
Sakit, itulah yang dirasakan oleh Zarina. Bagaimana tidak, dia dituduh tidur bersama banyak laki-laki. Namun, Zarina berpikir tidak ada gunanya juga menjelaskan apapun pada Dafis. Laki-laki yang hanya bisa merayu wanita hingga jatuh ke pelukannya.
"Aku tidak punya urusan apapun dengan kamu. Lebih baik kamu pergi sebelum aku panggilkan warga sekitar!" Zarina mengancam Dafis agar laki-laki itu mau pergi.
"Aku hanya ingin bertemu anakku, Za. Apa salahnya?"
"Anak kamu? Kamu bisa berkata dia anak kamu dapat info dari mana?" tanya balik Zarina.
"Dari mantan kakak ipar kamu. Sudahlah jangan mencoba membohongiku. Dia anakku, 'kan?"
"Jangan gampang percaya berita palsu, Daf. Alam adalah anakku, bukan anak kamu!"
"Lalu siapa ayahnya?"
"Aku papanya Alam." Suara itu datang dari balik tubuh Dafis.
Seketika Zarina dan Dafis menatap orang yang mengaku sebagai ayah Alam. Zarina melongo tidak percaya, sedangkan Dafis menatap tajam seseorang yang mengakui Alam sebagai anaknya.
__ADS_1
"Punya bukti apa sampai kamu berani mengakui Alam sebagai anak kamu?" tanya Dafis pada Robby.
"Rin, kamu simpan akta kelahiran Alam, 'kan?" tanya Robby pada Zarina.
"Iya, Mas. Ada, kok!"
"Coba bawa kesini. Biar laki-laki ini melihat buktinya," pinta Robby seraya melirik sinis Dafis.
"Baik, Mas. Sebentar," balas Zarina, lalu berjalan masuk ke rumahnya.
Alam menurut, tetapi rasa penasarannya tetap mengalahkan segalanya. Alam diam-diam mengikuti Zarina yang kini sedang mencari berkas-berkas di lemarinya.
"Nah, ini dia." Zarina buru-buru keluar tanpa merapikan berkas-berkas penting itu lebih dulu.
Ketika Zarina keluar dari kamar, Alam bersembunyi di balik dinding. Bocah itu semakin penasaran saat melihat kamar sang ibu yang kini berantakan.
"Biar Alam bantu bereskan. Pasti mama buru-buru sampai enggak sempet beresin itu semua." Alam masuk ke kamar ibunya, lalu merapikan berkas-berkas sang ibu.
__ADS_1
Saat sedang merapikan semua berkas ibunya, ada selembar foto yang terselip di antara berkas-berkas tersebut. Alam pun semakin penasaran dan memeriksa foto itu.
"Ha, ini foto mama dan Om Robby. Tapi kenapa mereka memakai baju pengantin?" tanya Alam dengan mata membulat.
*****
Zarina keluar untuk menemui kedua laki-laki yang tengah menunggunya di sana. Dengan sebuah dokumen penting di tangan kanannya Zarina pun menemui Robby dan Dafis.
"Ini, Mas." Zarina menyerahkan dokumen yang merupakan akta kelahiran Alam.
Robby menerima dokumen yang diberikan oleh Zarina. Sekilas dia membaca apa saja yang ditulis di dalam kertas itu, kemudian memberikannya pada Dafis. "Silahkan baca sendiri apa yang tertulis di sini. Biar mata kamu itu bisa melihat bahwa Alam adalah anakku," kata Robby tegas.
Dafis pun membaca dokumen itu. Di sana memang tertulis dengan jelas bahwa Robby adalah ayah dari Alam. Dia merasa geram kepada wanita yang sudah menghasut dirinya tadi. "Awas kau wanita pembohong. Aku pasti akan memberimu pelajaran!" Dafis membatin dalam hatinya.
Tanpa mereka sadari, Alam kini tengah berdiri di ambang pintu. Bocah itu mendengar dengan jelas ucapan kedua laki-laki dewasa di sana. Untuk beberapa saat Alam mematung di tempatnya. Namun, begitu tersadar, Alam langsung memanggil seseorang yang ternyata adalah ayahnya.
"Papa!" teriak Alam sambil berlari menuju Robby berdiri.
__ADS_1