
Tania bertemu dengan Dafis untuk melaksanakan niat jahatnya. Dia berniat menghadirkan Dafis dalam kehidupan Zarina agar mantan adik iparnya itu tidak bisa dekat-dekat dengan Robby.
"Kau tahu dari mana kalau anak Zahra bukan anak suaminya?" tanya Dafis meminta penjelasan.
"Aku kakak kandung Robby. Mana mungkin masalah sebesar ini aku tidak mengetahuinya? Apa kau meragukan informasi yang aku berikan? Jika kau tidak percaya, coba datangi saja alamat ini." Tania memberikan Dafis secarik kertas bertuliskan alamat rumah Zarina.
"Kau yakin Zahra tinggal di sana?" tanya Dafis yang belum bisa begitu saja percaya pada wanita asing.
"Kau coba saja. Jika wanita itu tidak ada di sana, kau boleh datang ke rumahku," katanya dengan yakin.
"Baiklah. Aku akan mencoba mencari tahu," pungkas Dafis, kemudian beranjak dari sana.
Usai kepergian Dafis, Tania tertawa licik. Dia tentu saja bahagia karena rencananya akan berjalan dengan baik.
Dafis benar-benar menuju alamat yang diberikan oleh Tania. Meskipun ragu, tetapi Dafis memutuskan untuk mencobanya.
Dia menghentikan motornya tidak jauh dari sebuah rumah sederhana yang diduga merupakan tempat tinggal Zarina. Dia dengan sabar menunggu hingga hampir satu jam berada di tempat itu.
__ADS_1
"Sepertinya wanita tadi hanya membohongiku. Sudah satu jam aku menunggu, tetapi tidak ada tanda-tanda keberadaan Zahra di tempat ini," ucap Dafis mulai putus asa.
Ketika dia hendak menyalakan mesin motor, sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah yang sejak tadi diawasi oleh Dafis. Penasaran, Dafis pun akhirnya menunggu. Netranya membulat saat melihat seorang wanita bersama seorang anak laki-laki berusia lima tahun turun dari mobil.
"Zahra," gumamnya dengan mata fokus pada kedua orang yang mulai berjalan ke halaman rumah.
Begitu mobil yang tadi ditumpangi oleh Zarina dan Alam pergi, Dafis pun bergegas lari ke rumah itu. Dia meninggalkan motornya di tempat dia menunggu lama Zarina.
"Zahra!" seru Dafis yang seketika membuat Zarina menoleh.
"Dafis," gumam Zarina, suaranya tercekat.
"Om yang pernah tabrakan di depan sekolah Alam, Ma. Om itu siapa?" tanya Alam menunjuk Dafis.
"Nak –"
"Bukan siapa-siapa, Alam. Kamu masuk dulu, ya, Sayang. Nanti mama nyusul," ucap Zarina yang tidak ingin Alam mengetahui yang sebenarnya.
__ADS_1
Alam yang memang penurut, langsung masuk ke dalam rumah. Meninggalkan sang ibu bersama laki-laki asing itu.
Usai kepergian Alam, Zarina menatap bingung Dafis yang tiba-tiba mengetahui keberadaannya. Namun, Dafis justru berusaha maju ke depan untuk memeluknya.
"Stop!" seru Zarina ketika paham apa yang akan dilakukan oleh Dafis.
"Ra, kamu enggak kangen sama aku?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Untuk apa aku merindukan orang asing?" tanya balik Zarina dengan nada tidak bersahabat.
"Orang asing? Aku bukan orang asing, Ra. Aku ayah biologis dari anak kamu." Dafis langsung menyerang Zarina pada poin penting itu.
Zarina mendelik, dadanya kembang kempis menahan gejolak emosi yang membara di hati. Ingin rasanya dia memaki Dafis, tetapi hal itu tidak mungkin dia lakukan. Zarina tidak ingin Alam nantinya mendengar keributan yang terjadi antara dirinya dan tamu tak diundang ini.
"Jangan sembarangan kalau ngomong. Alam bukan anak kamu!"
"Lalu dia anak siapa? Bukankah dia anak selingkuhan kamu? Selain bersamaku, kau tidur dengan siapa lagi?" tanyanya dengan nada sarkas.
__ADS_1