Anakku Bukan Anak Suamiku

Anakku Bukan Anak Suamiku
Sakit Kepala


__ADS_3

"Tidak apa-apa, Om. Alam juga salah tadi," jawabnya ramah. 


Laki-laki itu tersenyum hangat saat mendengar jawaban ramah dari bocah di depannya. Netra hazelnya menatap lekat bola mata bocah laki-laki yang memiliki sopan santun yang begitu baik. Dia merasa seperti tidak asing dengan tatapan dari mata bocah yang menyebut namanya dengan nama yang pernah dia berikan pada seorang bayi. 


"Alam?" tanya laki-laki dewasa itu mengulang nama yang sangat familiar untuknya. 


"Iya, Om. Namaku Alam," jawab bocah itu tanpa rasa takut. 


Ini adalah pertama kalinya Alam berinteraksi dengan seseorang yang belum dikenal. Biasanya dia akan merasa takut jika ada orang yang mendekatinya, terlebih lagi jika orang itu adalah seorang laki-laki. Namun, ketakutan itu sama sekali tidak dirasakan oleh Alam saat ini. 


"Oh. Kenalin, nama Om Robby." Laki-laki itu mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan bocah laki-laki yang terlihat menggemaskan itu. 


"Salam kenal, Om. Senang berkenalan dengan Om," ujar Alam seraya menerima jabatan tangan laki-laki dewasa di depannya.


"Oh iya, Alam. Om boleh tahu nama panjang Alam?" 


"Boleh, Om. Nama panjangku, Alam putra alam–" 


"Robby!" teriak seorang wanita yang berjalan cepat menghampiri laki-laki dewasa itu. 


"Ada apa, sih, Mbak?" tanya Robby dengan nada kesal. 


"Kamu mbak cariin malah ilang. Kita harus pulang sekarang!" 


"Kenapa harus sekarang?" 


"Penyakit ibu kambuh lagi," jawabnya sambil menarik tangan Robby. 


Robby yang terkejut mendengar kabar sang ibu yang kembali sakit, laki-laki dewasa itu seketika lupa dengan keberadaan bocah laki-laki yang terpaksa berhenti menyebut nama panjangnya. Robby bahkan melupakan belanjaan yang masih berserakan di sana. Dia langsung bergegas pulang. 


Sementara itu, Alam hanya bisa menatap bingung laki-laki yang baru saja sempat berkenalan dengannya lari tunggang langgang dari sana. Namun, Alam sangat mengerti karena dia juga mendengar bahwa ibu dari laki-laki itu sedang sakit. 


"Kamu, jangan sentuh belanjaanku!" bentak Tania saat Alam akan membantunya mengambil belanjaan yang berserakan. 


"Maaf, Tante," ujar Alam yang langsung menaruh kembali belanjaan yang tadi dibawa oleh Robby. 


Tania mengambil semua belanjaan miliknya, lalu mengayunkan langkahnya pergi dari sana. Wanita yang sudah berusia kepala empat itu sempat mendelik tajam ke arah Alam. Wajah judes itu membuat Alam sedikit takut. Hanya saja bocah itu enggan menampakkan ketakutannya di hadapan si wanita. Alam takut jika nantinya wanita itu semakin kesal saat tersinggung olehnya. 

__ADS_1


Alam masih memandang punggung seorang wanita yang menurutnya sangat galak itu. "Om tadi baik sekali, tapi kenapa Tante barusan kok judes dan galak, sih!" 


"Siapa yang galak, Alam?" tanya Zarina yang sudah berlutut di samping sang putra. 


"Tante tadi, galak banget. Kalau Alam sudah besar, Alam tidak mau punya istri seperti dia," jawabnya sambil terus menatap punggung wanita yang semakin menghilang dari pandangannya. 


"Tante, tante yang mana, Alam?" tanya Zarina seraya mengikuti arah pandang sang putra.


Seketika Alam menoleh saat sadar bahwa suara yang mengajaknya berbicara adalah suara ibunya. Bocah itu menyengir kuda saat melihat sang ibu menatapnya heran. 


"Tante tadi, Ma. Dia galak sekali. Ah, sudahlah, jangan dibahas! Alam tidak suka dengan wanita judes." 


Zarina tersenyum seraya mengacak rambut putranya, "Kalau begitu, kamu sukanya wanita yang seperti apa?" 


"Seperti mama, lah! Mama adalah wanita terbaik di dunia ini," jawabnya dengan yakin, bocah itu membiarkan sang ibu yang membuat rambutnya berantakan. 


