Anakku Bukan Anak Suamiku

Anakku Bukan Anak Suamiku
Ulang Tahun Alam


__ADS_3

Seorang wanita cantik tengah sibuk menghias kue tart spesial yang dibuat dengan tangannya sendiri untuk seseorang yang sangat berharga dalam hidupnya. Kue tart sederhana bergambar karakter Doraemon itu dihias oleh si wanita dengan semangat yang membara. 


"Mama," panggil seorang anak laki-laki berusia kira-kira lima tahun. 


Wanita itu menoleh ke belakang, seketika senyum cerah terbit di bibirnya yang merah dengan polesan lipstik tipis. Dia segera meletakkan peralatan yang sejak tadi dia pakai di atas meja. 


"Alam." Zarina merentangkan kedua tangannya setelah berlutut di lantai untuk menyambut tubuh kecil sang putra yang sedang berlari ke arahnya. 


Alam berlari dengan cepat menghampiri sang ibu. Bocah laki-laki itu langsung masuk ke dekapan hangat ibunya. Beberapa saat kemudian, Zarina melepaskan dekapannya lalu sedikit menjauhkan tubuh sang putra agar tidak terlalu menempel dengannya. 


"Wah, Alam sudah mandi, yah?" tanyanya sambil mencubit pelan pipi mulus bocah laki-laki itu. 


"Sudah, dong! Alam kan mau tiup lilin," jawabnya antusias. 


Zarina tertawa kecil setelah mendengar jawaban dari anaknya. Wanita itu segera memasang wajah sedih yang membuat Alam sedikit heran. 


"Mama kenapa sedih?" tanya Alam penasaran. 


"Mama lupa bikin kue ulang tahun untuk kamu, Alam," ujarnya dengan suara yang sengaja dibuat lebih meyakinkan. 


"Lalu kue itu buat siapa?" tanya Alam menunjuk kue tart yang ada di atas meja. 


Zarina mengalihkan pandangannya sejenak ke arah yang ditunjuk oleh sang putra lalu kembali memandang putranya yang kini mulai berubah ekspresi.


"Itu pesanan orang, Sayang," jawab Zarina yang langsung membuat Alam terlihat kecewa, terbukti bocah itu langsung menundukkan kepalanya. 


"Maaf, Alam. Mama lupa." Zarina memegang dagu bocah itu untuk mengangkat wajah sang putra. 


"Tidak apa-apa, Ma. Alam ngerti, kok!" 

__ADS_1


Jawaban Alam sangat terlihat dewasa meski usianya tahun ini baru masuki lima tahun. Bocah itu sama sekali tidak menangis ataupun merengek seperti anak-anak lain jika keinginannya tidak terpenuhi. Padahal, Zarina tahu, Alam sedang sangat kecewa. Baru kali ini Zarina berakting seolah-olah lupa dengan hari kelahiran sang putra. 


"Alam ikut mama anterin kue ini ke pemiliknya, yah?" 


"Boleh, Ma." 


"Ya sudah, kalau gitu, Alam jaga kuenya dulu, mama mau mandi sebentar." 


"Siap, Ma. Percayain semua sama Alam," ujarnya dengan senyum tipis yang Zarina tahu bahwa senyum itu merupakan senyum paksa. 


"Oke, jagoan Mama." Zarina mengayunkan langkahnya menjauh dari sana lalu bersembunyi di balik dinding pembatas antara dapur dan lorong menuju kamar. 


Alam tetaplah seorang anak kecil, meski bibirnya mampu berucap kata tidak apa-apa. Namun, nyatanya bocah itu tetap penasaran dengan rupa kue tart buatan sang ibu yang ternyata baru diketahui bukan untuknya. 


"Maaf, Ma. Tapi Alam cuma mau lihat aja, kok! Kue buatan mama pasti bagus," gumamnya seraya naik ke kursi untuk melihat rupa kue buatan sang ibu. 


Bocah itu tertegun ketika melihat karakter kartun kesukaannya yang terlukis dengan sangat cantik di atas kue tart tersebut. Tidak hanya itu saja, Alam juga tidak percaya dengan apa yang tertulis di atas kue ulang tahun itu. 


"Ma-ma, ma-ma nger-jain Alam." Alam berkata dengan suara terbata saat sang ibu sudah berada di sampingnya. 


