Anakku Bukan Anak Suamiku

Anakku Bukan Anak Suamiku
Tidak Ingin melihat kami


__ADS_3

"Iya, Bu. Hari ini ulang tahun Alam yang kelima. Kenapa ibu tiba-tiba membahas mereka?" 


"Ibu cuma kasihan sama Rina, Rob. Dia hidup cuma sendirian. Saat menikah dengan kamu, dia sudah hidup sebatang kara," jawab Mariana mengenang nasib malang sang mantan menantu. 


"Udahlah, Bu. Lebih baik nggak perlu bahas Rina lagi. Doakan saja agar dia baik-baik saja bersama Alam," sahut Robby menahan rasa sesak saat kembali mengingat tentang mantan istrinya. 


"Iya, Rob. Maaf," balas Mariana merasa bersalah. 


*****


Zarina dan Alam kini sudah pulang ke rumah. Mereka langsung membersihkan tubuhnya yang sudah terasa lengket. Setelah membersihkan diri, mereka tidur di kamar masing-masing. Meski usianya baru lima tahun, Alam sudah tidur terpisah dari ibunya. 


Mentari pagi kini menyapa bumi. Menghangatkan semua makhluk dari dinginnya malam setelah hujan turun deras. Seorang bocah laki-laki sudah bangun dari tidurnya. Bocah itu bergegas menuju kamar sang ibu. 

__ADS_1


Tangan mungil Alam menggapai handle pintu dan memutarnya, pintu pun terbuka. Kamar itu masih terlihat gelap karena tirai gorden berwarna coklat di kamar tersebut belum terbuka. Alam tersenyum saat melihat gundukan berukuran besar yang ada di atas ranjang kayu sederhana. 


Langkah kecilnya menuntun bocah kecil itu untuk masuk ke kamar sang ibu. Alam lebih dulu berjalan menuju jendela. Tangan mungilnya menarik gorden sederhana yang warnanya sudah sedikit pudar. Mentari pagi menerobos masuk, seketika kamar tersebut pun langsung terang. 


Zarina yang merasa terganggu oleh sinar yang begitu menyilaukan mata pun mengucek kedua matanya. Saat kedua mata Zarina terbuka sempurna, wanita itu melihat bocah laki-laki yang sangat disayangi olehnya sedang berdiri di depan jendela kamar. 


"Alam," panggil Zarina lirih. 


"Mama udah bangun? Maaf Alam buka tirainya biar terang," ucap bocah itu. 


"Gapapa, Alam. Ini jam berapa, yah!" Zarina menggapai ponsel yang tergeletak di meja kayu tidak jauh dari tempat tidurnya. "Wah, sudah setengah enam. Alam hari ini masuk sekolah. Sekarang mandi dulu, yah! Mama masak," sambung Zarina yang langsung di angguki oleh alam. 


Mereka bergandengan keluar dari kamar. Zarina menuju dapur, sedangkan alam masuk ke dalam kamar mandi yang terletak di samping dapur. 

__ADS_1


Beberapa saat kemudian alam keluar dari kamar mandi setelah selesai membersihkan diri. Bocah laki-laki itu memang sudah terbiasa mandi sendiri karena tidak ingin membuat pekerjaan sang ibu semakin berat. 


"Alam pakai seragam dulu ya, Mah," ucap Alam saat melewati dapur. 


"Iya, Sayang. Nasi gorengnya juga udah mau mateng, kok!" 


Alam berlari menuju kamar hanya memakai handuk putih yang membalut tubuhnya. Bocah itu segera mengambil dan memakai seragam sekolah. Alam yang tahun ini baru masuk Taman Kanak-kanak segera bersiap. 


Bocah pintar itu kembali berjalan menuju dapur untuk menghampiri sang ibu. Ketika berada di ambang batas antara dapur dan lorong menuju ruang tamu, Alam menghentikan langkah ketika samar-samar mendengar suara ibunya. 


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Alam pasti sangat ingin bertemu dengan papanya, tapi aku tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya," monolog Zarina, wanita itu duduk di kursi meja makan. 


"Memang apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa papa tidak pernah menemui aku dan mama? Apa salah kami sebenarnya sampai papa tidak ingin melihat kami," gumam Alam dengan suara sendu. 

__ADS_1


__ADS_2