
Pagi ini Aisyah bangun seperti hari-hari biasanya, setelah menunaikan shalat shubuh ia langsung saja pergi ke dapur. Di sana Aisyah melihat ibu mertuanya yang juga sudah berkecimpung dengan berbagai alat perang wanita di dapur.
"Ibu, sudah di dapur aja, Aisyah kalah deh sama ibu." Ujar Aisyah ketika sudah berada di samping mertuanya.
Bu Fatimah yang dari jauh sudah melihat Aisyah, hanya tersenyum senang melihat menantu kesayangannya itu.
"Iya dong, ibu gak mau kalah sama kamu, masa ibu yang sudah lebih lama menjabat sebagai seorang istri harus kalah sama kamu yang baru beberapa tahun." Balas Bu Fatimah dengan nada menggoda menantunya itu.
Aisyah pun terkekeh, mendapati balasan dari mertuanya.
"Ibu bisa aja, yasudah sini Aisyah bantu Bu," Aisyah pun mulai membantu mertuanya itu, dengan ikut mengambil pisau dapur dan memotong bahan-bahan sayuran yang sudah tersedia di sana.
Canda tawa pun terdengar dari arah dapur dimana Aisyah dan ibu mertuanya yang sibuk memasak sembari bercanda ria dengan obrolan santainya.
"Oh iya, Adam sudah bangun nak? Ko ibu belum liat sih?" Tanya Bu Fatimah pada Aisyah.
Aisyah yang mendapati pertanyaan itu kini berhenti memotong wortelnya, ia seakan tak tahu harus menjawab apa.
"Aisyah," panggil Bu Fatimah ketika melihat menantunya itu malah bengong.
"Eh, iya Bu." Jawab Aisyah setengah terkejut, ia terbengong karena tak tahu akan keberadaan suaminya itu.
"Aisyah kurang tahu Bu, pasalnya mas Adam tidak tidur dengan Aisyah Bu." Balas Aisyah dengan wajah menunduk.
Seakan merasa malu karena mengatakan kebenaran bahwa suaminya tidak bersamanya malam tadi.
Bu Fatimah yang mendengar jawaban Aisyah, membelalakkan matanya, merasa bersalah dengan pertanyaan yang sudah ia lontarkan.
"Ah, ibu kira Adam tidur dengan kamu tadi malam, maaf yah nak." Ucap Bu Fatimah dengan rasa bersalah, langsung saja Aisyah menggelengkan kepalanya.
"Gakpapa ko Bu, lagipula Aisyah tahu, disini bukan cuma Aisyah istri dari mas Adam, in shaa Allah Aisyah ikhlas menjalani ini semua Bu." Balas Aisyah, mencoba terlihat kuat di hadapan mertuanya.
Bu Fatimah tersenyum sendu melihat Aisyah, menantu kesayangannya. Tak salah dulu ia menjodohkan Adam dengan Aisyah.
"Kamu perempuan yang sangat kuat, ibu tidak salah memilihmu sebagai menantu, Adam sangat beruntung bisa memiliki istri sesabar kamu." Ucap Bu Fatimah, memuji kesabaran Aisyah dalam ujian dalam rumah tangganya.
Aisyah pun hanya bisa tersenyum manis membalas pujian dari ibu mertuanya itu.
"Alhamdulillah, in shaa Allah Bu, in shaa Allah Aisyah akan sabar dan kuat mempertahankan rumah tangga Aisyah dengan mas Adam." Aisyah tersenyum pasti mencoba meyakinkan mertuanya itu.
Bu Fatimah pun membalas senyuman itu, menepuk-nepuk kecil bahu sang menantu, "Ya sudah kamu coba bangunkan suami mu itu, siapa tahu dia belum bangun." Suruh Bu Fatimah akhirnya pada Aisyah.
Aisyah pun mengangguk menuruti perintah mertuanya itu, ia segera menyimpan pisau yang tengah ia pegang, lalu berjalan ke arah kamar yang dimana, mas Adam juga Erika tidur di dalamnya.
Tok,,, tok,,,
Aisyah mencoba mengetuk pintu kamar Erika, sebenarnya ada rasa sedih dan sakit di dadanya. Ia kini mencoba membangunkan suaminya yang tengah tertidur dengan wanita lain.
__ADS_1
Aisyah memejamkan matanya sebentar, ia mencoba mengenyahkan perasaan tak karuan nya itu.
"Mas, mbak," panggil Aisyah memanggil Adam juga Erika.
