
Robby sedang mengendarai mobil untuk mengantarkan Zarina dan Alam. Kedua manusia itu duduk di kursi penumpang. Sesekali Robby melirik mantan istrinya itu lewat spion mobil. Zarina yang sadar bahwa Robby memperhatikan dirinya, justru menundukkan pandangan.
Alam melihat keluar jendela mobil yang sedikit terbuka, memerhatikan jalan yang dilewati olehnya. Menghitung pohon-pohon besar yang tumbuh di pinggiran jalan.
"Alam, jangan seperti itu, Nak. Nanti kamu jatuh," tegur Zarina saat melihat sang putra sedikit melongokkan kepalanya keluar dari jendela.
Alam segera menurut saat mendapat teguran dari ibunya. Bocah itu duduk dengan manis, bibirnya mengulas senyum lebar, hingga deretan giginya terlihat. Zarina menggeleng, kemudian menekan satu tombol hingga kaca jendela naik ke atas. Robby yang tidak ingin Alam kembali mengulangi perbuatan tadi pun mengunci otomatis lewat salah satu tombol di sampingnya.
"Rin, kamu tinggal di mana?" tanya Robby sedikit sungkan, tetapi dia sendiri belum tahu alamat rumah sang mantan.
"Aku tinggal di perumahan Indra Griya nomor sepuluh, Mas," jawab Zarina singkat, dia masih sangat canggung karena pertemuan tidak sengaja mereka.
"Oh sudah pindah dari alamat kamu yang dulu, kamu sudah lama tinggal di sana?" tanyanya lagi.
"Sejak Alam berusia tiga tahun, Mas. Kontrak di tempat lama sudah habis, jadi kami mencari tempat baru," jawab Zarina sekedarnya.
"Pantas saja aku mencarimu di sana tidak pernah terlihat," batin Robby.
Usai menempuh perjalanan cukup lama, mereka akhirnya sampai di sebuah rumah minimalis. Zarina dan Alam turun setelah mobil berhenti di depan rumah. Sementara itu, Robby masih tetap berada di dalam mobil.
"Mau mampir dulu, Mas?" tawar Zarina.
"Lain kali saja, Rin. Aku harus segera berangkat ke proyek," tolak Robby dengan halus.
"Ya sudah. Terima kasih, Mas. Maaf karena sudah merepotkan," ucap Zarina merasa tidak enak hati.
"Enggak apa-apa, aku pergi dulu, yah!"
"Iya, Mas."
"Alam jaga diri baik-baik, ya. Jangan main di jalan raya lagi," ucap Robby kepada Alam sebelum pergi dari sana.
"Baik, Om. Hati-hati di jalan, yah!" seru Alam seraya melambaikan tangan saat mobil yang dikendarai Robby mulai melaju.
*****
__ADS_1
Masih di belahan dunia yang sama, hanya berbeda tempat saja. Seorang wanita sedang duduk di kursi sebuah kafe ternama. Dia menunggu seseorang yang dia ajak bertemu di sana.
Tidak berselang lama ponsel milik wanita itu berdering. Ada panggilan masuk dari nomor yang dia hubungi pagi tadi. Buru-buru wanita itu menekan gagang telepon berwarna hijau hingga panggilan tersambung.
"Hallo," sapanya dengan ramah.
'Mbak di mana? Saya sudah di tempat parkir.'
"Masuk saja! Aku di meja nomor lima," ujarnya memberitahu posisinya.
Panggilan terputus, terlihat seorang wanita berpakaian ketat dengan high heels yang membuatnya terlihat semakin tinggi masuk ke dalam cafe. Wanita itu celingukan mencari seseorang yang memiliki janji temu dengannya.
"Anita!" seru si wanita yang duduk di kursi nomor lima.
Wanita bernama Anita itu menoleh ke arah sumber suara, kemudian kembali melanjutkan langkahnya untuk menghampiri si wanita yang tidak lain adalah kakak dari seorang pria yang berhasil menarik perhatiannya.
"Mbak Tania," sapa Anita seraya menunjuk wanita itu, dia memastikan bahwa dia tidak salah orang.
Meski sudah pernah bertemu dengan wanita itu, Anita masih belum hafal dengan rupa kakak dari laki-laki idamannya. Namun, senyumnya merekah ketika wanita di depannya ini mengangguk.
"Lumayan, sih, tapi enggak apa-apa. Kamu pasti sedang sibuk, kan?"
"Iya, Mbak. Bos memintaku meninjau ulang data-data perusahaan. Hari ini cukup melelahkan tubuh dan pikiran," kata Anita tanpa sadar mengeluh.
