Anakku Bukan Anak Suamiku

Anakku Bukan Anak Suamiku
Demam Berdarah


__ADS_3

Zarina menggeleng cepat karena tidak ingin jika laki-laki disampingnya ini akan merasa bersalah sudah terlalu banyak bertanya tentang masa lalunya. Walaupun memang benar bahwa dia merasa tidak nyaman jika ada orang baru yang terlalu kepo dengan kehidupan masa lalunya. 


"Enggak, kok, Mas. Aku cuma lagi cemas sama keadaan Alam saja," jawab Zarina sambil menatap wajah polos putranya. 


"Em, sabar, yah! Sebentar lagi kita sampai," ucap Dika yang akhirnya mempercepat laju kendaraannya. 


Beberapa saat kemudian mereka sampai di sebuah klinik. Dika cepat-cepat turun setelah mematikan mesin kendaraan roda empatnya. Laki-laki itu berniat akan membukakan pintu mobil untuk Zarina, akan tetapi Zarina dengan cepat membuka sendiri pintu kemudian keluar dari mobil berwarna silver itu. 


Dika tentu saja kecewa karena gagal memberikan perhatian lebih pada Zarina. Sebenarnya Dika ingin memanfaatkan momen ini untuk mendekati wanita berstatus janda beranak satu itu. 


"Terima kasih sudah mengantarkan kami, Mas Dika," ujar Zarina menyampaikan rasa terimakasihnya karena Dika sudah banyak membantu. 


"Sama-sama, Rin. Ayo masuk!" ajak Dika kepada Zarina. 


"Loh, Mas Dika enggak langsung pulang?" tanya Zarina heran. 

__ADS_1


"Enggak. Aku sudah mengantar kamu ke sini, jadi aku juga yang harus mengantar kamu pulang. Lagi pula Maya tadi pesan untuk menemani kamu sampai kita tahu jelas Alam kenapa."


"Aku rasa enggak perlu, Mas. Aku bisa naik taksi nanti. Sebelumnya aku mengucapkan terima kasih banget karena Mas Dika dan Mbak Maya sudah sangat perhatian pada Alam," tolak Zarina dengan nada sopan. 


Sebagai seorang wanita Zarina tentu paham dengan maksud dari laki-laki yang saat ini bersikap baik padanya. Namun, statusnya yang sudah pernah menikah dan gagal dalam rumah tangganya, Zarina merasa belum siap jika harus menjalani pendekatan dengan lawan jenisnya lagi.


Tanpa membuang-buang waktu lagi, Zarina segera membawa Alam masuk ke klinik. Sedangkan Dika hanya bisa menatap nanar wanita yang berlari menjauh darinya itu. 


"Kurangnya aku apa, sih? Dia benar-benar seperti berniat menjaga jarak dariku." Dika mendengus kesal lalu bergegas masuk ke mobilnya untuk pergi dari sana, percuma saja Dika mendekati Zarina saat ini jika wanita itu terus-menerus menunjukkan sikap penolakan. 


*****


"Dok, sebenarnya Alam sakit apa?" tanya Zarina khawatir. 


"Anak ibu terkena demam berdarah, Bu. Dia harus mendapat perawatan medis dahulu karena trombositnya sangat rendah."

__ADS_1


Jantung Zarina seakan berhenti berdetak saat mendengar kabar keadaan putra semata wayangnya yang ternyata terkena demam berdarah. Netranya menatap sedih Alam yang berada di brankar pasien. Dunia Zarina seolah runtuh ketika harus melihat sang putra terbaring lemah di ranjang pesakitan dengan jarum infus yang menancap di kulit lembutnya. 


"T-tapi keadaan Alam apakah sangat parah, Dok?" tanya Zarina dengan suara tercekat, tenggorokannya seakan terganjal oleh duri tajam. 


"Alhamdulillah, tidak, Bu. Beruntung ibu segera membawanya kesini," jelas sang dokter yang sedikit membawa angin segar untuk orang tua tunggal itu. 


"Syukurlah," ujar Zarina penuh syukur. 


"Kalau begitu saya permisi dulu, Bu. Kalau ada apa-apa silahkan panggil kami," pamit si dokter yang kembali harus melanjutkan pekerjaannya. 


"Baik, Dok." 


Setelah kepergian sang dokter, Zarina mendudukkan dirinya di kursi. Tatapan matanya tidak lepas sedetikpun dari Alam, putra yang dia urus seorang diri. Setetes air mata jatuh begitu saja tanpa permisi manakala Zarina mengedipkan matanya sebentar. Wanita yang harus menerima takdir menjadi janda diusia muda akibat kesalahan fatal yang diperbuat olehnya itu benar-benar merasa gagal menjadi seorang ibu. 


"Maafkan mama, Alam. Mama tidak becus menjagamu. Mama gagal mengurus kamu dengan baik," ujarnya penuh sesal. 

__ADS_1


Tangan kiri Zarina membelai lembut punggung tangan sang putra yang tertancap oleh jarum infus, sedang tangan kanannya mengusap pipi mulus yang sedikit terdapat ruam kemerahan. 


"Jika bisa memilih, mama saja yang sakit asalkan kamu bisa sehat terus, Alam. Mama hancur melihat kamu seperti ini," gumamnya dengan deraian air mata. 


__ADS_2