Tok,,, tok,,,
Ketuk nya lagi, namun masih tak ada balasan dari dalam kamar itu. Sebenarnya banyak pikiran-pikiran yang mengganggunya, Aisyah memikirkan hal-hal yang kini malah membuatnya semakin tersakiti.
Disaat dirinya bersiap untuk mengetuk kembali pintu kamar itu, tiba-tiba pintu itu terbuka dan menampakkan Erika yang kini memakai pakaian yang membuat Aisyah membelalakkan matanya.
"Ada apa yah?" Tanya Erika dengan nada sinis, menatap Aisyah dengan tatapan jijiknya.
"Mas Adam sudah bangun mbak?" Tanya balik Aisyah pada Erika.
Erika yang kini masih memakai lingerie berwarna merah cabainya berdiri dengan percaya diri, ia membuka sedikit pintu kamarnya, memperlihatkan Adam yang masih terlelap tidur di atas ranjang dengan tubuh atasannya yang tak berbusana.
Dan Aisyah sudah tahu pasti apa yang sudah terjadi di antara mereka berdua semalam tadi. Tentu sakit, Aisyah yang melihat suaminya masih terlelap tidur karena kecapean atas kegiatannya malam tadi bersama wanita lain yang kini berdiri di hadapannya.
"Mas Adam masih tidur, dia kecapean, tahu kan kamu suami istri itu yah kalo udh sekamar pasti terjadi kegiatan panas yang menguras energi, makannya mas Adam masih tidur." Ucap Erika dengan nada menyindir, memanas-manasi Aisyah.
Aisyah yang kini hanya bisa menahan tangisnya, merasa hancur. Bagaimana bisa hatinya tak hancur, bayangkan saja jika kamu menjadi dirinya sekarang.
"Ibu menyuruh untuk membangunkan mas Adam, sudah lewat shubuh, mas Adam belum shalat." Ucap Aisyah dengan nada dingin, ia memalingkan wajahnya, enggan melihat suaminya yang masih terlelap.
"Oh, yaudah biar aku yang bangunin, makasih loh udah mau bangunin, maklum lah yah kasian mas Adam kecapean." Ucap Erika lagi, tapi Aisyah hanya tersenyum semu lalu berbalik meninggalkan Erika yang kini tersenyum menang.
"Rasain, emang enak setiap malem di tinggal sama mas Adam." Ujar Erika, merasa menang sudah membuat Aisyah terluka.
Aisyah mendapati suaminya yang tersenyum kepadanya, namun seakan ditusuk beribu pisau, senyumannya bukan menjadi pemanis di pagi harinya, melainkan kembali menoreh goresan luka di hatinya.
Aisyah pun sibuk menyuapi Ali, ia terus saja menghindari tatapan suaminya itu. Setiap Adam bertanya pasti akan Aisyah jawab dengan singkat, membuat Adam merasa aneh dengan sikap istrinya itu.
Setelah selesai sarapan, Aisyah langsung saja mengajak Ali bermain di halaman rumah, ia kembali menghindari Adam yang berada di dalam rumah.
Erika tahu pasti apa yang membuat Aisyah bertingkah seperti itu dan hal itu membuatnya tertawa puas.
Sedangkan Adam kini bingung dengan sikap Aisyah, dirinya merasa tidak melakukan salah apapun, tapi kenapa tiba-tiba Aisyah mencoba menghindar darinya.
Kini Adam mulai mencari keberadaan Aisyah, ia akhirnya menemukan Aisyah yang tengah bermain di halaman belakang rumahnya bersama Ali.
Adam pun berjalan perlahan ke arah mereka yang tak tahu akan kehadirannya. "Hayo, anak Abi lagi ngapain." Ucap Adam ketika sampai di hadapan anak dan istrinya.
Aisyah sedikit terkejut, lagi-lagi Adam mendapati Aisyah yang memalingkan wajahnya enggan menatap dirinya.
"Aisyah," panggil Adam.
"Hmm," jawab Aisyah singkat tanpa menoleh, ia sibuk memegang mainan-mainan kecil yang di bawa Ali.
__ADS_1
Adam menghela nafasnya, "Ali sayang anak Abi, Ali tahu gak Umma kenapa?" Tanya Adam kepada Ali, mencoba menggoda Aisyah.
Ali yang mendapati pertanyaan seperti itu menggeleng kecil, "Emangnya Umma kenapa Abi?" Tanyanya balik kepada Abi nya.