"Ya sudah, duduk dulu. Aku udah pesan minum untuk kita." Tania menyuruh Anita untuk duduk, wanita cantik itu menurut, dia duduk di kursi yang berhadapan dengan Tania.
"Kamu wanita pekerja keras, Nit. Pasti sudah punya pacar, yah?" tanyanya berbasa-basi setelah keduanya duduk berhadapan.
Anita tertawa kecil, "Aku terlalu sibuk, Mbak. Sampai aku tidak memiliki waktu untuk mencari pacar. Lagi pula kegagalan yang pernah saya alami membuat saya harus lebih selektif," jawab Anita yang direspon dengan anggukan oleh Tania.
"Wah, aku salut sama kamu, Nit. Kamu sama seperti adikku itu," pujinya sengaja memancing wanita di depannya.
"Ah, Mbak Tania jangan bilang gitu. Aku jadi malu. Mas Robby itu memang sulit untuk dijangkau, Mbak," ucapnya tanpa sadar.
Tania tertawa dalam hati saat umpannya sudah disantap oleh si target. Tinggal dia menarik kail pancingnya saja sekarang.
__ADS_1
"Loh, kamu sudah pernah mencoba mendekatinya?" tanya Tania antusias.
Rona merah muncul dipipi Anita. Membahas tentang Robby membuat dadanya berdebar kencang. Dia adalah laki-laki pertama yang berhasil menarik perhatiannya setelah dia mengalami kegagalan dalam rumah tangga. Sayangnya, laki-laki itu terlalu sulit untuk dijangkau oleh tangannya.
Tania sangat yakin bahwa wanita di depannya ini benar-benar sudah jatuh cinta pada Robby. Melihat reaksi malu-malu Anita, Tania pun meraih tangan Anita yang berada di atas meja.
"Aku akan membantu kamu untuk mendapatkan Robby, Nit. Kamu tenang saja," ujarnya tiba-tiba.
Anita sampai mendongak, menatap wanita di depannya yang memang terlihat serius. Dari ekspresi wajah serta nada bicaranya tidak terlihat sedang berniat bermain-main dengannya.
"Mbak Tania merestui jika saya dengan Mas Robby?" tanyanya dengan perasaan bahagia.
"Tentu saja, kamu wanita baik-baik. Kalian juga sudah lama hidup sendiri, 'kan? Tidak ada salahnya jika kalian bersatu," ucapnya tanpa beban.
"Tapi, Mbak … Mas Robby tidak tertarik padaku," keluhnya saat mengingat bagaimana sikap Robby padanya.
"Tenang saja. Kamu tinggal terima beres. Tapi ada sesuatu yang mungkin harus kamu tahu," ujarnya sedikit ragu-ragu.
"Tentang apa, Mbak?" tanya Anita penasaran.
"Jika kamu sudah mendapatkan dia, jangan pernah khianati dia, Nit. Robby gagal dalam rumah tangga karena mantan istrinya berselingkuh. Wanita itu bahkan sampai hamil anak selingkuhannya," ujarnya memberitahu sebab kegagalan Rumah tangga sang adik.
"Mbak serius? Wanita itu menduakan cinta Mas Robby?" tanyanya dengan nada sedikit tinggi.
Beberapa orang yang berada disekitar sampai menoleh ke arahnya. Mereka menatap sinis Anita yang sudah menganggu kenyamanan mereka dengan suara tingginya.
"Maaf," kata Anita dengan cengiran kuda.
"Kamu, sih. Jangan keras-keras ngomongnya," tegur Tania yang merasa tidak enak karena beberapa orang seperti menatap tidak suka ke arahnya.
"Maaf, Mbak. Aku kaget, loh! Wanita itu bodoh sekali sampai mengkhianati cinta tulus Mas Robby. Padahal, tidak semua laki-laki bisa setia dengan satu cinta," ucap Anita, kepalanya menggeleng pelan.
Lebih parahnya lagi, wanita itu menyembunyikan kebenaran itu, Nit. Dia bersikap seolah-olah anaknya adalah anak Robby. Padahal, entah anak itu berasal dari benih siapa." Tania terlihat sangat kesal saat mengingat hal itu.
"Astaga. Tega sekali wanita itu, Mbak. Pantas saja Mas Robby selalu menjaga jarak dengan wanita-wanita lain. Mungkin dia trauma karena kegagalan itu," timpal Anita.
__ADS_1
"Makanya itu, aku mau menjodohkan kamu sama Robby, Nit. Kamu bersedia, 'kan?"