
Beberapa hari mendapat perawatan medis kini kondisi alam sudah jauh lebih baik. Zarina akhirnya merasa lega setelah melihat sang putra yang sudah mulai ceria. Selama berada di klinik, Zarina memang hanya sendirian menjaga Alam, tetapi hal itu tidak membuat Zarina mengeluh sedikitpun.
Suara pintu yang terbuka membuat Zarina menoleh. Wanita itu tersenyum ramah saat melihat ternyata dokter yang menangani Alam yang datang ke sana.
"Bagaimana, Bu. Alam sudah tidak rewel, 'kan?" tanya si dokter ramah setelah berada di depan zarina, dokter itu juga membaca catatan medis si pasien.
"Alam sudah tidak rewel, Bu. Apakah keadaan dia sudah semakin baik?"
"Kondisi Alam sudah sehat, Bu Rina. Nanti sore juga sudah boleh pulang," jelas si dokter yang seketika membuat Zarina lebih lega.
"Baiklah, terima kasih, Bu dokter sudah merawat anak saya dengan baik," ucap Zarina dengan lembut.
"Sama-sama, Bu Rina. Ini memang sudah kewajiban saya sebagai tenaga kesehatan. Ya sudah kalau begitu saya tinggal dulu," pamit si dokter dengan sopan.
Seperti ucapan sang dokter tadi bahwa sore ini Alam sudah bisa keluar dari rumah sakit. Zarina memangku Alam dengan perasaan haru. Melihat sang anak sudah sehat saja, rasanya lebih bahagia dari pada mendapat kejutan mewah. Mereka kini sedang dalam perjalanan pulang dengan taksi online yang sudah dipesan oleh Zarina.
__ADS_1
Taksi berhenti tepat di depan rumah yang dikontrak Zarina. Wanita itu menyodorkan uang pecahan berwarna biru sebagai alat pembayaran, jumlah itu sama seperti yang tertera di argo taksi tersebut.
"Terima kasih, Pak," ujar Zarina sopan kepada sopir taksi itu.
"Sama-sama, Bu." Si sopir menjawab tidak kalah ramah.
Zarina turun dari taksi dengan menggendong Alam serta membawa sebuah tas berisi pakaian miliknya yang digunakan selama berada di rumah sakit. Ketika baru saja menginjakkan kakinya di halaman rumah, Zarina menggeleng pelan seraya menghela napas panjang.
Halaman serta teras rumah saat ini dalam keadaan buruk, banyak sampah daun yang berserakan di sana. Baru di tinggal beberapa hari saja, tempat itu sudah seperti bangunan terbengkalai jika dilihat dari luar.
"Aku benar-benar harus kerja keras lebih ekstra hari ini. Itu artinya besok aku belum bisa kembali menerima pesanan kue," lirihnya sambil mengayunkan kaki untuk segera masuk.
"Akhirnya selesai juga. Astaga, tubuhku lelah sekali," keluh Zarina seorang diri, padahal percuma saja dia mengeluh karena tidak akan ada seorang pun yang mendengar keluhannya.
"Lebih baik aku mandi dulu," ujarnya seraya masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Merasa tubuhnya sangat lelah, Zarina sangat ingin beristirahat. Namun, tubuh yang kini terlihat sedikit kurus itu terasa lengket dan bau. Zarina pun memutuskan untuk membersihkan diri sebelum mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.
Setelah membersihkan diri, Zarina membaringkan tubuhnya di samping Alam yang sedang tertidur. Tanpa menunggu lama, mata sembab akibat kurang tidur itu langsung terpejam. Zarina larut dalam mimpi indahnya.
Keesokan harinya Zarina bangun dengan tubuh yang lebih segar dan rileks. Pikiran buruk yang beberapa hari lalu mengganggu pikiran kini telah lenyap. Melihat Alam sudah sehat membuat hatinya sangat lega. Kini Zarina bertekad akan lebih berjuang dan lebih ketat menjaga sang putra agar kejadian kemarin tidak terjadi lagi.
Zarina baru saja selesai menyantap sarapan paginya setelah memastikan Alam sudah terurus dengan baik. Bayi yang hampir berulang tahun itu kini sedang terlelap di kamar. Zarina memanfaatkan waktu luangnya untuk berselancar dengan ponsel. Seperti biasa, dia akan membuat promosi dagangannya melalui sosial media.
Ketika wanita itu sedang asik mengunggah foto-foto dagangannya, fokusnya terganggu saat muncul sebuah notifikasi di ponselnya. Sebuah chat masuk ke akun sosial medianya. Bola matanya membelalak seketika saat melihat nama yang tertera di sana.
"Zara, kamu di mana? Dua hari lalu aku mengunjungi rumahmu, dan mereka bilang kamu sudah tidak tinggal di rumah itu."
Begitulah pesan yang tertulis di layar ponsel Zarina. Sebuah pesan yang berasal dari seseorang yang tidak pernah Zarina nantikan.
"Enggak, Rin. Kamu tidak boleh membiarkan dia merusak hidupmu lagi. Dia suami orang, kau tidak seharusnya berhubungan dengannya!" Hati kecil Zarina berbicara.
__ADS_1
Tidak ingin mengingat-ingat kejadian buruk yang terjadi padanya tahun lalu, Zarina langsung menghapus pesan tersebut. Tidak hanya itu saja, Zarina bahkan berniat memblokir media sosial seseorang yang ingin dihindarinya. Namun, saat ibu jarinya akan memencet tombol blokir, sebuah pesan kembali masuk. Hal itu membuat Zarina otomatis membaca pesan tersebut.
"Aku merindukanmu, Zara."