
Usai ditegur oleh Mariana wanita dewasa itu pun memutuskan untuk pergi, karena merasa telah kalah. Harapannya agar dibela oleh sang ibu ternyata, justru berbanding terbalik. Mariana bukannya memarahi robby tetapi, justru memarahinya.
Kini di ruang tamu berukuran 4x4 itu, hanya ada Mariana dan Robby. Sang ibu menatap anaknya yang saat ini menundukkan kepala.
"Rob, boleh ibu bertanya?" Robby pun mendongak memberanikan diri untuk menatap manik mata sang ibu.
"Kamu benar-benar masih menyimpan perasaan pada mantan istrimu itu?" tanyanya dengan suara pelan.
"Robby tidak tahu, Bu."
"Kalau kamu saja masih ragu. Bagaimana ibu bisa memberikan restu?" tanya Mariana seraya menggelengkan kepalanya. "Ada baiknya kamu pastikan dulu perasaan kamu terhadap Zarina, Rob," lanjutnya memberi saran.
"Jika Robby sudah yakin, apakah ibu mau merestui kami?" tanya Robby hati-hati.
Sebelah sudut bibir wanita tua itu terangkat, membentuk senyum samar. "Kamu sudah dewasa, Rob. Ibu tidak memiliki hak untuk mengatur kehidupan kamu lagi. Kamu sudah lebih dari mampu untuk berpikir hal mana yang terbaik untuk masa depan kamu, 'kan?"
"Tapi … tentang masa lalu Rina yang pernah …."
"Jika kamu mampu menerimanya, kenapa ibu harus keberatan?" potong Mariana bijak.
"Ibu serius?" tanya Robby menatap dalam lawan bicaranya.
Satu anggukan kecil cukup menjadi jawaban atas pertanyaan Robby barusan. Laki-laki itupun bisa bernapas dengan lega setelah memastikan bahwa sang ibu tidak akan melarangnya untuk untuk menjalin kedekatan dengan Zarina.
"Sekarang kamu harus memastikan perasaan kamu dulu, Rob. Apakah rasamu terhadap Zarina masih ada atau memang tumbuh kembali? Semua keputusan ada di tangan kamu sendiri."
...****************...
Esok harinya Robby datang ke rumah mantan istrinya. Dia ingin meyakinkan diri apakah yang dia rasakan saat ini benar-benar rasa cinta atau hanya kasihan pada wanita yang pernah menyandang status istrinya itu. Selain itu, Robby juga ingin mengetahui apakah Zarina juga masih memiliki perasaan yang sama dengannya.
Robby mengetuk pintu rumah berwarna coklat tua itu. Hingga ketukan ketiga, barulah pintu itu terbuka. Muncul Zarina dengan wajah polosnya tanpa make up. Melihat wajah polos itu, Robby tercengang.
Seketika ingatannya kembali pada beberapa tahun silam. Ketika wanita di depannya ini masih menjadi istrinya. Wajah polos ini bisa dia lihat setiap hari tanpa larangan apapun.
"Mas Robby!" panggil Zarina. Wanita itu juga mengibaskan tangannya di depan wajah mantan suaminya.
Robby tersadar setelah Zarina memanggil namanya berulang kali. Dia mengerjap, lalu memasang ekspresi canggung.
__ADS_1
"Mas Robby kenapa?" tanya Zarina heran.
'Ah sial! Kenapa harus ngelamun, sih!'
"Em, tidak apa-apa, Rin."
"Kok melamun?"
Kecanggungan semakin terasa saat ibu. Beruntung tiba-tiba terdengar suara Alam dari dalam rumah. Seketika kedua manusia berlawan jenis itu ikut menatap ke arah sumber suara.
"Alam!" seru Zarina, lalu berlari masuk ke dalam.
Robby yang penasaran dengan apa yang terjadi di dalam pun ikut masuk. Dia mengekori mantan istrinya menuju sebuah ruangan.
"Papa, kenapa papa tinggalin Alam?" Alam bertanya tetapi, matanya masih terpejam sempurna.
"Pa, kembalilah. Alam sayang papa!" seru anak itu masih dengan mata terpejam. Namun, tidurnya gelisah. Kakinya bergerak-gerak terus.
"Ya ampun, Alam!" Zarina yang sempat berhenti di ambang pintu, langsung berlari masuk dan menghampiri sang putra. Begitu juga Robby, dia berdiri di belakang Zarina dengan tatapan tertuju pada Alam.
Seketika rasa bersalah hinggap di hati laki-laki dewasa itu. Jika saja dulu dia tidak menceraikan Zarina, dan berusaha untuk menerima kesalahan sang mantan istri, mungkin Alam tidak akan merasakan kemalangan seperti ini.
"Rin, apa Alam pernah seperti ini sebelumnya?" tanya Robby.
