Anakku Bukan Anak Suamiku

Anakku Bukan Anak Suamiku
Kesempatan Kedua


__ADS_3

Senyum samar terbit di bibir tebal Robby. Permintaan anak kecil yang wajahnya sedang dia tangkup dengan tangannya itu begitu memuaskan untuknya. Sementara itu, di belakang tubuh Robby, ekspresi wajah Zarina menampakkan ketegangan. 


Wanita itu merasa tidak enak pada Robby–mantan suaminya. Dia sama sekali tidak tahu bahwa apa yang diminta oleh Alam juga adalah harapan Robby yang sesungguhnya. 


Suasana kamar Alam terasa senyap. Hanya terdengar suara deru napas pelan dari ketiga makhluk di dalam sana. Mereka merasakan perasaan yang berbeda. Alam dengan harapannya, Zarina dengan rasa tidak enaknya, sedangkan Robby dengan kepuasan tersendiri dalam hati. 


"Mas," panggil Zarina lirih, meski bibirnya begitu berat tetapi, dia berusaha untuk menggerakkan mulutnya itu. 


Robby menoleh pada Zarina. Seutas senyum tipis terbit di bibir laki-laki rupawan itu. Melihat senyum tipis Robby, seketika Zarina tertegun. 


"Bagaimana, Rin?" tanya Robby ambigu. Zarina pun belum bisa mencerna pertanyaan sang mantan suami barusan. 


"Mama!" panggil Alam dengan nada sedikit menekan. Anak itu sangat berharap bahwa keinginannya akan terwujud. 


Manik mata Zarina bergerak ke kanan dan ke kiri. Dia masih terkejut dengan permintaan Alam serta respon dari Robby.


"Alam, sebaiknya kamu mandi dulu, Nak. Mama akan siapkan sarapan untuk kita," ucap Zarina yang memilih untuk mengalihkan pembicaraan. 


Seketika raut wajah Alam murung setelah sang ibu enggan untuk membahas tentang permintaannya. Robby yang paham dengan perasaan Alam saat ini pun tidak tinggal diam. 


Robby mendekatkan bibirnya ke telinga anak laki-laki itu dan detik berikutnya si anak langsung mengangguk dengan ekspresi sumringah. Zarina bahkan mengerutkan keningnya saat melihat sang anak terlihat begitu bahagia. 


Entah apa yang dibisikkan oleh Robby kepada Alam. Namun, yang jelas hal itu dapat mengubah perasaan si kecil berparas tampan itu. 


"Kalau gitu Alam mandi dulu, ya, Pa." Alam menyingkap selimutnya, lalu bergegas turun dari kasur busa miliknya. 


"Mandi yang bersih dan wangi, ya, Sayang." Robby menanggapinya dengan santai, sedangkan Zarina masih saja mematung ditempat dengan tatapan bingung. 


Alam mengangkat tangan sebelah kanannya dan dia tempelkan pada pelipis membentuk tanda hormat. Bibir mungilnya masih saja tersungging senyuman yang semakin menambah ketampanan Alam. 


Usai melakukan hal tersebut, Alam berlari keluar dari kamarnya. Dia langsung menuju kamar mandi yang berada di samping dapur. 


Setelah kepergian Alam, kini di ruangan itu hanya tertinggal Zarina dan Robby. Suasana menjadi sangat hening. Namun, raut wajah keduanya mendadak tegang ketika mereka hanya berdua saja di ruangan itu. 

__ADS_1


Robby bangkit dari kasur yang tadi dia duduki. Meski ketegangan itu begitu terasa, tetapi Robby sudah bertekad akan memperbaiki hubungannya dengan Zarina. 


Melihat Robby mulai berjalan ke arahnya, jantung Zarina mendadak berdetak dengan ritme tidak normal. Sorot matanya masih tertuju pada tubuh kekar Robby yang sedikit lagi sampai di hadapannya. 


Hingga pada akhirnya, mereka saling bersitatap. Keduanya merasakan jantung mereka berdegup kencang. Seolah-olah seperti mereka baru saja merasakan kasmaran. 


Sebagai seorang pria, Robby memberanikan diri untuk menggapai kedua tangan Zarina, dan menggenggamnya dengan erat. Kedua pasang mata anak manusia itu saling mengunci satu sama lain. Seakan mereka tengah menyelami dalam-dalam untuk mencari kebenaran atas perasaan satu sama lain. 


