Anakku Bukan Anak Suamiku

Anakku Bukan Anak Suamiku
Anter sekolah


__ADS_3

Robby, Alam, dan Zarina kini tengah berada di meja makan. Mereka sedang menikmati sarapan sederhana yang dibuat oleh Zarina. Nasi goreng kampung dengan telur mata sapi di atasnya.


Suasana terasa begitu syahdu. Kebahagiaan terpancar dari wajah anak laki-laki di sana. Baru kali ini, Alam menikmati makanan bersama dengan kedua orang tua yang lengkap.


Senyum secerah mentari diberikan Alam kepada kedua orang dewasa di sana. Sambil menyendok nasi goreng, lalu memasukkannya ke dalam mulut, Alam terus saja menatap Robby dan Zarina bergantian.


Kebahagiaan yang dirasakan oleh Alam, juga dirasakan oleh Robby. Laki-laki dewasa itu sama sekali tidak pernah menyangka akan mendapat kesempatan untuk berbahagia bersama keluarga kecilnya ini. Meskipun Alam bukanlah darah dagingnya, tetapi Robby sudah bertekad akan mencintai Alam dengan sepenuh hati.


Zarina pun sesekali mencuri pandang ke arah Robby yang duduk berseberangan dengan dirinya. Ketika tidak sengaja kedua pasang mata itu saling bersitatap, keduanya pun melempar senyum canggung.


"Mama, kita akan selalu makan bersama seperti ini, 'kan?" tanya Alam tiba-tiba.


Seketika Zarina dan Robby saling pandang. Wanita itu tentu saja tidak ingin salah menjawab pertanyaan Alam yang sangat sensitif itu. Namun, Robby menganggukkan kepalanya agar sang mantan istri tidak memiliki keraguan lagi.


"Alam berdoa saja, ya, Sayang."


"Iya, Ma. Alam akan berdoa agar papa akan selalu bersama kita," balas Alam seraya menatap Robby dengan binar bahagia.


"Anak pintar," puji Robby, tangannya terangkat untuk membelai puncak kepala anak itu.


"Papa nanti antar Alam ke sekolah, 'kan?" tanya Alam lagi.

__ADS_1


"Alam mau papa anter sekolah?" tanya balik Robby, dan Alam langsung mengangguk penuh semangat.


"Mau, Pa."


"Ya sudah. Sekarang, Alam habiskan dulu sarapannya! Nanti papa anter ke sekolah," perintah Robby dengan lembut.


"Siyap, Pah!" seru Alam dengan gembira.


Zarina tersenyum senang saat melihat putranya begitu bahagia. Setetes air mata lolos begitu saja saat wanita cantik itu berkedip. Apa yang baru saja terjadi, tidak luput dari penglihatan Robby. Laki-laki tampan itu mengulurkan tangannya, kemudian menggapai punggung tangan calon pendamping hidupnya itu.


"Kamu kenapa?" tanya Robby, Zarina yang kini tersadar pun segera menghapus jejak air matanya.


"Aku tidak apa-apa, Mas. Hanya terharu saja," ungkap Zarina tanpa ada yang ditutup-tutupi.


"Terima kasih, Mas," balas Zarina.


*****


Seperti permintaan Alam tadi, kini Robby tengah mengantar anak itu ke sekolahnya. Zarina sendiri tetap berada di rumah, sebab, dia harus menyelesaikan pesanan pelanggannya lebih awal. Pasalnya, Robby tadi mengatakan akan membawa Zarina ke rumah untuk bertemu dengan ibunya.


Alam yang duduk di jok belakang, melingkarkan kedua tangan mungilnya di pinggang Robby. Dia memeluk pria yang dia pikir adalah ayah kandungnya dengan sangat erat. Robby sesekali melihat Alam melalui pantulan spion motornya. Bibir tebalnya tersenyum ketika melihat raut wajah Alam yang begitu bahagia.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, mereka telah sampai di sekolah Alam. Motor yang dikendarai oleh Robby pun berhenti di depan gerbang sekolah itu. Namun, Alam memprotes apa yang dilakukan oleh papanya itu.


"Antar Alam sampai ke dalam, Pa," protes Alam dengan bibir terlipat.


Robby menggeleng pelan, tetapi tetap mengabulkan permintaan anak itu. Dia kembali memutar gas motornya hingga masuk ke halaman sekolah. Robby pun mematikan mesin motornya begitu sudah sampai di dalam.


Alam dengan cepat turun dari motor yang dikendarai oleh Robby. Anak itu mengulurkan tangan kanannya pada si laki-laki dewasa. Robby pun mengerutkan dahinya karena bingung.


"Alam mau papa ikut ke kelas Alam, Pa," ucap Alam dengan jelas.


"Oh, okelah." Robby kemudian turun dari motor, lalu menggandeng tangan Alam yang langsung menuntunnya masuk.


Saat itu sekolah memang sudah sedikit ramai. Banyak anak-anak yang sudah berada di kelasnya. Ketika Alam datang, teman-teman sekelasnya pun menatap Alam dengan ekspresi berbeda-beda.


Alam sengaja mengandeng Robby hingga masuk ke dalam kelasnya. Dia baru berhenti ketika mereka sudah berada di depan beberapa anak-anak yang duduk di bangku sekolah.


"Papa, makasih, ya, udah mau anterin Alam." Dengan sengaja, Alam menaikkan nada bicaranya agar teman-temannya dapat mendengar dengan baik.


Robby sempat bingung, tetapi ketika melihat Alam mengedipkan sebelah matanya, barulah Robby paham bahwa Alam sepertinya sedang ingin memamerkan dirinya di depan teman-teman anak itu.


"Iya, Sayang. Mulai sekarang, papa yang akan antar kamu sekolah," balas Robby yang seketika membuat beberapa anak yang pernah memandang Alam sebelah mata, kini membulatkan matanya, tidak percaya.

__ADS_1


"Alam punya papa?"


__ADS_2