
Takut jika Tania kembali berulah, Mariani akhirnya mengusulkan agar Robby dan Zarina mempercepat rencana pernikahan mereka. Wanita tua itu juga meminta agar mereka merahasiakan rencana itu dari Tania.
Dua hari kemudian, Zarina dan Robby menggelar pernikahan kedua mereka secara sederhana di sebuah kantor urusan agama. Pernikahan itu hanya dihadiri oleh teman dekat Robby yang menjadi saksi.
Usai mengucap ikrar janji suci pernikahan, mereka kembali ke rumah. Senyum bahagia terus menghiasi wajah sepasang suami istri itu. Tidak hanya mereka saja, tetapi ada Alam dan juga Mariani yang juga ikut berbahagia.
Kini mereka sedang duduk di kursi kayu ruang tamu. Alam duduk di pangkuan sang nenek, sedangkan Zarina dan Robby duduk berdampingan di kursi panjang.
"Selamat, ya, akhirnya kalian bisa bersama lagi," ucap Mariani dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Terima kasih, Bu," balas Zarina yang juga tersenyum bahagia.
"Kalian sudah bukan anak muda lagi, Rob, Rin. Sekarang harus lebih saling mengerti satu sama lain. Jangan sampai kejadian yang sudah lalu kembali terulang," ujar Mariani menasehati.
"Iya, Bu. Doakan kami bisa menjadi keluarga yang lebih baik, Bu. Kami juga minta bimbingan ibu, ya," kata Robby yang diangguki oleh Mariani.
"Kalian akan menggelar resepsi pernikahan kapan, Rob?" tanya Mariani usai menasehati si pengantin.
Robby dan Zarina saling pandang, kemudian kompak menatap Mariani dengan ekspresi datar. "Tidak perlu mengadakan resepsi, Bu. Kami juga sudah bukan pengantin baru," ucap Zarina dengan suara lirih.
"Loh, kok, gitu. Meskipun pernikahan ini bukan yang pertama untuk kalian, tetapi kalian tetap saja pengantin baru," balas Mariani tidak setuju.
"Tapi, Bu. Kami sudah bukan anak muda lagi yang mementingkan pesta. Rina sudah sangat bahagia dengan kembali menikah dengan Mas Robby," ucap Zarina mencoba memberikan pengertian.
"Gimana menurut kamu, Rob?" Mariani beralih pada sang putra.
"Robby ikut kemauan Rina aja, Bu. Kalau memang Rina tidak menginginkan pesta, Robby juga hanya bisa menuruti kemauan Rina, Bu."
Mariani menggeleng pelan. Wanita tua itu sebenarnya sangat ingin mengadakan pesta. Namun, si kedua pengantin justru tidak menginginkan hal tersebut. Maka dari itu, dia hanya bisa menuruti kemauan anaknya.
"Ya sudah. Jika memang itulah yang terbaik, ibu hanya bisa pasrah. Yang terpenting kalian harus selalu akur, ya," kata Mariani tulus.
Zarina dan Robby kompak mengangguk. "Kami minta doanya saja, ya, Bu."
"Pasti, Sayang."
__ADS_1
Alam yang sejak tadi berada di pangkuan sang nenek sama sekali tidak menanggapi obrolan orang dewasa di sana. Anak laki-laki berparas tampan itu beberapa kali menguap.
"Alam ngantuk, ya, Sayang?" Mariani yang baru sadar bahwa cucunya itu sudah ingin beristirahat, kini berpamitan kepada Robby dan Zarina untuk membawa Alam ke kamar.
Usai kepergian Mariani dan Alam, kini di ruang tamu hanya tinggal Zarina dan Robby. Keduanya masih saling malu-malu untuk lebih dekat.
"Mas, aku mau izin membersihkan diri dulu, ya."
Robby menatap lekat sang istri yang kini masih memakai kebaya pengantin berwarna putih tulang. Lelaki itu menyadari bahwa istrinya tidak nyaman mengenakan pakaian itu.
"Ya sudah. Kamu ke kamar dulu. Nanti aku nyusul," ucap Robby yang diangguki oleh zarina.
Wanita cantik dengan pakaian daerah itu beranjak, lalu berjalan menuju kamarnya bersama sang suami. Kamar yang dulu merupakan kamarnya juga.
Sekarang tinggalah Robby seorang diri. Dia memutuskan untuk keluar menikmati udara segar. Selain itu, dia juga ingin merokok. Demi kenyamanan penghuni rumah, Robby melakukan kegiatan kegemarannya itu di teras.
Lelaki itu sibuk menghisap sebatang rokok, lalu mengeluarkan asap yang dia buat sesuka hati. Ketika sedang asyik-asyiknya menikmati waktunya sendirian, datanglah si pengacau.
Wanita dewasa yang merupakan kakak kandung Robby itu datang dengan ekspresi marah. Dia melangkah dengan terburu-buru menghampiri sang adik yang tengah duduk sendirian di teras rumah.
