
Untuk sejenak kedua pasang mata orang dewasa itu saling tatap. Seketika suasana menjadi canggung setelah sepasang mantan suami istri itu bertemu. Bertahun-tahun lamanya mereka mencoba saling melupakan. Namun, takdir justru mempertemukan mereka kembali, padahal rasa cinta diantara mereka pun belum hilang sepenuhnya.
"Ma, kok malah melamun." Alam membeo, "Mama kenal sama Om Robby?" tanyanya.
Pertanyaan Alam menyadarkan Zarina dari terkejutnya. Dia menoleh lagi pada Alam yang masih menatapnya penuh selidik. Sementara itu, Robby pun belum dapat mengeluarkan suara. Dia masih membingkai tubuh mantan istrinya yang kini semakin kurus, wajahnya pun terlihat pucat pasi.
"Iya, Alam. Mama kenal sama Om Robby," jawab Zarina sekuat tenaga menahan sesak dihati saat melihat kembali laki-laki yang pernah disia-siakan olehnya.
Seketika wajah Alam berbinar, awan cerah dilangit tidak dapat menandingi cerahnya aura yang keluar dari wajah bocah itu.
"Wah, ini kebetulan, atau takdir, Ma," ujar bocah itu, senang.
Robby berjalan ke sisi lain brankar yang ditiduri oleh Alam. Dia melempar senyum kaku saat netranya kembali bertemu dengan sepasang netra yang pernah membuatnya jatuh hati. Begitu pula dengan Zarina, wanita itu hanya mengangguk kecil.
"Om Robby, jangan pandang mama lama-lama, nanti Om jatuh cinta, loh!" seru Alam berseloroh.
Kata-kata yang terlontar dari bibir kecil itu seketika membuat Zarina dan Robby semakin canggung. Keduanya belum juga bertegur sapa. Sejak tadi hanya suara Alam yang memenuhi ruangan bernuansa putih tersebut.
"Alam, jangan bicara aneh-aneh, itu tidak sopan, Sayang!" tegur Zarina yang menciptakan cengiran khas di bibir bocah pintar itu.
"Maaf, ya, Mas. Alam kadang suka asal bicara," kata Zarina, sambil tersenyum getir.
"Tidak apa, Rin. Aku maklum, kok!"
"Tuhkan, Om Robby itu orangnya santai, Mam. Enggak kaya mama, kaku!" seru Alam menyela.
"Alam bisa aja," ujar Robby, tangannya mengacak pelan rambut bocah lucu di depannya. Alam tertawa kecil saat merasakan geli akibat sentuhan lembut dari laki-laki dewasa itu.
Zarina menatap Alam dan Robby bergantian. Dalam hati kecilnya, tentu Zarina membayangkan andaikan saja kejadian yang sedang terjadi di depan matanya itu adalah interaksi kedekatan antara ayah dan anak. Namun, apa yang dipikirkan olehnya hanyalah bayang semu. Kenyataannya kedua laki-laki dihadapannya itu tidak memiliki hubungan darah.
Puas hati bergurau dengan Robby, kini Alam beralih pada sang ibu yang terlihat sedang melamun. Entah apa yang ada dipikirannya? Alam pun tidak tahu.
"Mama!" seru Alam, seketika Zarina terkesiap. "Ya, Alam, kenapa?" tanya zarina.
__ADS_1
"Mama melamun, ya?" tanya balik Alam, seketika Robby pun memandang Zarina.
"Enggak, Alam. Mama cuma sedikit pusing saja," jawab Zarina singkat.
Alam membulatkan matanya saat mengingat bahwa sang ibu sedang sakit pagi tadi. "Oh iya, Mama sakit, yah! Maaf, Ma. Gara-gara Alam, mama jadi harus datang kesin, padahal mama sendiri sedang sakit."
"Kamu sakit, Rin?" tanya Robby menyela. Bukan hanya peduli, Robby sangatlah mengkhawatirkan keadaan mantan istri yang hingga saat ini masih bertahta dihati.
"Cuma enggak enak badan aja, sih, Mas."
"Mumpung kita di rumah sakit, sekalian aja kamu periksa!" perintah Robby, meski sangat khawatir saat mendengar sang mantan sedang sakit. Namun, Robby masih dapat mengendalikan nada bicaranya.
"Enggak usah, Mas. Aku cuma masuk angin, kok! Tadi udah minum obat juga," tolak Zarina lembut, senyum tipis menghiasi wajah pucatnya.
"Minum obat? Kamu belum periksa tapi udah minum obat? Pasti obat yang kamu beli di warung, 'kan?" Suara Robby sedikit meninggi.