"Tidak, Mas. Selama ini Alam baik-baik saja," jawab Zarina tanpa melepas pandangan dari sang putra.
Robby menyentuh bahu Zarina seraya berkata, "Biar aku coba bangunkan dia, Rin."
Wanita dengan daster rumahan yang melekat di tubuhnya itu menatap sendu sang putra. Detik berikutnya dia pun bangkit guna memberikan ruang untuk Robby mencoba membangunkan Alam.
Usai diberi kesempatan untuk membangunkan Alam, Robby pun duduk di kasur yang ditiduri oleh anak itu. Tangannya mengulur, menyeka keringat yang membasahi kening Alam. Begitu selesai, Robby membelai lembut puncak kepala anak itu.
Belum juga Robby mengeluarkan suaranya, tiba-tiba mata Alam berkedip-kedip. Tidak berselang lama terbuka dengan sempurna. Ketika melihat laki-laki dewasa yang ada di hadapannya, Alam langsung bangkit dan memeluk tubuh tegap itu.
"Papa!" Bibir mungilnya dengan ringan memanggil Robby dengan sebutan itu.
Laki-laki tegap nan kekar itu menyambut pelukan Alam tak kalah erat. Entah kenapa setiap memeluk anak tak berdosa ini, hatinya yang pernah kosong kembali menghangat.
__ADS_1
Napas Alam memburu, dengan dada yang baik turun. Tubuhnya pun berkeringat dingin. Robby berusaha menenangkan anak itu dengan mengusap-usap punggung si bocah.
Beberapa saat berpelukan dengan Robby, kini Alam mulai melerai pelukan ketika melihat tubuh ibunya mematung di belakang punggung lelaki kekar yang dia peluk dengan erat.
Setelah pelukan itu terlepas Alam menatap dalam-dalam wajah tampan laki-laki dewasa di hadapannya. Bibirnya sedikit bergetar saat melihat ekspresi datar dari laki-laki itu.
"Maaf, Om," ucap Alam, dia menundukkan sedikit kepalanya, sebab mengira Robby tidak suka dipanggil papa olehnya.
Kini Robby mengulas senyum samar di bibirnya. Melihat Alam merunduk seperti itu membuat Robby sadar bahwa anak itu sedang kecewa olehnya.
"Kenapa Alam minta maaf?" tanya Robby, tangannya terulur menggapai dagu Alam dan sedikit mengangkatnya.
Kedua netra laki-laki berbeda generasi itu seketika bertemu. Mereka saling tatap satu sama lain. Alam merasa takut jika laki-laki di depannya ini akan marah. Namun, begitu melihat bibir yang semula datar itu tiba-tiba tersenyum hangat, mendadak Alam merasa sumringah.
Meski laki-laki di depannya ini sudah melemparkan senyum secerah mentari pagi, nyatanya Alam belum berani bersikap seperti sebelumnya. Dia masih terus menatap laki-laki yang dia kira adalah ayah kandungnya ini dengan tatapan sayu.
"Apa Om Robby marah kalau Alam panggil Om dengan sebutan papa?" tanyanya dengan hati-hati.
"Kenapa harus marah?" tanya balik Robby kepada anak kecil itu.
Alam tidak dapat menjawab, dia masih membisu dengan pandangan terus tertuju pada laki-laki tampan di depannya. Sejujurnya dalam hati kecil Alam, dia berharap akan mendapatkan kasih sayang yang selama ini begitu ia dambakan.
"Alam kecewa karena Om, ya?" tanya Robby ketika melihat Alam hanya diam saja.
Reflek, Alam mengangguk. Namun, detik berikutnya dia cepat-cepat menggelengkan kepalanya. Robby sampai menahan tawa saat melihat tingkah Alam yang sangat polos.
"Jika Om Robby memberikan satu permohonan. Apa yang akan Alam minta dari Om?" tanya Robby setelah cukup lama menatap wajah sedih Alam.
Alam tampak ragu-ragu. Beberapa kali manik matanya berputar ke kanan dan kiri, laluelirik sang ibu yang juga menatapnya dengan tatapan gamang. Zarina pun takut jika permintaan Alam berkaitan dengan hubungannya dengan Robby.
Paham dengan perasaan Alam saat ini, Robby langsung menangkap wajah Alam dengan tangan besarnya. Dia mengunci pandangan Alam agar hanya fokus pada dirinya saja.
"Tatap Om, Alam. Jangan hiraukan sekitarmu. Ikuti kata hati kamu. Apapun yang kamu minta, Om akan turuti apapun caranya." Robby mengatakan itu dengan tegas.
"Em–"
"Ayo katakan, Alam!" perintah Robby demi meyakinkan keraguan dalam diri anak itu.
__ADS_1
"Kembalilah pada Alam dan mama, Om. Alam ingin keluarga kita lengkap." Akhirnya, kata-kata itu keluar dari bibir mungil anak berusia lima tahun itu.