"Terserah Mbak Tania mau bilang apa. Ini kehidupanku, Mbak. Aku berhak menentukan masa depanku sendiri," balas Robby santai.
Tania semakin tersulut emosi ketika mendengar jawaban Robby. Adiknya itu benar-benar sudah tidak waras, menurut Tania.
"Mana Zarina?" tanya Tania, wanita itu hendak menerobos masuk. Namun, Robby dengan sigap menahan dengan mencekal pergelangan tangan wanita itu.
"Mau apa cari Zarina?" tanya Robby yang kini sudah tidak sesantai tadi. Lelaki itu bahkan membuang putung rokoknya yang masih lumayan panjang ke sembarang arah.
Tania menatap sengit adiknya. "Lepas, Rob. Mbak mau bikin perhitungan sama wanita tidak tahu diri itu. Mbak curiga, dia memberikan pelet pada kamu," ucap Tania dengan nada sedikit tinggi.
"Sudahlah, Mbak. Jangan bikin keributan di sini. Anakku sedang tidur," balas Robby. Lelaki itu tidak ingin ada keributan lagi di rumahnya.
"Anak, kamu bilang bocah itu adalah anak kamu? Kamu ngaca, Rob. Dia itu anak selingkuhan Zarina!" bentak Tania kesal.
Robby yang sejak tadi berusaha menahan amarah, kini mulai terpancing emosi. Lelaki itu semakin mengeratkan genggaman tangannya di pergelangan tangan si kakak.
__ADS_1
Tania meringis saat merasakan genggaman Robby semakin kuat. "Sakit, Rob!"
"Selama ini Robby diam melihat tingkah Mbak Tania yang sudah di luar batas, Mbak. Robby masih menganggap Mbak Tania adalah saudara yang paling aku hormati. Tapi, sikap Mbak Tania semakin ke sini semakin tidak bisa dimaklumi." Robby yang kesal mendorong pelan tubuh Tania ke belakang.
Meski didorong dengan pelan, nyatanya tenaga Robby lumayan besar juga. Tania sampai mundur empat langkah setelah didorong oleh Robby.
"Rob!" tegur Tania.
"Lebih baik Mbak Tania pergi dari sini. Robby sudah tidak bisa menahan diri lagi, Mbak!" bentak Robby, lelaki itu memalingkan wajahnya supaya tidak melihat wajah menyebalkan sang kakak.
Tania menatap nanar sang adik yang kini bersikap kasar padanya. "Kamu pasti akan menyesal, Rob. Mbak pastikan itu," ucap Tania dengan mata berkaca-kaca.
Tania pun berlalu pergi dari sana. Robby sempat menatap sedih sang kakak yang terpaksa dia usir. Sebenarnya Robby tidak ingin melakukan hal itu. Namun, kakaknya itu sejak dulu memang terkesan selalu memusuhi Zarina, bahkan sebelum Zarina melakukan kesalahan apapun.
"Maaf, Mbak."
*****
Malam harinya Robby, Zarina, Mariani, dan alam sedang duduk di ruang santai. Usai menyantap makan malam, mereka menonton televisi. Awalnya mereka menonton sinetron yang sedang populer. Namun, setelah iklan, ada sekilas berita yang ditayangkan di stasiun televisi tersebut.
'Seorang residivis pencurian kembali beraksi. Pelaku merampok sebuah rumah mewah di kawasan elite. Tidak hanya merampok harta, pelaku juga menghilangkan nyawa seorang korbannya. Kini satu pelaku berhasil diamankan oleh pihak berwajib. Namun, satu pelaku yang lain masih buron.'
Layar televisi itu menayangkan beberapa petugas kepolisian sedang melakukan konferensi pers. Di belakang tubuh tegap satu petugas, ada seorang pria memakai kaos orange khas seorang narapidana. Pria itu tertunduk begitu lama.
Zarina semakin memperhatikan seorang pria yang merupakan pelaku kejahatan itu. Dari postur tubuhnya, Zarina seperti tidak asing dengan si pelaku. "Loh, Mas Robby. Itu Dafis," ucap Zarina tiba-tiba.
Robby yang semula sedang fokus mendengar berita. Seketika menatap Zarina dengan tatapan kaget. Robby tentu saja terkejut saat mengetahui lelaki yang beberapa hari lalu mengancamnya, kini terlibat masalah hukum yang sangat besar.
Awalnya Robby belum percaya. Namun, saat pria itu kembali memandang ke arah televisi, terlihat si pelaku mengangkat wajahnya sekilas. "Benar, itu Dafis."
-
Kini kehidupan Zarina dan Robby tidak ada lagi yang mengganggu. Mereka hidup bahagia bersama Alam, anak Zarina yang kini juga menjadi anak Robby, meski anak itu bukan berasal dari benihnya. Akan tetapi, Robby begitu menyayangi anak lelaki berusia lima tahun itu.
_Tamat_
__ADS_1