Anakku Bukan Anak Suamiku

Anakku Bukan Anak Suamiku
Siapa Robby?


__ADS_3

Dika menoleh ke samping saat mendengar gumaman Zarina. Meskipun suara wanita di sampingnya sangatlah lirih, tetapi Dika masih bisa mendengar jelas bahwa wanita itu menyebut nama seorang laki-laki. 


"Kamu kenal orang itu, Mbak Rina?" tanya Dika setelah mematikan mesin mobil. 


Zarina yang semula sedang memandang Robby di depan sana, menoleh ke arah Dika berada. Gelengan kecil dia lakukan sebagai jawaban. 


"Kirain kenal, Mbak," ucap Dika seraya melepaskan seatbelt yang melingkar di tubuhnya. 


"Enggak, Mas. Cuma hampir mirip sama teman saya aja, kok!" elak Zarina berbohong. 


"Oh. Ya sudah, aku keluar dulu, yah!" 


"Ya, Mas." 


Dika keluar dari mobilnya untuk memastikan bahwa seseorang yang hampir tertabrak olehnya dalam keadaan baik-baik saja. Dika tidak ingin jika masalah ini akan berbuntut panjang. 


Dengan langkah lebar Dika berjalan menghampiri pengendara motor di depan sana. Laki-laki yang hampir tertabrak oleh mobilnya itu terlihat ikut turun dari motor. 


"Mas tidak apa-apa? Maaf, saya tidak sengaja tadi." Dika dengan ramah meminta maaf. 

__ADS_1


"Saya baik-baik saja, Mas. Tidak masalah, lagi pula ini juga salah saya," jawab Robby tidak kalah ramah. 


Sementara itu, Zarina masih memperhatikan interaksi kedua laki-laki di depan. Keduanya terlihat baik-baik saja, tidak ada tanda-tanda akan adanya keributan seperti yang akhir-akhir ini viral di media sosial bahwa banyak kejadian yang berawal dari ketidaksengajaan berakhir dengan adu otot. 


"Kenapa kamu tidak hati-hati, sih, Mas? Kamu sama sekali tidak sadar kalau apa yang kamu lakukan membahayakan diri kamu juga," gumam Zarina dengan suara lirih dan mata berkaca-kaca. 


Tidak berselang lama, Dika terlihat berjalan kembali ke mobil. Zarina yang tadi sempat hampir meneteskan air mata segera menyeka kedua sudut matanya. 


"Lama, yah? Maaf." Dika yang baru masuk langsung meminta maaf pada Zarina. 


"T-tidak, Mas. Lagian Alam juga ketiduran lagi," jawab Zarina sambil mengulas senyum tipis. 


"Iya, Mas." Zarina menjawab ucapan Dika, tetapi kedua matanya justru fokus pada Robby yang mulai kembali mengendarai motornya. 


Dika yang fokus mengatur tuas transmisi gigi mobilnya agar siap melaju sama sekali tidak memperhatikan wanita di sampingnya yang terus menatap laki-laki pengendara motor tadi. Tatapan Zarina bahkan belum juga terlepas dari Robby bahkan setelah mobil yang dikendarai oleh Dika melewati mantan suaminya itu.  Ketika mobil sudah melaju cukup jauh, barulah Dika kembali menatap sekilas Zarina yang kini sedang memandang ke arah belakang. 


"Mbak, ada apa?" 


Zarina masih diam dan belum juga menoleh. Dika merasa ada yang aneh dengan perilaku wanita di sampingnya setelah hampir bertabrakan dengan motor tadi. 

__ADS_1


"Mbak Rina!" 


"Eh, iya, ada apa, Mas Robby?" 


"Mas Robby?" Dika mengulang nama yang disebut oleh wanita di sampingnya dengan dahi berkerut. 


"Ah, maaf, Mas Dika. Saya salah sebut," ucap Zarina dengan perasaan tidak enak. 


"Em, siapa Robby, Mbak? Mantan suami kamu, kah?" 


Zarina hanya tersenyum tipis tanpa bisa menjawab pertanyaan Dika. Dia masih takut jika nantinya laki-laki di sampingnya ini justru semakin penasaran dengan masa lalunya setelah dia sedikit membuka lembaran-lembaran kisah kelam yang berusaha dia hapus perlahan-lahan. 


"Maaf, Mbak. Aku terlalu kepo, yah?" 


"Enggak apa-apa, Mas." Zarina masih memasang ekspresi canggung setelah Dika menanyakan status laki-laki yang tidak sengaja dia sebut namanya. 


Keduanya kini sama-sama diam. Suasana di mobil itu sangat hening. Hanya ada suara deru mesin mobil yang terdengar begitu halus. Sepertinya si pemilik sangat menjaga kondisi kendaraannya agar tetap dalam keadaan optimal. 


"Aku yakin, ada yang disembunyikan oleh Rina, dan sepertinya itu berkaitan dengan laki-laki tadi," batin Dika seraya melirik ke arah Zarina yang terlihat duduk dengan gelisah. 

__ADS_1


"Rasa kepoku membuat Mbak Rina tidak nyaman, yah?" tanya Dika tiba-tiba. 


__ADS_2