Kedua bibir itu masih terkunci rapat. Tidak ada sepatah katapun yang terucap dari kedua insan tersebut. Hanya terdengar deru napas yang sedikit berbeda dari biasanya saja. Keadaan itu berlangsung hingga beberapa menit, hingga akhirnya si lelaki yang mulai membuka percakapan. 


"Rin, boleh aku bertanya sesuatu padamu?" tanya Robby, manik matanya masih membingkai wajah ayu sang mantan istri. 


"Ta-nya a-pa, Mas?" tanya balik Zarina dengan nada gugup. 


"Bagaimana perasaan kamu sekarang?" tanya Robby tanpa basa-basi, dia berusaha menguasai kegugupan yang dia rasakan. 


"Maksud kamu–?"


Ditanya seperti itu, tentu saja Zarina semakin gugup. Dia tidak menyangka akan ada momen seperti ini dalam kehidupannya. 


"Aku …." 


Dengan tegang Robby masih sabar menunggu jawaban dari mantan istrinya. Dia pun bisa merasakan bahwa Zarina pun tengah merasakan perasaan yang sama seperti dirinya saat ini. 


"Ma-af, Mas. Aku pun tidak tahu tentang perasaanku saat ini," ucap Zarina, dia menundukkan wajahnya. 


"Apa kamu memiliki ketertarikan pada pria lain?" tanya Robby pelan. 


Gelengan kepala yang dilakukan oleh Zarina, cukup membuat Robby bisa bernapas lega. Setidaknya dia tidak memiliki saingan untuk memperjuangkan sang mantan istri. 


Robby memindahkan tangan kanannya ke dagu Zarina. Sedikit menuntut wanita itu agar mau mendongak dan menatap wajahnya. Diperlakukan seperti itu, Zarina hanya bisa menurut, meski hatinya sudah semakin tidak karuan. 


Robby tersenyum saat melihat ekspresi tegang di wajah cantik mantan istrinya. Dari reaksi Zarina saat ini, Robby sudah cukup yakin dengan perasaan wanita itu yang tidak jauh berbeda darinya. 

__ADS_1


"Rin, kalau aku meminta sesuatu, apakah kamu mau mengabulkannya?" 


Jantung Zarina semakin berdebar kencang ketika menatap wajah tampan sang mantan suami. Dia benar-benar kelimpungan untuk menyembunyikan perasaan saat ini. 


"Me-minta ap-a, Mas?" 


"Meminta waktu dan kesempatan kedua untuk memperbaiki hubungan kita, Rin," jawab Robby dengan jelas. 


"Kamu serius, Mas?" tanya Zarina sedikit tidak percaya. 


"Lebih dari kata serius, Rin. Aku masih mencintai kamu, dan aku pun menyayangi Alam," katanya tanpa keragu-raguan. 


"Tapi Alam …." Zarina membuang muka ke samping, hingga tangan Robby yang sempat memegang dagunya terlepas. 


"Dia akan menjadi anakku, Rin. Aku janji akan menyayangi dia dengan tulus," potong Robby dengan cepat. 


Zarina masih diam, dia pun bingung harus mengambil keputusan apa? Sejujurnya dia pun masih memiliki perasaan yang sama seperti dulu. Namun, dia pun merasa tidak pantas untuk mendapatkan kesempatan kedua. 


"Rin, kita lupakan masa lalu. Kita mulai semuanya dari awal. Aku janji, aku akan memperlakukan Alam selayaknya anak kandungku." Robby masih berusaha untuk meyakinkan sang mantan istri. 


"Mas Robby yakin bisa menerima masa laluku?" tanya Zarina memastikan. 


"Kalau tidak, untuk apa aku datang ke sini, Rin?" Bukan jawaban yang diberikan oleh Robby, melainkan pertanyaan yang bermuatan jawaban sekaligus. 


Seketika sebelah sudut bibir Zarina terangkat saat berhasil mencerna ucapan sang mantan suami. Namun, senyuman itu tidak berlangsung lama. Bibir itu kembali bertangkup saat mengingat sesuatu. 


"Kenapa?" tanya Robby ketika mendapati raut muram Zarina. 


"Kamu mungkin bisa menerima masa laluku, Mas. Tapi … bagaimana dengan ibu?" 


Robby justru tersenyum hangat saat mendapat pertanyaan serius dari sang mantan istri. Dia mempererat genggaman tangannya di kedua tangan Zarina. 


"Justru ibu lah yang menyuruhku untuk meyakinkan perasaanku padamu, Rin," ucap Robby yang seketika membuat mulut Zarina menganga. 

__ADS_1


__ADS_2