
Alam merentangkan kedua tangannya, berharap Robby akan menangkap serta mengangkatnya ke atas persis seperti adegan yang kerap dia lihat di televisi. Namun, sang ibu justru menahannya agar tidak melakukan hal tersebut. Zarina paham dengan apa yang akan dilakukan oleh putranya, untuk itulah dia menahan Alam karena merasa tidak enak pada Robby.
Seketika raut wajah Alam sedikit murung ketika sang ibu justru menahannya. Anak kecil itu menatap sang ibu dengan sorot mata penuh harap.
"Rin, biarkan saja!" seru Robby yang paham dengan isi hati anak kecil itu. "Alam, ke sini, Sayang," ucap Robby dengan senyum rupawan.
Meski ragu, Zarina melepaskan pegangan tangannya pada Alam. Membiarkan anaknya itu berlari ke arah Robby yang kini berlutut dengan tangan terbuka, siap untuk menyambut Alam ke dalam pelukannya.
Tanpa membuang waktu, Alam benar-benar masuk ke dalam dekapan laki-laki dewasa yang dia pikir adalah ayah kandungnya. Hati Alam kini berbunga-bunga setelah mengetahui bahwa dia masih memiliki seorang ayah yang sejak dulu didambakan.
Zarina menatap kedekatan Robby dan Alam dengan perasaan haru. Sedangkan Dafis, dia mengepalkan tangannya saat melihat keakraban dua laki-laki berbeda generasi itu.
"Awas saja. Aku akan membalasmu wanita sial*n!" Dafis membatin dengan penuh amarah.
Dia memutuskan untuk pergi dari sana. Amarahnya memuncak saat melihat ketiga orang itu berlagak seperti keluarga bahagia.
__ADS_1
Sementara itu, Zarina ikut mendekat pada kedua laki-laki yang begitu berharga untuknya. Meski senang melihat keakraban Alam dan Robby, tetapi Zarina masih saja merasa ada yang mengganjal di hati.
"Alam, sudah, ya, Nak!" tegur Zarina pada anaknya.
Alam menuruti perintah sang ibu. Dia melerai pelukannya pada tubuh kekar Robby. Namun, kini tatapan anak itu berubah saat mengingat bahwa selama ini ternyata sang ibu sudah membohonginya.
"Kenapa mama berbohong?" tanya Alam tiba-tiba.
Robby dan Zarina sampai terkejut saat tiba-tiba Alam menuduh sang ibu telah berbohong. Mereka belum terpikirkan bahwa Alam kini berpikir bahwa Robby adalah ayah kandungnya.
Bibir Alam sedikit bergetar menahan tangis. Dia tidak menyangka sang ibu akan menyembunyikan kebenaran itu hingga dirinya sebesar ini.
"Kenapa mama tidak bilang kalau Om Robby adalah papa Alam?"
Seketika Zarina menatap Robby dengan ekspresi bingung. Dia tidak tahu harus menjawab ucapan Alam dengan cara apa? Jika dia katakan Robby bukan ayahnya, pasti anaknya ini akan kecewa. Namun, jika dia menjawab iya pun, Zarina merasa tidak enak hati pada sang mantan suami.
__ADS_1
Robby mengusap kepala Alam dengan penuh sayang, lalu memegang kedua bahu Alam. Perlahan-lahan Robby membalik tubuh anak kecil itu untuk menghadap ke arahnya. Aura wajah Robby mampu menghangatkan hati anak berusia lima tahun itu.
"Alam, dengarkan Om Robby baik-baik –"
"Papa, bukan Om!" Alam dengan cepat menyela penjelasan Robby.
Robby tersenyum hangat saat Alam tetap bersikeras memanggilnya dengan sebutan papa. "Baiklah, Alam dengarkan papa baik-baik, Sayang. Ada kalanya orang dewasa tidak diperbolehkan untuk menceritakan masalahnya pada anak-anak. Mama pasti cerita, tapi bukan sekarang, Sayang. Nanti ketika kamu dewasa, mama pasti mengungkap kebenarannya." Robby pelan-pelan berusaha menjelaskan pada anak laki-laki itu agar bisa mengerti keadaan sang ibu.
"Masalah apa, Pa? Kenapa mama tega memisahkan Alam dari papa?" Alam tetap bersikeras ingin tahu.
"Bukan mama yang memisahkan Alam sama papa, tapi papa yang memang butuh waktu untuk berdamai dengan takdir. Alam jangan pernah marah pada mama, ya, Nak." Robby belum menyerah, dia masih berusaha membuat Alam mengerti.
"Jadi papa yang memang tidak ingin hidup bersama Alam?" Anak itu justru semakin salah paham dengan ucapan Robby.
Dia mendorong tubuh laki-laki yang kini dia panggil dengan sebutan papa itu hingga menjauh darinya. Tatapan yang tadi penuh sukacita kini berganti dengan tatapan penuh kekecewaan.
__ADS_1
"Papa jahat! Papa tega ninggalin Alam!" teriak Alam dengan suara lantang. Dia berlari masuk ke dalam rumah meninggalkan Robby dan Zarina yang kini semakin bingung harus melakukan apa agar Alam tidak merasa terbuang.