Anakku Bukan Anak Suamiku

Anakku Bukan Anak Suamiku
Syarat Dari Alam


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju tempat bekerjanya, Robby terus memikirkan Alam. Dia tidak menyangka bahwa anak itu selama ini dikucilkan oleh teman-temannya karena tidak memiliki ayah. Lagi dan lagi, Robby kembali menyalahkan dirinya yang dulu bersikap egois dan memutuskan untuk melepaskan Zarina dan Alam untuk hidup sendiri. 


"Maaf, Alam. Papa terlalu egois dan tidak memikirkan masa depan kamu pada saat itu," batin Robby penuh sesal. 


Pantas saja Alam begitu mendambakan sosok ayah dalam kehidupannya. Bukan hanya ingin mendapatkan perhatian lebih, tetapi Alam juga ingin membuktikan pada teman-temannya bahwa dia pun memiliki keluarga yang lengkap. 


"Tenanglah, Alam. Papa janji tidak akan pernah meninggalkan kalian lagi. Papa akan berjuang agar kita bisa hidup bahagia bersama-sama." Robby bertekad akan memperbaiki segalanya demi kebahagiaan Zarina dan Alam. 


Beberapa saat kemudian, Robby sampai di tempat bekerja. Dia menghentikan laju motornya ketika sampai di parkiran. Laki-laki itu bergegas menuju proyek yang saat ini sudah hampir selesai dikerjakan. 


Robby pun mulai disibukkan dengan urusan pekerjaan. Dia memberikan arahan pada bawahannya agar hasil yang mereka berikan dapat memuaskan. 


Meski memiliki jabatan sebagai mandor, nyatanya Robby tidak hanya pandai memerintah. Dia pun tidak segan untuk mengerjakan pekerjaan tukang tersebut. Dia ikut mengecat beberapa sudut bangunan. 


*****


Tidak jauh berbeda dengan Robby, Zarina pun fokus membuat pesanan kue dari pelanggannya. Wanita itu tidak ingin mengecewakan Robby yang berniat ingin mempertemukannya dengan sang ibu. Meski jauh di dalam lubuk hatinya Zarina merasa malu jika bertemu dengan wanita yang pernah menjadi mertuanya itu. Namun, keseriusan Robby pun membuat Zarina yakin bahwa mungkin memang inilah yang terbaik. 


Tepat pada siang harinya, Zarina telah selesai mengerjakan semua tugasnya. Seorang pelanggan pun akhirnya datang untuk mengambil pesanannya.


"Rin, tumben banget nyuruh cepet-cepet ambil pesanan," ucap si pelanggan berniat menggoda Zarina. 


"Iya, Mbak. Aku ada acara," balas Zarina dengan suara lembutnya. 


"Acara apa? Mau pergi sama Alam?" tanya si pelanggan lagi. 


"Ada urusan keluarga, Mbak." 


"Loh, kamu masih punya kerabat di sini tha? Tak kirain selama ini kamu hanya hidup berdua sama Alam," ucap si pelanggan dengan raut wajah terkejut. 

__ADS_1


"Bukan kerabat, Mbak. Tapi …." 


"Oh, calon suami kamu, yah!" potong si pelanggan yang langsung dapat menebak hanya dengan melihat ekspresi malu-malu Zarina. 


Digoda seperti itu, Zarina hanya tersenyum tipis. Dia sebenarnya tidak ingin menunjukkan perasaannya pada siapapun. Wanita cantik itu merasa sudah bukan anak remaja yang dengan bangganya menyebarkan perasaannya pada orang lain. 


"Selamat, ya, Rin. Semoga acaranya lancar," lanjut si pelanggan. 


"Terima kasih, Mbak." 


*****


Usai menyerahkan pesanannya pada si pelanggan, Zarina pun kembali masuk ke rumahnya. Dia hendak membangunkan Alam yang sedang tidur siang. Wanita cantik dengan rambut dicepol ke atas itu masuk ke dalam kamar sang putra. Namun, dia terhenti di ambang pintu saat melihat ternyata Alam sudah rapi dengan pakaian casual. 


Zarina terdiam, mengamati sang putra yang tengah bergaya di depan cermin. Anak tampan itu tengah menyisir rambutnya, bibir mungil itu terus saja tersungging. 


"Alam!" 


"Mama, kok, belum siap-siap?" tanya anak itu ketika sudah berada di depan sang ibu. 


Zarina berlutut di depan Alam agar menyamakan ketinggian mereka. Tangan kanan Zarina terulur, lalu membelai lembut pipi tembam Alam. 


"Anak mama udah ganteng banget, mau ke mana?" tanya Zarina, wanita cantik itu sengaja pura-pura lupa tentang rencana mereka hari ini. 


"Loh, mama lupa?" tanya balik Alam dengan mata melotot. 


"Lupa apa, Sayang?" Zarina terus saja berpura-pura tidak mengingat apapun. 


"Mama!" seru Alam, bibirnya mencebik menandakan bahwa dia sedang badmood. 

__ADS_1


Zarina tertawa, lalu mencubit pelan hidung putranya itu. Alam membuang muka ke samping sebagai bentuk protesnya kepada sang ibu. 


"Mama enggak lupa, kok, Sayang. Tapi, mama baru aja selesai kerja. Ini juga mau mandi, kok!" 


Raut wajah Alam yang semula kesal, kini berganti berseri-seri. Bibirnya pun kembali mengulas senyum lebar. 


"Mama ngerjain Alam, yah!" seru anak itu, yang ditanggapi kedikan bahu sang ibu. 


"Ih, mama menyebalkan." Alam menyilangkan kedua tangannya di dada sebagai bentuk rasa kesalnya pada Zarina. "Alam bakal aduin mama ke papa," ancam Alam yang langsung membuat Zarina terkekeh. 


"Dih, sekarang udah berani ngancem mama, ya. Mentang-mentang udah ketemu papa," goda Zarina masih dengan kekehan kecil. 


"Abis mama ngerjain alam, sih!" 


"Iya-iya. Mama enggak gitu lagi, deh! Tapi, jangan ngadu ke papa, yah!" bujuk Zarina, tangannya kembali mencubit pelan pipi sang putra. 


"Enggak janji," balas Alam yang kelihatannya masih dendam pada ibunya. 


"Alam," rengek Zarina pada sang putra. 


"Udah, ah! Mama mandi, sana!" perintah Alam seraya menarik pelan tangan Zarina agar mau bangun dari posisinya. 


"Mama mau mandi, tapi, Alam jangan bilang ke papa, ya," bujuk Zarina masih berusaha agar kejahilannya tidak diadukan pada Robby. 


Alam belum menjawab, dia justru menyipitkan sebelah matanya. Tidak berselang lama, bibirnya kembali tersenyum samar. 


"Ada syaratnya," ucap Alam tiba-tiba. 


"Syarat?" Kening Zarina berkerut. "Alam mau ajukan syarat apa?" tanyanya kemudian. 

__ADS_1


"Hari ini, Alam mau nginep di rumah papa," kata Alam tanpa ragu sedikitpun. 


__ADS_2