Bagi Alam, senyuman sang ibu sangatlah berharga. Alam rela melakukan apa saja untuk melihat senyuman manis dari bibir wanita yang sudah melahirkan serta merawatnya seorang diri. 


"Kamu bisa saja," ucap Zarina dengan ekspresi yang tiba-tiba berubah. 


"Mama kenapa lama di toilet?" tanya Alam tiba-tiba. 


"Tadi antri, Sayang." Zarina buru-buru menyembunyikan sesuatu yang baru dibeli olehnya di belakang punggungnya. 


"Oh, Alam kira mama sakit perut."


Lalu lalang puluhan orang yang melintas tidak dihiraukan oleh Alam dan Zarina. Keduanya masih sangat nyaman berbincang di lantai mall yang dingin. Setiap orang yang melihat mereka bahkan melempar senyum karena merasa keduanya merupakan pasangan ibu dan anak yang sangat kompak. 


"Terus kamu ngapain malah duduk di sini? Mama tadi suruh kamu duduk di sana, loh!" 


"Em, tadi Alam tidak sengaja nabrak orang, Ma. Belanjaan dia jatuh berhamburan akibat kelalaian Alam," jawabnya yang malah menyalahkan diri. 


"Loh, terus ada yang luka-luka tidak?" Zarina langsung memeriksa beberapa bagian tubuh putranya. 


"Mama, Alam itu ketabrak orang, bukan sepeda. Mana mungkin ada yang terluka!" 


"Ah, syukurlah kalau gitu. Ya sudah, ayo kita ke Timezone! Sekarang waktunya kamu main sepuasnya." 

__ADS_1


"Hore!" pekik Alam gembira, bocah itu langsung berdiri. 


*****


"Hei, Robby! Tunggu." Tania mengejar langkah besar sang adik. 


"Mbak lama banget! Robby pengen cepet sampai rumah. Sekarang mending mbak pesen taksi. Robby pulang sendiri biar lebih cepat." 


"Enggak-enggak! Mbak enggak mau keluar duit lagi, yah! Duit mbak udah habis buat belanja barang-barang ini," tolak Tania karena dia memang sudah tidak memegang uang sedikitpun. 


"Salah siapa belanja pakaian kaya mau buka toko. Pokoknya mbak pulang pakai taksi. Nah, Robby kasih ongkosnya," tegas Robby sambil menyodorkan uang lembaran berwarna merah. 


Robby segera menyalakan mesin motornya setelah sang kakak mengambil alih uang tersebut. Tanpa membuang waktu, Robby mengendarai kuda besinya dengan kecepatan tinggi agar lebih cepat sampai di rumah. Laki-laki itu sangat mengkhawatirkan kondisi sang ibu yang terpaksa dia tinggal bersama dengan seorang asisten rumah tangga. 


"Dasar adik durjana!" maki Tania saat Robby benar-benar meninggalkan dirinya. 


Empat puluh lima menit kemudian Robby sampai di rumahnya. Dia segera masuk setelah memarkirkan motornya di teras. Robby berlari menuju kamar yang digunakan oleh ibunya. 


"Ibu!" pekik Robby saat melihat sang ibu berbaring di tempat tidur dengan mata terpejam. 


"Pak, maaf. Ibu baru saja tidur," ucap sang asisten rumah tangga. 


"Gimana keadaan ibu? Kamu udah panggil dokter?" tanya Robby beruntun. 


"Ibu baik-baik saja, Pak. Untuk apa panggil dokter?" 


"Lah, tadi Mbak Tania bilang penyakit ibu kambuh lagi," ujar Robby yang kini mendudukkan dirinya di samping sang ibu, tangannya memeriksa denyut nadi di tangan ibunya yang memang normal. 


"Dasar, Mbak Tania. Enggak ada kapok-kapoknya!" gerutu Robby dengan suara lirih karena takut mengganggu istirahat sang ibu. 


"Pak, karena Pak Robby sudah pulang, saya mau permisi nyetrika baju dulu," pamit si asisten dengan sopan. 


"Ya sudah, sana!" 


Robby menatap lekat-lekat wajah tua sang ibu yang semakin keriput. Tiba-tiba sesuatu yang tidak diinginkan olehnya melintas dikepala. Robby memegangi kepalanya yang terasa berdenyut hebat. 


"Kenapa akhir-akhir ini aku selalu sakit kepala?" 

__ADS_1


__ADS_2