," balas Alam yang tidak mau menyerah.
"Baiklah, besok Alam boleh bantu mama. Sekarang kita makan dulu, mama laper banget." Zarina mulai mengambilkan nasi untuk Alam.
__ADS_1
"Segini cukup?" tawar Zarina saat sudah menyentongkan nasi ke piring untuk putranya.
"Dikit lagi, Mam," jawab Alam malu-malu.
Zarina kembali menyentong nasi dan memindahkannya ke dalam piring. Ketika Alam sudah mengatakan cukup, barulah Zarina memberikan piring itu kepada putranya.
Alam menerima uluran piring dari ibunya dengan senang hati. Begitu piring berisi nasi itu sudah berada di depannya, alam segera mengambil cah kangkung serta gurame goreng ke piringnya. Bocah itu mulai menyantap menu kesukaannya dengan lahap.
"Pelan-pelan, Alam. Nanti tersedak," tegur Zarina saat melihat anaknya makan dengan cepat.
"Iya, Ma," jawabnya sambil menyengir.
Keduanya menyantap makan malam yang mereka lakukan lebih awal. Zarina memang sengaja mengajak Alam makan di luar karena biasanya jika pulang dari jalan-jalan, sampai rumah nanti Alam akan langsung tertidur pulas. Zarina tentu tidak ingin Alam tidur dalam keadaan lapar.
"Boleh, mama mau tanya apa?" Alam seketika menghentikan kegiatannya sejenak.
Bocah laki-laki itu menatap wajah sang ibu yang terlihat ragu-ragu. "Mama mau tanya tentang Tante judes tadi?" tebak alam yang langsung dijawab dengan gelengan kepala oleh Zarina.
"Bukan," jawab Zarina singkat.
"Lalu mau tanya tentang siapa? Om Robby?" Alam kembali menebak, kali ini sang ibu mengangguk pelan.
__ADS_1
"Kamu sempat kenalan sama Om Robby?" tanya zarina.
"Iya, tadi Om Robby minta Alam buat sebutin nama panjang Alam. Tapi pas Alam lagi ngasih tahu tiba-tiba si Tante judes datang, mungkin Om Robby lupa, dan langsung lari waktu si Tante judes bilang sakit ibunya kambuh," terang Alam tanpa terlewat sedikit.
Zarina semakin yakin bahwa Robby yang dimaksud oleh putranya adalah sang mantan suami. Namun, Zarina tidak mungkin mengatakan kebenaran itu. Jika Alam tahu, bocah itu pasti akan mengira bahwa Robby adalah ayahnya.
"Kamu masih ingat ciri-ciri Om Robby seperti apa?" tanya Zarina lagi yang merasa perlu memastikan dugaannya.
"Ingat! Om Robby itu tinggi, badannya kurus, kulitnya sawo matang. Pakaiannya persis seperti yang Alam pakai sekarang," jelasnya secara mendetail.
"Jadi itu benar kamu, Mas. Kamu bertemu dengan anakku, anak yang dulu kamu sayangi dengan tulus sebelum kamu tahu tentang rahasia yang aku sembunyikan. Andaikan dulu aku tidak pernah melakukan tes DNA, mungkin sampai saat ini rumah tangga kita masih baik-baik saja, meski aku harus hidup dalam rasa bersalah," batin zarina penuh sesal.
"Memangnya kenapa, Ma? Mama punya temen namanya Om robbya?"
"Em, iya. Dulu waktu mama masih remaja," bohong Zarina menutupi yang sebenarnya.
"Oh. Jangan-jangan Om tadi memang teman mama," ujar Alam yang seketika membuat Zarina tersenyum kaku.
"Dia bukan hanya teman mama, Alam. Dia laki-laki yang sampai saat ini masih sangat mama cintai," batin Zarina dengan senyum getir, lagi-lagi penyesalan itu merasuki hatinya, banyak sekali kata andaikan yang memenuhi benak wanita itu.
Andaikan dia tidak pernah membangkang suaminya, andaikan dia tidak semudah itu tergoda laki-laki lain, andaikan dia tidak berselingkuh hingga hamil anak laki-laki itu, dan masih banyak andaikan yang lainnya.
__ADS_1
"Kalau aja tadi Tante judes itu tidak datang dan membuat Om Robby pergi, Alam pasti mau kenalin mama sama Om Robby. Siapa tahu setelah itu Alam bisa ngerasain gimana senangnya punya papa," sambung Alam tanpa sadar.