Adam tersenyum sembari mengangkat bahunya, seakan membalas tak tahu apa yang sudah terjadi kepada Umma nya.
"Abi juga gak tahu, cuman dari tadi Abi lihat umat cemberut terus." Balas Adam lagi.
Ali pun menatap wajah Umma nya, Aisyah langsung saja tersenyum melihat wajah khawatir anaknya itu.
"Umma gak cemberut ko Abi." Lanjut Ali ketika melihat Aisyah tersenyum lebar padanya.
"Tapi ko Umma cemberut terus yah sama Abi?" Tanya Adam lagi sembari membawa kedua tangannya menyilang di dada.
Ali tertawa kecil melihat tingkah Abi nya. "Ali gak tahu Abi." Jawab Ali dengan polosnya.
"Apa Abi bikin salah lagi sama Umma?" Sambung Adam, Ali pun mengangkat sebelah alisnya, "Kalo Abi salah ya Abi minta maaf sama Umma." Balas Ali, membuat Adam tersenyum.
Setelah itu Ali pergi membawa mainan pesawatnya, ia berlarian kecil sembari memegang pesawat kecilnya di tangan kanannya seakan terbang di udara.
Adam pun berjalan mendekati Aisyah yang masih terduduk di atas hamparan rumput.
"Aku salah lagi yah," ucap Adam, memulai pembicaraan.
Aisyah menoleh, menatap Adam yang kini menatapnya dengan wajah merajuk. "Mas gak salah apa-apa kok." Balas Aisyah, memang benar adanya Adam tidak melakukan kesalahan apapun.
"Terus kenapa kamu cemberut terus gitu? Kenapa terus menghindar dari aku?" Tanya Adam dengan nada kesal, seakan tak suka jika Aisyah bersikap seperti itu padanya.
"Aku gak menghindar dari kamu ko mas, mungkin cuman perasaan kamu aja." Elak Aisyah.
Namun, Adam tahu bahwa itu semua bohong. Dirinya tahu jika kini Aisyah tengah dalam mood yang kurang baik, tetapi Adam tidak tahu apa salahnya.
"Aku memang marah dan kesal, tapi aku tidak bisa memberitahukannya kepada mas Adam. Bagaimana pun mas Adam sama sekali tidak melakukan hal yang melanggar apapun, ia berhak melakukan hal itu dengan Erika, hanya saja hati ini yang masih tidak rela melihat mas Adam dengan wanita lain." Batin Aisyah sembari terus menatap rerumputan di kakinya.
"Jika aku salah, bicara saja, aku tidak mau kamu terus menghindari aku seperti ini." Ucap Adam, ia membawa wajah Erika untuk menatapnya.
Terlihat jelas dua mata Aisyah yang kini tengah menahan air matanya agar tidak terjatuh. "Katakan, apa salahku?" Sambung Adam.
Aisyah tersenyum sendu, ia menggeleng kecil. "Mas tidak melakukan kesalahan apapun, hanya saja aku yang belum bisa menata hati ini, aku tidak bisa mengenyahkan rasa cemburuku ketika melihat mas dengan mbak Erika." Balas Aisyah, air matanya pun jatuh, tepat disaat Adam menatap kedua matanya.
Raut wajah Adam pun berubah menjadi iba kepada istrinya ini, ia langsung saja mbawa Aisyah ke dalam pelukannya.
"Maafkan mas, mas tahu ini memang sulit, maafkan mas, mas tahu kini mas lebih sering meninggalkan kamu, mas yang salah, tolong maafkan mas." Adam memeluk Aisyah sembari mengusap-usap rambut Aisyah.
Sedang Aisyah kini menangis meluapkan rasa kesal dan amarahnya, di dalam pelukan sang suami.
"Maafkan aku, in shaa Allah aku akan lebih adil lagi, maafkan aku." Ujar Adam, masih terus memeluk Aisyah.
__ADS_1
Tak berniat membalas, Aisyah hanya ingin melepaskan semua gemuruh di dadanya, ketika bayangan saat suaminya masih terlelap dalam ranjang wanita lain terus menerus terbayang dalam pikirannya.
"Apa aku bisa benar-benar ikhlas mas? Apa aku bisa? Mengikhlaskan kamu seutuhnya menjadi suami wanita lain, ya Allah, kuatkan hati hamba ya Allah." Batin Aisyah, dirinya merasa bimbang, apa bisa hatinya ikhlas melihat semua ini.