
Zarina langsung terdiam dengan mata berkaca-kaca. Ucapan sang putra barusan begitu menyayat hatinya. Zarina sadar, semua ini memang kesalahannya.
"Maaf, Alam. Kamu pasti sangat mendambakan kasih sayang seorang papa," ujar Zarina yang langsung menyadarkan Alam bahwa ucapannya barusan menyinggung perasaan sang ibu.
"Mama, maafin Alam. Alam hanya asal bicara tadi," balas Alam merasa bersalah, apa lagi saat melihat sorot mata ibunya yang terlihat sedih.
"Tidak apa-apa, Alam. Kamu berdoa saja agar Tuhan mempertemukan kamu dengan papa yang baik, yang mau menerima serta menyayangi kamu dengan tulus," tutur Zarina yang langsung di angguki oleh Alam.
"Iya, Ma."
*****
Sebuah mobil mewah berhenti tepat di halaman rumah milik Robby. Si pemilik rumah yang kebetulan sedang mencuci motor di halaman pun merasa sedikit heran. Robby merasa tidak memiliki yang akan datang hari ini, lagi pula dia juga tidak mengenali mobil mewah itu.
Tidak berselang lama dua wanita keluar dari mobil tersebut. Robby mendengus saat melihat siapa yang datang ke rumahnya. Dari pada melayani tamu tidak di undang itu, Robby memilih untuk kembali melanjutkan kegiatannya mencuci motor.
Kedua wanita itu berjalan menghampiri Robby. Sementara itu, Robby memilih acuh dan tidak memperdulikan saat kedua wanita itu berhenti tepat di belakang punggungnya. Robby bersikap seolah-olah dia tidak menyadari kehadiran kedua wanita di belakangnya itu.
"Rob," panggil Tania.
"Hem," jawab Robby acuh.
"Ini ada temen mbak yang mau kenalan sama kamu," ujarnya tanpa rasa malu.
"Lagi, Mbak. Kamu enggak bosen, yah, ikut campur urusanku terus."
Robby masih saja sibuk dengan motor RX-King miliknya. Motor yang hanya menjadi koleksi dan digunakan ketika Robby sedang ingin melampiaskan kekesalan dengan menjelma menjadi seorang pembalap.
Tania terlihat kesal dengan sikap acuh Robby. Sudah berkali-kali dia berusaha mengenalkan adiknya itu dengan teman-teman sosialitanya. Namun, hanya kegagalan yang menjadi hasil akhir.
"Coba kenalan dulu, siapa tahu cocok!" seru Tania kesal.
"Mbak Tania tidak lihat Robby sedang sibuk?"
__ADS_1
Tidak jauh berbeda dengan Tania, wanita yang datang bersamanya itu pun juga tidak kalah kesal. Wanita itu merasa Robby tidak menghargainya.
"Tan, gue pulang dulu aja, deh!" Wanita itu memutuskan untuk berpamitan karena laki-laki yang akan dikenalkan oleh Tania tidak meresponnya dengan baik.
"Loh! Kok pulang. Bentar, kenalan dulu sama Adek gue!"
"Enggak perlu, gue enggak butuh cowok sombong dan jual mahal kaya adek lo!" Wanita itu benar-benar pergi, tidak menghiraukan teriakan Tania.
Robby hanya tersenyum puas ketika mendapat cacian wanita tadi. Lain dengan Tania yang menghentakkan kakinya kesal.
"Kamu itu kapan berubah, sih, Rob? Usiamu itu semakin tua, kamu bahkan belum punya keturunan, tapi sok jual mahal kalau ada cewek yang deketin."
"Emangnya Robby minta Mbak Tania buat mikirin hidup Robby? Enggak, 'kan? Jadi jangan ikut campur." Robby kini beranjak dan meninggalkan Tania yang tengah menahan amarahnya.
"Dasar anak keras kepala!" teriak Tania yang hanya dijawab dengan kedikan bahu oleh Robby.
"Aku harus mikirin cara lain biar Robby mau aku jodohkan dengan salah satu temanku," gumam Tania bertekad.
Wanita itu mengayunkan langkah pergi dari sana. Dengan kedua tangan yang penuh dengan barang-barang belanjaan, Tania pulang ke rumahnya setelah menyetop taksi.
"Rob!" Suara seseorang memanggil namanya.
Robby buru-buru menaruh gelasnya di meja lalu segera melangkah keluar untuk menghampiri seseorang yang memanggilnya tadi. Robby berlari saat melihat sang ibu yang sedang berusaha turun dari ranjang.
