
"Mas Robby!" pekik Anita terkejut.
Robby berjalan dengan pandangan tidak lepas dari Anita, lalu duduk di sebelahnya. "Maaf, Mbak Anita. Saya tidak suka jika ada seseorang yang terlalu banyak mencari tahu tentang kehidupan masa lalu saya," ucap Robby dengan nada lirih, tetapi penuh tekanan.
"Maaf, Mas. Aku hanya … ingin tahu kebenarannya saja," balas Anita yang kini menundukkan kepala.
Alis Robby bertaut saat mendengar jawaban Anita. "Memang untungnya apa buat Mbak Anita kalau tahu tentang kebenaran itu?" tanya Robby, jari-jari tangannya mulai mengetuk-ngetuk meja makan menimbulkan bunyi yang lumayan membuat Anita semakin gelisah.
"Robby," sahut Mariana yang tidak ingin masalah itu semakin panjang.
"Sebentar, Bu. Robby hanya tidak suka jika ada wanita yang dengan sadar membicarakan aib wanita lain." Robby kembali menatap Anita yang masih saja menundukkan kepala. "Aku kira, Mbak Anita bukan orang yang kolot, tapi ternyata sama saja dengan Mbak Tania. Kalian sama-sama merasa diri paling suci dari dosa," sambung Robby.
Anita terhenyak mendengar ucapan Robby barusan. Ternyata yang dia lakukan justru membuat pandangan Robby terhadapnya berubah drastis. Sungguh, Anita menyesali perbuatannya itu.
"Maaf, Mas. Maaf jika Anita sudah berbuat salah," ucap Anita dengan suaranya yang mulai bergetar.
"Mbak Anita tidak salah, justru yang salah adalah saya. Saya salah dalam menilai Mbak Anita," balas Robby.
"Sudah, Rob, tidak perlu diperpanjang!" tegur Mariana, dia merasa kasihan pada Anita yang terlihat sangat sedih.
"Ya sudah. Robby mau keluar dulu, Bu. Ibu makan sama Mbak Anita saja," kata Robby yang seketika membuat Anita mendongak sekilas, lalu kembali menunduk saat Robby menatapnya dengan tatapan dingin.
"Kalau keluar, jangan pulang terlalu malam, Rob!"
__ADS_1
"Iya," jawab Robby singkat, kemudian beranjak dari sana.
Mariana mengelus lengan Anita, kemudian mengulas senyum tipis pada wanita itu. "Maafkan Robby, ya, Nak. Belakangan ini Robby memang sering terpancing emosi," ucapnya memberi pengertian.
"Enggak apa-apa, Bu. Anita yang salah, kok!"
"Kamu enggak salah, Nak. Tapi sejak dulu, Robby memang tidak suka ketika ada orang yang menjelekkan nama Zarina," ungkap Mariana.
"Secinta itu Mas Robby pada mantan istrinya, Bu?" tanya Anita penasaran.
Mariana mengangguk kecil. "Robby bahkan sempat mau mengakhiri hidup setelah berpisah darinya, Nak. Makanya ibu tidak suka kalau kakaknya Robby membahas tentang Zarina," jawab Mariana yang membuat Anita mengangguk mengerti.
"Kalau gitu, kita makan dulu, Nak anita!" ajak Mariana kepada wanita di sampingnya.
"Tapi Mas Robby … gimana, Bu?"
"Maaf, ya, Bu. Gara-gara Anita, Mas Robby jadi pergi," ucap Anita merasa bersalah.
"Sudah, Nak. Jangan dipikirkan!"
*****
Sementara itu, di rumah Zarina. Wanita itu sedang makan malam bersama dengan sang putra.
__ADS_1
Alam diam-diam menatap sang ibu yang sedang menyiapkan nasi ke mulutnya, kemudian bertanya," Ma, Om Robby itu sahabat lama mama?"
Zarina terbatuk setelah tersedak makanan yang sedang dikunyah olehnya. Alam pun langsung turun dari kursinya, kemudian mendekati si ibu. Dia menepuk-nepuk punggung ibunya agar ibunya berhenti terbatuk-batuk.
"Makasih, Alam," ucap Zarina saat keadaannya mulai membaik, dia mengambil gelas berisi air putih di hadapannya, lalu meneguknya hingga tandas.
"Makanya pelan-pelan, Ma." Alam kembali ke tempat duduknya.
"Iya, Alam. Maaf," balas Zarina disertai senyum tipis.
Keduanya melanjutkan kegiatan makan malam mereka. Sesekali Zarina memandang sang putra yang mulai ingin tahu tentang masa lalunya.
"Alam, kenapa tiba-tiba bertanya tentang Om Robby, Nak?" tanya Zarina hati-hati.
Alam menghentikan tangannya yang akan menyuapkan nasi ke mulutnya. "Enggak apa-apa, sih, Ma. Cuma Alam merasa Om Robby baik pada kita," jawabnya polos.
Zarina tersenyum, dia pun setuju dengan penilaian putranya terhadap Robby. Laki-laki yang pernah berumah tangga dengannya itu memang laki-laki baik. Sayangnya, dia justru membalas kesetiaan Robby dengan pengkhianatan. "Maafkan aku, Mas. Sampai saat ini, aku pun tidak bisa memaafkan diriku sendiri," batin Zarina penuh sesal.
"Andaikan saja, Alam punya papa seperti Om Robby, Ma. Pasti Alam bakal seneng banget," sambung bocah itu seraya membayangkan akan seperti apa kehidupannya jika memiliki orang tua seperti Robby.
Kedua mata Zarina terpejam sesaat ketika mendengar Alam berandai-andai seperti itu. Ya, hidup Alam pasti bahagia jika dia memiliki ayah seperti Robby. Terbukti dulu ketika Robby masih menyangka Alam adalah anaknya, laki-laki itu begitu sigap mengurus Alam dengan tangannya sendiri. "Andaikan saja dulu aku tidak melakukan tes DNA, mungkin Alam tidak akan pernah merasakan hidup tanpa ayah." Lagi-lagi Zarina hanya mampu berucap dalam hati.
"Mama, kenapa diam?" tanya Alam saat melihat ibunya hanya diam dengan pandangan kosong.
__ADS_1
Zarina mengerjapkan matanya sebelum akhirnya tersenyum lembut ke arah putranya. "Tidak apa-apa, Alam. Mama hanya sedang memikirkan bahan-bahan kue untuk pesanan besok," elak Zarina berbohong.
"Oh," balas Alam seraya mengangguk-anggukan kepala, kemudian menatap Zarina lekat-lekat. "Mama rasa kalau Alam minta Om Robby jadi papa Alam, Om Robby mau tidak, ya, Ma?" tanyanya tiba-tiba.