Hidup bersama selama bertahun-tahun tentu membuat Robby hapal dengan kebiasaan Zarina yang lebih sering mengonsumsi obat warung yang dibeli tanpa resep dokter.
"Aku cuma masuk angin biasa, Mas. Buat apa periksa? Lagian ini juga aku udah ngerasa lebih baik, kok!"
Alam masih memperhatikan interaksi antara sang ibu dan laki-laki yang kini menjadi temannya itu. Keduanya terlihat memiliki kedekatan khusus. Selama ini, Alam tidak pernah melihat sang ibu berdebat dengan laki-laki manapun. Kata-kata yang keluar dari bibir kedua orang dewasa itu juga membuat Alam sedikit merasa heran.
"Om Robby, sepertinya om sangat paham dengan kebiasaan mama. Apa kalian dulu sedekat itu?"
Zarina terdiam, begitu juga dengan Robby. Mereka sama-sama kebingungan untuk menjelaskan kepada Alam tentang hubungan mereka.
"Ma!" seru Alam yang masih menanti jawaban dari kedua orang dewasa yang menjaganya.
Zarina mendekatkan dirinya pada Alam. "Sayang, jangan bicara macam-macam. Nggak enak sama Om Robby," bisik Zarina ditelinga sang putra.
Robby dapat mendengar bisikan Zarina barusan. Dia mencoba berpikir keras untuk menyusun kalimat yang sekiranya bisa diterima baik oleh seorang bocah usia lima tahun.
"Alam, mama kamu dan Om dulu bersahabat," jawab Robby tiba-tiba, Zarina menoleh sekilas lalu kembali menatap putranya. Zarina berusaha menyembunyikan perasaan sedih di hati.
__ADS_1
"Bersahabat?"
"Iya, Alam. Makanya Om banyak tahu tentang mama kamu," balas Robby, berusaha menyakinkan bocah itu.
"Kalau kalian bersahabat, kenapa Alam sama sekali tidak pernah lihat Om mengunjungi Mama?"
Bukannya merasa puas, Alam justru semakin banyak bertanya. Kini bahkan pertanyaannya sudah semakin sensitif.
"Om Robby bekerja di luar negeri, Alam. Jadi kami kehilangan kontak." Suara Zarina yang menjawab pertanyaan Alam.
"Wah, beneran, Om? Om Robby pernah bekerja di luar negeri?" tanya Alam dengan wajahnya berbinar.
"Hanya sebentar, Alam. Om tidak betah hidup di negara orang," balas Robby yang juga ikut mengarang cerita semu itu.
Alam hendak melempar pertanyaan kembali, tetapi terhenti saat seorang suster masuk ke dalam ruang rawatnya. Kedatangan suster itu bagaikan angin sejuk bagi Robby dan Zarina, karena Alam jadi berhenti bertanya sesuatu yang membuat mereka kebingungan untuk menjawab.
"Selamat sore, Alam," sapa si suster ramah.
"Sore, Kakak cantik," balas Alam menyapa balik suster itu.
"Alam, udah pinter ngegombal, yah!" tegur Zarina, sambil mengulas senyum canggung pada si petugas kesehatan.
"Tidak apa-apa, Bu. Saya memang sengaja membangun interksi dengan setiap pasien anak-anak. Biar mereka tidak tegang meskipun sedang mendapat perawatan di rumah sakit," terang si suster membela Alam.
"Oh, begitu, Sus. Tapi maaf, ya, kalau Alam kadang terlalu agresif. Saya pun heran, dia jarang sekali mau bersosialisasi dengan orang lain, bahkan dengan teman-teman sekolah pun Alam jarang bertegur sapa."
Suster itu mendengarkan ucapan Zarina. Namun, dengan tangan dan mata yang memeriksa keadaan terakhir pasien sebelum dinyatakan bisa pulang.
"Saya lihat Alam ini cool, Bu. Mirip sama papanya," kata si suster yang seketika menciptakan kerutan di kening Zarina.
"Papanya?" tanya Zarina heran, dia terkejut karena merasa tidak mungkin ada orang asing yang tahu tentang ayah dari anaknya.
"Iya, seperti Pak Robby," balas si suster yang seketika membuat Zarina memandang Robby dengan perasaan tidak enak.
__ADS_1
"Maaf, Sus. Pak Robby bukan papanya Alam," jelas Zarina meralat kesalahpahaman yang terjadi.
"Loh, Maaf, Bu. Tapi tadi Pak Robby sendiri yang mengatakan bahwa Alam adalah anaknya," terang si suster, seketika Robby menundukkan kepala karena malu pada mantan istrinya.