Zarina menarik kursi di samping sang putra untuk lebih dekat dengan anak semata wayangnya yang sudah bukan lagi balita. Anaknya kini sudah besar dan semakin pintar. 


"Maaf, yah! Mama tidak tahu lagi harus merayakan ulang tahun kamu agar lebih terasa meriah dengan cara bagaimana. Selama ini kita hanya hidup berdua," ucap Zarina yang tiba-tiba mellow. 


Alam dengan cepat menghapus air mata yang hampir menetes dari sudut mata sang ibu. Bocah itu sama sekali tidak suka saat sang ibu menangis seperti ini. 


"Maafin ibu, Alam. Kamu harus merasakan hidup seperti ini," ucap Zarina lagi. 


"Ma, mama pasti mau bahas tentang papa lagi, 'kan? Papa yang Alam bahkan tidak tahu namanya siapa. Alam sudah terbiasa hidup seperti ini, Ma. Dengan mama tetap menyayangi Alam saja, itu sudah lebih dari cukup." 

__ADS_1


"Alam." Zarina langsung memeluk tubuh kecil


putranya, wanita itu sangat bersyukur karena di usianya yang masih kecil, pemikiran Alam sudah sangat dewasa.


"Mama jangan menangis!" bisik Alam ditelinga sang ibu. 


Zarina mengangguk kecil. Tangan kanannya buru-buru menyeka jejak air mata dari wajah cantiknya. Zarina tidak ingin nantinya Alam lebih sedih dari dirinya. 


Meski menurut, nyatanya hati Zarina merasa sesak yang amat dalam. Bagaimana tidak, di usianya yang sangat kecil, seharusnya Alam sedang dipuncak kebahagiaan saat ada seorang ayah yang menemaninya bermain dan belajar. Namun, apa yang justru di dapat oleh anaknya benar-benar membuat Zarina merasa menjadi ibu yang jahat. 


"Ya udah, kita tiup lilin dulu, yah!" 


Zarina langsung memasang lilin dengan angka lima lalu menyalakan api di lilin tersebut. Raut wajah sedih dan kecewa yang tadi merusak ketampanan Alam kini sirna sudah, bergantikan senyum sumringah di bibir kecil itu. 


Mereka berdua kembali menyanyikan lagu khas yang sering kali dinyanyikan oleh orang-orang ketika bertambahnya usia. Setelah selesai menyanyikan lagu itu, Alam meniup lilin itu hingga padam. Zarina bertepuk tangan saat sang putra sudah berhasil memadamkan api di kue tart buatannya. 


"Terima kasih, Ma." Alam kembali masuk ke dalam dekapan sang ibu, bocah itu berusaha menyembunyikan matanya yang kini sudah mengembun. 


Alam memang sengaja menyembunyikan perasaan sedihnya karena sesuatu hal yang sampai saat ini sama sekali tidak dipahami olehnya. Beberapa kali dia menjadi sasaran bully teman-temannya yang mengoloknya tidak memiliki ayah. Namun, Alam tidak ingin membuat sang ibu semakin bersedih. 


Tepatnya tahun lalu Alam pernah menanyakan hal yang sama kepada sang ibu. Bocah itu menanyakan keberadaan sang ayah yang sama sekali tidak dia ketahui nama dan rupanya. Sejak kecil, Alam sama sekali tidak pernah melihat sang ibu dekat dengan lawan jenis. 


"Sama-sama, Sayang. Ayo kita potong kuenya!" ajak Zarina sambil mendorong pelan tubuh sang putra. 


Sayangnya Alam masih belum ingin melepaskan diri dari dekapan hangat sang ibu. Bocah yang tidak pernah merasakan bagaimana rasanya mendapat kasih sayang seorang ayah itu masih ingin menikmati waktu berpelukan dengan wanita yang telah melahirkannya. 


"Alam, kenapa, Sayang? Ada sesuatu yang mengganggu kamu?" tanya Zarina curiga. 


"Tidak, Ma. Alam cuma ingin peluk mama lebih lama," jawab Alam semakin mengeratkan pelukannya. 

__ADS_1


"Suatu saat nanti, Alam janji akan mencari keberadaan papa, Ma. Alam akan menanyakan kenapa papa tidak pernah hadir dalam kehidupan Alam." Bocah itu membatin dalam hati, Alam bertekad akan mencari keberadaan sang ayah meski ibunya tidak pernah mau mengungkapkan jati diri ayahnya. 


__ADS_2