
Seorang korban kecelakaan tunggal itu langsung dibantu oleh guru yang sigap memanggil ambulance. Dafis dilarikan ke rumah sakit terdekat. Alam masih saja menatap ambulance yang membawa korban kecelakaan itu hingga ambulance itu menghilang dari pandangannya.
Seorang guru menghampiri Alam yang terlihat seperti sedang sedih. Kedua netra bocah laki-laki itu telah digenangi oleh cairan bening yang siap meluncur deras.
"Kamu kanapa, Alam?" tanya guru yang mengajar Alam.
"Alam cuma kasihan sama om tadi, Bu."
"Ya sudah, sekarang kita masuk kelas. Doakan saja om tadi agar baik-baik saja," tutur si guru itu.
Alam menurut pada pengajarannya itu. Tempat kejadian perkara yang sempat dipenuhi orang yang berniat menolong maupun orang yang hanya ingin melihat saja itu pun kini sepi.
Sejak melihat korban kecelakaan tadi Alam jadi tidak fokus mengikuti pelajarannya di sekolah. Bocah itu sering kali melamun dan pikirannya masih tertuju pada wajah korban yang sempat dilihat oleh Alam.
Hingga saatnya pulang tiba, Alam tengah berada di halaman sekolah untuk menunggu sang ibu menjemputnya. Lima menit kemudian Zarina sampai di tempat sang putra menimba ilmu.
Wanita itu melihat Alam yang masih berdiam diri di halaman. Zarina sedikit merasa bingung karena biasanya Alam akan langsung berlari menghampirinya ketika dia menjemputnya. Namun, kali ini Alam seperti tidak menyadari dengan kedatangannya.
Akhirnya Zarina turun dari motor kemudian berjalan menghampiri Alam. Hingga Zarina tepat berada di depannya, sorot mata Alam terlihat kosong. Zarina yakin bahwa ada sesuatu yang mengganggu pikiran anaknya itu.
Zarina mendaratkan bokongnya di ruang kosong yang berada di samping Alam. "Alam," panggil Zarina seraya menyentuh bahu putranya pelan.
Alam tersentak kaget saat ada tangan yang menyentuh bahunya. Seketika bocah itu menghiasi wajahnya dengan senyuman.
"Alam kenapa?" tanya Zarina.
"Alam enggak apa-apa, Ma. Cuma lagi mikirin om tadi aja," jawabnya jujur.
__ADS_1
"Om tadi, om siapa yang kamu maksud?" tanya Zarina, kedua alisnya bertaut.
"Tadi ada kecelakaan, Ma. Di depan sana," terang Alam sambil menunjuk tempat dimana terjadinya peristiwa naas itu.
"Alam lihat kecelakaan?" tanya Zarina memastikan.
"Tidak, tapi Alam yang nemuin orangnya pas Alam lagi main sama temen," kelit Alam.
Sebenarnya Alam berbohong, dia sedang tidak bermain dengan teman-temannya. Namun, entah perasaan apa yang tiba-tiba menuntun dirinya untuk berjalan ke tempat kecelakaan tersebut.
"Oh. Ya sudah, biarkan saja. Jangan terlalu dipikirkan, Alam. Doakan saja tidak terjadi sesuatu yang buruk pada om tadi," tutur Zarina menasehati.
"Iya, Ma. Alam doain om tadi, kok!"
"Kita pulang sekarang, yah!"
Dafis sudah diperbolehkan pulang karena kecelakaan itu tidak mengakibatkan luka serius di tubuh laki-laki itu. Hanya kakinya saja yang memang terkilir dan akhirnya membuat jalannya pincang.
Kini Dafis sedang menunggu ojek online yang sudah dia pesan. Sorot matanya terlihat kesal karena sudah lama menunggu, si ojek tidak kunjung sampai.
"Ini semua gara-gara kucing tadi, kalau saja dia tidak nyebrang sembarangan, aku pasti tidak akan kecelakaan!" gerutu Dafis yang justru menyalahkan binatang atas apa yang terjadi padanya.
"Motorku gimana, yah? Besok aku harus kembali ke tempat itu untuk mencari motorku." Monolog Dafis.
Beberapa saat kemudian sebuah motor berhenti tepat di depan Dafis. Dari jaket yang dikenakan oleh si pengendara bisa dipastikan bahwa orang itu adalah seorang ojek online yang sudah dipesan oleh Dafis melalui aplikasi khusus.
"Dengan Bapak Dafis?" tanya si pengendara motor tersebut.
__ADS_1
"Iya, Mas. Kenapa lama sekali?" tanya balik Dafis.
"Maaf, tadi motor saya mogok," ucap si pengendara ojek.
"Ya sudah. Cepat antar saya pulang!" Dafis bangun dari duduknya lalu berjalan perlahan mendekati tukang ojek itu.
Motor melaju setelah Dafis naik ke boncengan. Sesuai tujuan yang tertera di aplikasi, tukang ojek itu mengantar Dafis hingga sampai di depan rumahnya.
Ketika sudah sampai dan motor berhenti, Dafis turun. Laki-laki itu menyodorkan uang untuk membayar biaya ojek.
"Terima kasih, Pak," ucap si tukang ojek ramah.
Dafis langsung pergi meninggalkan ojek itu tanpa menjawab ucapan terima kasih dari orang yang sudah mengantarnya. Dia berjalan pincang masuk ke rumahnya.
Anggita yang baru keluar dari kamar menatap heran sang suami yang berjalan pincang. Dia segera menghampiri laki-laki yang sudah menjadi suaminya selama hampir tujuh tahun itu.
"Kenapa tiba-tiba jalan pincang gitu?" tanya Anggita penasaran.
"Jatuh gara-gara menghindari kucing tadi," jawab Dafis acuh.
"Wah-wah-wah, karma langsung menghampirimu, Dafis. Makanya jangan suka menyakiti hati istri, demi selingkuhan," ujar Anggita yang langsung membuat Dafis naik pitam.
"Jadi kamu yang nyumpahin aku nyusruk ke got, iya?" tanya Dafis dengan nada membentak.
Anggita hanya mengedikkan bahunya lalu membalik badan. Wanita itu berjalan meninggalkan sang suami yang terbawa emosi. Anggita merasa percuma saja berbicara dengan suami yang hanya mau menang sendiri dan tidak pernah menyadari kesalahannya.
"Kalau aku yang nyumpahin, kamu enggak nyusruk ke got, tapi ke jurang sekalian!" teriak Anggita saat sudah menjauh dari Dafis.
__ADS_1
"Gita! Kurang ajar kamu, yah."