
Zarina yang awalnya bersembunyi di balik punggung Robby, kini menampakkan dirinya. Dia geram usia mendengar ancaman dari Dafis. Pria itu tiba-tiba saja meminta Alam yang sudah dia besarkan sendirian.
Wanita cantik dengan dress lengan pendek itu menatap Dafis dengan tajam. "Atas dasar apa kamu tiba-tiba meminta Alam? Dia anakku."
"Dia juga anakku, Zara," balas Dafis tidak mau kalah.
"Cukup, Dafis. Hubungan kita dulu itu tidak benar. Jangan kamu libatkan dia. Aku mohon," pinta Zarina yang tidak ingin Alam tahu kebenarannya.
"Tapi dia juga berhak tahu siapa ayah biologisnya, Zara. Kamu jangan menyembunyikan identitas sebenarnya bahwa dia adalah anakku," balas Dafis. Dia sangat berharap bahwa dia akan memiliki kesempatan dekat dengan putranya.
"Aku enggak akan menyembunyikan identitas Alam, Dafis. Aku pasti akan memberi tahu diam, tapi tidak sekarang."
"Lalu kapan, Za? Aku juga berhak atas diri Alam."
"Aku tidak tahu kapan pastinya, Dafis. Tapi tolong, beri aku waktu," pinta Zarina yang tidak ingin masalah semakin rumit.
"Baik, aku akan beri kamu waktu satu bulan," sahut Dafis.
"Itu terlalu cepat, Dafis," balas Zarina cepat.
__ADS_1
"Kamu mau aku menerima ini sampai Alam dewasa?" Dafis sedikit menaikkan volume suaranya.
"Cukup. Anda jangan menekan istri saya seperti ini. Dia lebih berhak atas diri Alam dari pada kamu, Dafis," potong Robby yang tidak terima Zarina dibentak oleh Dafis.
Tidak ingin suasana semakin panas, Robby menarik pelan pergelangan Zarina untuk pergi dari sana. Umpatan serta teriakan Dafis tidak dihiraukan oleh Robby. Pria itu terus membawa wanita tercintanya untuk meninggalkan Dafis. Mereka bahkan meninggalkan motor Zarina di tempat parkir.
*****
Keduanya pulang ke rumah dengan menggunakan taksi. Selama diperjalanan, Robby terus menggenggam tangan wanita tercintanya. Pria itu berusaha memberikan kenyamanan untuk wanita yang kini tengah dilanda kegelisahan.
"Rin, tenanglah. Aku tetap akan berada di sisi kamu dan Alam. Aku janji, aku tidak akan pernah melakukan kebodohanku yang dulu lagi," ucap Robby yang hanya direspon dengan senyum tipis oleh Zarina.
Tidak lama kemudian taksi yang mengantarkan mereka berhenti saat sudah sampai di tempat tujuan. Robby dan Zarina turun dari kendaraan yang mereka pesan secara online. Sebelum turun dari taksi, Robby sudah lebih dulu membayar sesuai dengan yang tertera di aplikasi. Usai menurunkan kedua penumpangnya, taksi itu kembali melaju.
Robby menggandeng Zarina dengan tangan kanan untuk masuk ke rumah, sedangkan tangan kirinya menenteng kantong plastik berisi bakso. Zarina hanya menurut saat pria itu menggandengnya.
Saat keduanya sudah masuk ke rumah, bertepatan dengan Mariani yang baru saja keluar dari arah dapur. Wanita tua itu berjalan menghampiri Robby dan Zarina.
"Kalian lama sekali beli baksonya. Alam sampai ketiduran," ujar Mariani saat sudah berhadapan dengan Zarina dan Robby.
__ADS_1
"Iya, Bu. Ada masalah tadi." Robby menyerahkan kantong plastik berisi bakso kepada Mariani.
Wanita tua itu menerima kantong plastik yang diberikan Robby dengan kedua alis bertaut. "Masalah apa, Rob?" tanya wanita tua itu penasaran.
Robby menatap Zarina lebih dulu untuk meminta persetujuan wanita itu. Ketika Zarina mengangguk, barulah Robby menceritakan kejadian yang mereka alami tadi.
"Jadi, kalian bertemu dengan ayah kandung Alam?" tanya Mariani kaget usai mendengar cerita Robby.
"Iya, Bu. Lelaki itu meminta hak atas diri Alam," balas Robby.
Mariani beralih menatap Zarina. "Kamu pernah memberi tahu pria itu tentang kehamilan kamu, Rina?" tanya Mariani.
"Tidak pernah, Bu. Selama ini Rina justru menyembunyikan Alam dari siapapun. Itulah sebabnya di media sosial Rina tidak ada satupun foto Alam," jawab Zarina seadanya.
"Kalau gitu, dia tahu tentang alam dari siapa?"
"Menurut Robby, dia sampai memiliki salinan tes DNA Robby dan Alam, itu artinya dia memiliki bukti tersebut dari seseorang yang dekat dengan kita, Bu."
"Tidak salah lagi. Ini pasti ulah Tania," ucap Mariani dengan yakin.
__ADS_1