
Zarina akhirnya kalah dengan permintaan Alam. Dia terpaksa menyetujui permintaan anak itu untuk menginap di rumah Robby.
Kini Zarina sedang bersiap-siap di dalam kamarnya. Sementara itu, Alam tengah menunggu sang ibu di ruang tamu. Dari raut wajah anak laki-laki berusia lima tahun itu terlihat sangat antusias.
Suara ketukan pintu disusul dengan suara bariton seorang pria membuat Alam semakin sumringah. Anak itu langsung berlari menuju pintu dan membukanya.
Di depan sana, muncullah sosok tegap yang sejak tadi dinantikan oleh si anak. Senyum ceria mengembang di bibir mungil Alam.
"Papa!" seru Alam seraya merentangkan kedua tangannya.
Robby paham, jika Alam sudah seperti itu artinya dia memintanya untuk memeluk tubuh mungil Alam. Pria dewasa itu pun langsung melakukan hal tersebut agar Alam tidak kecewa.
Robby meraih Alam ke dalam gendongannya. Menghujani kedua pipi tembam Alam dengan kecupan. Anak itu tergelak saat Robby masih saja menciumnya.
"Papa, geli," ucap Alam disertai gelak tawa kecil.
"Geli, ya?" tanya Robby, dia segera menghentikan kegiatan favoritnya itu.
"Iya, Pa," balas Alam seraya mengangguk dua kali.
"Habis Alam gemesin, sih!"
"Iya, dong. Kan anak papa," balasnya dengan percaya diri.
Robby pun mengangguk setuju, lalu membelai puncak kepala Alam penuh sayang. Pria dewasa itu menatap ke arah belakang, guna mencari keberadaan Zarina. Hal itu tidak luput dari perhatian Alam.
"Papa cari mama, ya?" tanya Alam seraya mengedipkan sebelah matanya.
"Iya, mama mana, Sayang?" tanya Robby seraya mencubit gemas hidung mancung Alam.
"Di kamarnya, Pa. Lagi dandan biar cantik," jawab Alam dengan berbisik.
__ADS_1
Dibisiki oleh Alam tepat di telinga membuat Robby tergelak. Dia mengelus telinganya yang terasa geli.
"Alam sudah pintar menggoda, ya," ucap Robby bergurau.
"Enggak, Pa. Mama memang cantik, 'kan?" tanya anak itu polos.
"Iya, Sayang," jawab Robby, dia berjalan ke kursi ruang tamu, kemudian menurunkan Alam ke kursi dan ikut duduk di sampingnya.
"Pa, kita mau ketemu nenek, ya?" tanya Alam yang tiba-tiba mengingat ucapan sang ibu.
"Iya, nenek udah kangen sama Alam," jawab Robby yang langsung membuat Alam semakin gembira.
"Alam enggak sabar mau ketemu nenek, Pa!" seru anak itu antusias.
Pada saat bersamaan, Zarina tiba-tiba muncul dari arah belakang. Wanita dewasa itu tersenyum saat Robby menatapnya. Sedangkan Robby sendiri masih terpaku dengan kecantikan wanita yang dicintainya.
Zarina berjalan mendekati Robby dan Alam. Keningnya mengerut saat melihat ekspresi Robby yang seperti sedang melongo.
"Mas." Zarina sedikit meninggikan volume suaranya. Akan tetapi, Robby belum juga sadar dari lamunannya.
"Mas!" seru Zarina, dia bahkan menepuk pundak pria dewasa itu pelan.
Barulah Robby terkesiap dan sadar dari lamunannya tadi. Pria itu tersenyum ketika menatap wajah cantik Zarina.
"Kamu udah siap?" tanya Robby gugup.
"Iya, Mas. Mau berangkat sekarang?" tanya Zarina lembut.
"Iya. Sekarang aja," balas Robby yang kini mulai dapat mengendalikan diri.
"Sebentar, Mas. Aku ambil tas Alam dulu," ucap Zarina yang langsung berbalik dan masuk ke kamar Alam.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Zarina keluar dengan tas ransel berukuran kecil milik Alam. Di dalam tas itu berisi beberapa pasang pakaian Alam.
"Ayo, Mas!" ajak Zarina.
Mereka pun segera keluar dari rumah. Tidak lupa, Zarina juga mengunci pintu rumah sebelum mereka pergi dari sana. Dengan motor matic milik Zarina, mereka menuju rumah Robby.
...*****...
Mereka akhirnya sampai di rumah Robby. Ketika sampai di rumah, Mariani ternyata sudah menunggu kedatangan mereka di depan rumah. Zarina turun setelah motor yang dikendarai oleh Robby berhenti di pekarangan rumah.
Wanita dewasa itu langsung menghampiri mantan mertuanya itu. Zarina meraih tangan Mariana, lalu mencium punggung tangan keriput itu.
"Ibu," sapa Zarina sopan.
"Rina, kamu sehat, Nak?" tanya ibunda Robby.
"Sehat, Bu. Ibu sehat?"
"Sehat. Alhamdulilah," jawab Mariana.
Alam langsung menyusul sang ibu begitu turun dari motor. Anak itu menatap seorang wanita tua yang tengah berbincang bersama ibunya dengan mata berbinar.
"Nenek!" panggil Alam dengan gembira.
"Alam!" seru Mariani yang langsung berlutut dan merentangkan tangannya.
Alam langsung masuk ke dalam dekapan hangat sang nenek. Mereka berpelukan cukup lama. Mariani menikmati kerinduannya pada bayi yang dulu pernah ia rawat sepenuh hati. Sedangkan Alam, dia menikmati pelukan yang begitu menghangatkan hatinya.
Suasana terasa begitu mengharukan. Robby dan Zarina menatap senang kedekatan Alam dan Mariani. Namun, keharuan itu tidak berlangsung lama.
"Robby! Ngapain kamu bawa mereka ke sini?" Suara lantang seorang wanita seketika menghancurkan suasana haru di sana.
__ADS_1