Anakku Bukan Anak Suamiku

Anakku Bukan Anak Suamiku
Bertemu Kembali


__ADS_3

Zarina berjalan dengan tergesa-gesa disepanjang lorong sebuah rumah sakit ternama di daerahnya. Dia segera mendatangi rumah sakit setelah mendapat kabar dari pihak sekolah bahwa alam kecelakaan. 


"Anggrek nomor tiga," gumam Zarina seraya mengedarkan pandangan untuk mencari ruangan yang sudah diberitahukan oleh suster saat di resepsionis. 


"Itu dia!" seru Zarina setelah menemukan ruangan yang sejak tadi dia cari. 


Zarina berlari menuju ruangan yang menjadi tempat perawatan sang anak. Dia membuka pintu kamar itu dan segera masuk. Zarina terpaku saat melihat putranya terbaring di brankar pasien. Di tangannya tertancap jarum infus, kepala bocah itupun dibalut dengan perban. 


"Alam!" seru Zarina bergegas menghampiri putranya. 


Ketika mendengar suara yang begitu dikenali olehnya, Alam membuka matanya. Bocah laki-laki itu tersenyum saat melihat sang ibu berdiri di sampingnya. 


"Mama," panggil Alam dengan suara lirih. 


Zarina duduk di kursi yang berada di samping brankar yang ditempati oleh alam. Wanita itu memegang tangan putranya yang sedang terulur kepadanya. 


"Apa yang sakit, Sayang? Kepala kamu sakit, yah?" tanya Zarina cemas. 


"Sakit sedikit, Mama. Tapi udah diobati sama dokter, jadi enggak apa-apa," jawab Alam dengan senyum yang tidak luntur dari bibirnya. 


"Sakit sedikit gimana, ini kepala kamu sampai diperban, Alam!" seru Zarina yang merasa anaknya hanya menutupi rasa sakit darinya. 


"Ini cuma kebentur, Ma, udah enggak sakit, kok!" 

__ADS_1


"Terus gimana bisa kamu sampai main bola ditengah jalan?" tanya Zarina yang tiba-tiba ingat dengan informasi yang diberikan oleh guru Alam. 


"Alam enggak main bola, Ma. Alam cuma diminta tolong sama temen buat ambil bola. Bolanya itu berhenti ditengah jalan. Alam udah tengok kanan kiri, enggak ada motor. Pas Alam lagi ambil, tiba-tiba aja ada motor ngebut. Abis itu Alam enggak ingat apa-apa lagi," jelas Alam yang langsung membuat Zarina menghela napas berat. 


"Lain kali jangan pernah ke jalan raya lagi, Alam. Mama takut kamu kenapa-kenapa. Kamu adalah satu-satunya keluarga yang mama miliki," ujar Zarina, matanya sudah mengembun siap meluncurkan cairan bening yang akan membasahi pipi. 


"Maaf, Ma. Alam udah bikin Mama khawatir," sesal Alam kian merasa bersalah. 


"Iya, mama maafin. Tapi jangan ulangi lagi, Sayang. Terus siapa yang bawa kamu ke rumah sakit?" tanya Zarina. 


*****


Robby sendiri sedang berada di resepsionis untuk menyelesaikan administrasi perawatan Alam. Ketika dia sedang berjalan untuk kembali ke ruangan anak yang ditolongnya tadi, Robby baru ingat dengan sesuatu yang terlupa olehnya.


"Hallo, Mas Robby!" Suara yang begitu lembut mengalun menyapa telinga Robby. 


"Hallo, Mbak Anita. Maaf, tadi saya tidak sempat jawab panggilan dari mbak," ujar Robby meminta maaf dan menjelaskan. 


"Tidak apa-apa, Mas. Mas Robby baik-baik saja, 'kan?" 


"Saya baik-baik saja, Mbak. Cuma tadi pas di jalan mau jemput Mbak Anita, ada kecelakaan. Anak kecil ditabrak motor yang mirisnya si pengendara motorpun masih dibawah umur," jelas Robby. 


"Astaga, Mas. Kasihan banget anak itu. Terus gimana keadaan dia sekarang?" tanya Anita. 

__ADS_1


"Sekarang udah enggak apa-apa, Mbak. Ini juga saya mau antar dia pulang," jawab Robby. 


"Ya sudah, Mas Robby tolong urus anak itu dulu, ya. Salam buat anak malang itu," ujar Anita. 


"Iya, Mbak. Maaf, yah! Gara-gara mobil Mbak Anita saya bawa, Mbak Anita pasti telat datang ke kantor." 


"Enggak usah dipikirkan, Mas. Aku ada mobil yang lain, kok!" 


"Em, ya sudah. Saya mau urus anak itu dulu ya, Mbak. Nanti malam mobilnya saya antar ke rumah." 


Robby kembali mengantongi ponselnya setelah panggilan berakhir. Dia bergegas menuju kamar rawat Alam. Laki-laki itu membuka pintu ruang rawat bocah yang ditolongnya itu. 


"Om Robby!" pekik Alam saat seorang laki-laki dewasa masuk ke ruangan rawatnya. 


"Alam, maaf, Om lama ya. Tadi urus administrasi kamu dulu," ujar Robby sambil terus berjalan menuju brankar pasien, Robby sedikit penasaran dengan seseorang yang sedang duduk memunggunginya. 


Tidak lama kemudian, wanita yang duduk disamping brankar pasien itu menoleh. Seketika dua pasang mata dari dua orang dewasa di tempat itu membulat sempurna. 


"Rina!" 


"Mas Robby!" 


"Mama kenal sama Om Robby? Om Robby yang waktu itu Alam ceritain ke mama. Om Robby itu orang baik, Ma." Suara Alam seketika membuat kedua orang dewasa yang sedang saling pandang itu menoleh ke arahnya.

__ADS_1


"Dia mama kamu, Alam?" tanya Robby terkejut.


__ADS_2