Anakku Bukan Anak Suamiku

Anakku Bukan Anak Suamiku
Keyakinan Alam


__ADS_3

Robby buru-buru menghampiri kakaknya yang sedang berbuat onar. Dia merasa malu pada mantan istrinya. Terlebih lagi, ada beberapa tetangga kompleks yang keluar dari rumah untuk melihat keributan itu. 


"Mbak, jangan bikin onar! Malu, Mbak!" Robby berbisik di telinga kakaknya. 


"Biarin aja, Rob. Mbak lebih baik nahan malu dari pada lihat kamu balik lagi sama dia." Tania menunjuk Zarina. Sorot matanya menunjukkan aura permusuhan. 


"Udah, kita pulang!" Robby menarik Tania untuk segera pergi dari sana. Dia berpikir Zarina pasti bisa mengatasi Dafis sendirian yang terpenting Tania tidak di tempat itu lagi.


"Rob, lepasin mbak, Rob!" teriak Tania saat sang adik terus menariknya pergi dari sana. 


Usai kepergian Robby dan Tania, Zarina meminta maaf pada beberapa tetangga yang melihat kejadian tadi. Mereka pun langsung masuk begitu si biang kerusuhan sudah tidak ada lagi. 


Kini tinggal Zarina dan Dafis. Mereka saling tatap dengan ekspresi berbeda. Dafis dengan kecurigaannya, sedangkan Zarina dengan amarahnya. 


"Mau apa lagi datang ke sini?" tanya Zarina dengan nada tidak bersahabat. 


"Aku butuh kejelasan, Zar. Alam anakku, 'kan?" 


"Kamu tidak bisa baca bukti yang aku berikan tadi? Alam bukan anak kamu!" 

__ADS_1


"Aku tahu, kamu hanya mau mengelak saja, Zar. Aku yakin kalau bocah tadi adalah anakku!" 


"Terserah kamu mau bicara apa, Dafis. Aku tidak peduli," ucap Zarina acuh. Dia segera membalik badannya dan masuk ke rumah. Tidak memperdulikan Dafis yang masih berteriak-teriak di depan rumahnya. 


Ketika sudah ada di dalam, Zarina luruh ke lantai. Dia menangis sejadi-jadinya. Dia tidak tahu kenapa takdir rumit ini kembali lagi. Padahal, dia sengaja pergi jauh agar dia bisa hidup tenang bersama Alam. Namun, kenyataannya tidak begitu. 


Saat Zarina sedang menangis, Alam kebetulan sudah bangun. Dia segera berlari ke ruang tamu ketika mendengar suara tangisan ibunya. 


"Mama!" panggil Alam saat melihat sang ibu duduk di lantai dengan menyembunyikan kepalanya di antara dua lutut. 


Mendengar panggilan itu, Zarina buru-buru menyeka air matanya. Dia mendongak saat sudah yakin tidak ada lagi jejak air mata. Namun, dia lupa bahwa suara sesegukan masih terdengar. 


"Alam!" 


"Mama tidak apa-apa, Sayang." 


"Bohong! Mama mau menyembunyikan apa lagi dari Alam, Ma?" tanya Alam menuntut. 


"Mama tidak bohong, Sayang," kata Zarina berusaha meyakinkan. 

__ADS_1


"Mama sedih karena Alam tadi marah, ya?" 


"Bukan, Sayang!" 


"Lalu kenapa mama menangis? Apa karena papa?" tanya bocah itu. 


"Papa?" tanya Balik Zarina yang melupakan bahwa Alam tadi sempat memanggil Robby dengan sebutan papa. 


"Papa Robby bikin Mama nangis, ya?" 


"Hah! Enggak-enggak, Sayang. Bukan pa- Om Robby yang bikin mama nangis. Mama hanya kelilipan saja, kok!"


"Alam enggak percaya, Ma. Mama bohong!" seru Alam yakin dengan perasaannya kali ini. 


Zarina langsung merengkuh tubuh Alam ke pelukannya. "Alam, Om Robby itu orang baik. Dia tidak mungkin membuat mama menangis," kata Zarina berusaha meyakinkan sang putra. 


"Kalau papa orang baik, dia tidak mungkin ninggalin mama dan Alam!" 


Zarina melerai pelukan, kemudian menatap mata sang putra lekat. Di sana terpancar kekecewaan yang begitu dalam. 

__ADS_1


"Kenapa Alam yakin bahwa Om Robby adalah papa Alam?" tanya Zarina menuntut. 


"Karena Alam sudah melihat foto pernikahan kalian, Ma. Mama dan papa adalah suami istri. Itu artinya, Alam adalah Anak papa," ucap anak itu dengan yakin. 


__ADS_2