"Ibu, mau ngapain?" tanya Robby saat sudah berhasil menahan sang ibu dengan memegangi lengan wanita tua itu.
"Tadi ibu kaya denger teriakan Mbakmu, Rob. Dia ke sini?" tanya Mariana tanpa menjawab pertanyaan Robby lebih dulu.
"Ya biasalah, Bu. Mbak Tania bawa keroco-keroconya ke sini," jawab Robby ambigu.
"Dia mau jodohin kamu sama teman-temannya lagi?" tebak Mariana yang paham dengan ucapan Robby barusan.
"Apa lagi, Bu. Mbak Tania dari dulu kan memang hobby banget buat comblangin Robby sama teman-temannya yang udah tua itu," balas Robby yang membuat Mariana tertawa lirih.
__ADS_1
"Kamu bisa saja, Rob." Mariana memukul pelan lengan putranya.
"Udah ah, nggak usah bahas Mbak Tania. Robby males sama obsesinya itu, Bu."
"Tapi, memangnya kamu benar-benar belum ingin memikirkan soal pendamping, Rob? Usiamu udah semakin bertambah, loh!"
"Usia Robby ya emang makin bertambah, Bu. Tidak mungkin semakin berkurang, 'kan?" godanya kepada sang ibu.
"Maksud ibu itu–"
"Iya, Robby udah makin tua, Bu. Robby tahu, kok!" Robby memotong pembicaraan Mariana.
"Nah, itu kamu sadar," timpal Mariana balik menggoda Robby.
Robby memegang kedua tangan keriput Mariana lalu mengecupnya beberapa kali. "Robby masih ingin fokus berbakti sama ibu, selain itu, Robby masih takut jika nanti harus gagal lagi."
Mariana menatap sendu wajah Robby yang kini terlihat murung. "Kamu jangan memupuk keraguan dalam hati, Rob. Gagal itu sudah biasa, yang penting kamu juga harus belajar dari kegagalan itu. Ibu paham, kegagalan rumah tangga kamu sama Zarina bukan hanya terjadi akibat kesalahan satu orang saja. Kalian sama-sama masih belum dewasa dalam menyikapi masalah rumah tangga," terang Mariana menasehati putranya.
"Robby tahu, Bu. Ini semua karena kami masih sama-sama egois. Kegagalan ini memang tidak murni kesalahan Rina, tapi Robby pun bersalah karena tidak bisa menjadi contoh yang baik untuk dia," ucap Robby mengakui kesalahannya.
"Nah, sekarang kamu harus belajar untuk menjadi lebih baik dengan mengambil pelajaran berharga dari kegagalan kemarin. Jangan sampai nantinya kamu gagal lagi," balas Mariana.
"Makanya mulai sekarang ibu jangan ikut-ikutan Mbak Tania yang maksain Robby untuk cepat menikah, Bu. Tolong, Robby belum siap," pinta Robby kepada Zarina.
"Baiklah, ibu tidak akan memaksa kamu lagi, Rob. Tapi pesan ibu, kamu jangan menutup hati kamu. Sebagai manusia, kita diciptakan berpasang-pasangan. Kamu perlu pasangan untuk menjalani masa tua kamu," tutur Mariana dengan lembut.
"Tapi ibu juga bisa hidup tanpa pasangan. Buktinya ibu tidak menikah lagi setelah ayah meninggal dunia, padahal waktu itu ibu masih sangat muda," protes Robby.
"Tapi ayah meninggal setelah kami memiliki Tania dan kamu. Ibu hidup bersama dengan kalian berdua, anak-anak ibu," jelas Mariana.
"Tapi karena tidak memiliki ayah, ibu jadi berjuang sendirian, 'kan? Pasti tidak mudah menghidupi anak tanpa bantuan suami, 'kan, Bu?"
"Semua itu memang berat, Rob. Tapi sebagai orang tua tunggal, pasti akan berusaha sekuat tenaga untuk memberikan kehidupan yang layak untuk anaknya. Kamu kasihan sama ibu, tapi tidak kasihan sama Rina." Tanpa sadar, Mariana kembali mengungkit perkara Zarina, entah kenapa tiba-tiba hari ini dia teringat dengan menantunya itu.
__ADS_1
"Hari ini harusnya ulang tahun Alam, 'kan, Rob?" tanya Mariana lagi saat Robby masih diam.