
"Kenapa Alam tiba-tiba ngomong gitu, Nak? Kalau Om Robby denger gimana?" tanya Zarina dengan lembut.
"Bagus, dong, Mah. Om Robby kan orang baik, Alam juga anak baik, 'kan?"
"Iya, Sayang. Tapi mama enggak enak kalau Om Robby denger," kata Zarina memberi pengertian pada putranya.
"Memangnya Om Robby enggak bakal mau punya anak seperti Alam, ya, Ma? Apa karena Alam nakal?" tanya Alam, wajahnya tiba-tiba murung.
Zarina yang melihat ekspresi murung Alam pun merasa bersalah. Namun, dia juga tidak mungkin membiarkan Alam mengatakan hal itu kepada Robby.
"Bukan gitu, Sayang. Alam anak baik, kok! Tapi –"
Kata-kata Zarina terpotong oleh ketukan pintu dari luar. Dia sempat menatap Alam yang masih saja memasang ekspresi itu. Akan tetapi, Zarina harus segera beranjak karena mendengar suara seseorang yang tidak asing di telinganya.
"Mama buka pintu dulu, di luar ada tamu. Alam lanjutkan makannya, yah!"
Zarina buru-buru berjalan ke depan untuk membukakan pintu tamu tidak diundangnya itu. Jika dari suaranya, Zarina tahu itu siapa. Namun, sebelum melihat rupa, Zarina pun belum yakin akan hal itu. Siapa tahu pendengarannya sedang bermasalah setelah tadi membahas nama seseorang itu bersama Alam.
__ADS_1
Ketika pintu baru saja terbuka, Zarina sempat termangu saat melihat tubuh tegap di hadapannya. Laki-laki yang dulu pernah menjalin rumah tangga bersamanya selama bertahun-tahun itu tiba-tiba ada di depan mata. Entah apa yang diinginkan olehnya, Zarina pun tidak tahu.
"Mas Robby," gumam Zarina dengan tatapan tidak lepas dari laki-laki di depannya.
"Rin," sapa Robby dengan ekspresi canggung.
"Em. Mas Robby, ada perlu apa, Mas?" tanya Zarina ketika dia sudah berhasil menguasai diri.
Ditanya seperti itu oleh Zarina, Robby pun gagap. Dia kebingungan untuk menjawab pertanyaan sang mantan istri. Entah kenapa dia bisa sampai di tempat ini. Padahal, dia sama sekali tidak memiliki niat untuk datang ke rumah seseorang di masa lalunya itu.
"Mas!" tegur Zarina saat Robby hanya diam saja.
"Loh, kok malah tanya. Mas Robby ada perlu apa?" tanya balik Zarina dengan ekspresi heran.
"Emh. Enggak apa-apa, Rin. Cuma ingin lihat keadaan Alam saja," jawab Robby sekenanya.
"Oh, ya sudah. Masuk, Mas!" ajak Zarina, dia sedikit menyingkir dari jalan agar Robby bisa masuk ke dalam.
__ADS_1
Meskipun canggung, tetapi Robby tetap menurut. Dia ikut masuk ke dalam untuk bertemu dengan Alam. Sejak bertemu anak itu, entah kenapa Robby merasa memiliki semangat setelah sekian lama hidup dalam kehampaan.
Ketika kedua manusia dewasa itu sampai di dapur, terlihat Alam sedang mengaduk-aduk makanan tanpa memasukkan sesuappun ke dalam mulutnya. Wajahnya pun masih saja murung seperti saat Zarina meninggalkannya.
"Alam!"
Suara Robby akhirnya membuat Alam sadar dari lamunannya. Anak laki-laki itu langsung tersenyum sumringah saat melihat kehadiran Robby di sana.
"Om Robby!" seru Alam dengan nada bersemangat.
"Hai," sapa Robby sambil melambaikan tangan.
Di luar dugaan, Alam langsung turun dari kursi, kemudian berlari menghampiri Robby yang masih berdiri di lorong menuju dapur. Tidak hanya itu saja, Alam bahkan merentangkan tangannya untuk seolah-olah Robby adalah seseorang yang begitu dia rindukan.
Tidak ingin mengecewakan hati Alam, Robby pun membalas perlakuan hangat Alam dengan langsung berlutut dan menangkap tubuh kecil itu, lalu memeluknya dengan erat. Zarina yang melihat hal itu tentu saja terharu. Dia seperti sedang melihat kehangatan antara ayah dan anak.
"Om Robby datang ke sini pasti mau ketemu Alam, 'kan?" tanya Alam setelah melerai pelukan mereka.
__ADS_1
"Tahu aja, sih, Alam. Om bukan cuma mau ketemu Alam, tapi juga –"
"Mau ketemu mama?" tanya Alam menebak ucapan Robby yang belum selesai itu.